Welcome to my blog, semoga informasinya bisa bermanfaat ...
Thank's for visit guys...

Minggu, 06 Januari 2019

Laporan Kunjungan Industri PT Air Mancur

BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Di Indonesia pada saat ini industri jamu berkembang cukup pesat. Peningkatan produksi jamu olahan antara lain disebabkan oleh pesatnya pertumbuhan jumlah industrinya. Diperkirakan investasi di bidang industri obat tradisional sangat menjanjikan keuntungan dan masih untuk dikembangkan mengingat potensinya sebagai salah satu unsur pelayanan kesehatan masyarakat. Perkembangan ini didukung oleh semakin tingginya minat masyarakat terhadap jamu tradisional, karena harganya lebih murah dan dipandang lebih aman.
Oleh karena hal tersebut diperlukan adanya pengetahuan yang luas mengenai industri jamu yang berada di Indonesia sehingga masyarakat bisa memilih produk mana yang aman dan dapat digunakan dengan kualitas baik.
Kunjungan industri ini di latar belakangi agar para siswa dapat mengetahui tentang dunia kerja. Selain itu juga agar siswa mendapatkan pengalaman dan wawasan tentang dunia usaha baik khusus maupun umum. Dan kunjungan industri ini dapat mendorong siswa agar lebih semangat belajar untuk dapat mencapai kesuksesan di masa yang akan datang atau peserta didik nantinya dapat memasuki dunia kerja, maka dengan adanya kunjungan industri ini siswa dapat mempunyai gambaran bila nanti akhirnya memasuki dunia kerja.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana perusahaan PT Air Mancur dapat berdiri hingga sekarang ?
2.      Dimana lokasi perusahaan tersebut ?
3.      Apa visi dan misi perusahaan ?
4.      Bagaimana organisasi yang dibentuk perusahaahn tersebut ?
5.      Apa saja fasilitas yang menunjang proses produksi perusahaan ?
6.      Bagaimana mekanisme umum pembuatan produknya ?
7.      Apa saja contoh produk dari PT Air Mancur?



C.    Tujuan Makalah
Sejalan dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan :
1.      Sejarah perusahaan
2.      Lokasi perusahaan
3.      Visi dan Misi
4.      Struktur organisasi perusahaan
5.      Fasilitas dalam menunjang proses produksi
6.      Mekanisme umum pembuatan produk
7.      Contoh produk perusahaan

D.    Manfaat Makalah
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis.
Secara teoritis makalah ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai penambah pengetahuan mengenai jamu umumnya, khususnya pengolahan jamu di PT Air Mancur.

Secara praktis makalah ini diharapkan dapat bermanfaat dalam membantu perkembangan ilmu herbal dan industrinya.


BAB II URAIAN MATERI

A.    Sejarah PT Air Mancur
Perusahaan Jamu Air Mancur pertama kali didirikan oleh L. W. Santoso, Rudi Hendrotanojo dan Kimun Ongkosandjojo pada tanggal 23 Maret 1963 yang berlokasi di sebuah rumah sewa, tepatnya di kampung Pucang Sawit, Surakarta dengan jumlah karyawan 11 orang.
Peralatan yang digunakan masih sangat sederhana dan hampir semua proses dikerjakan secara manual. Perusahaan ini pada mulanya tidak dikenal sama sekali, karena perusahaan ini didirikan atas modal yang sangat minim, disamping itu juga belum tersedianya alat-alat yang modern untuk mengolah ataupun membuat jamu dari bahan alami.

Dengan keuletan dan didukung dengan keterampilan serta ketekunan, maka perusahaan ini dapat memperluas usahanya dengan menyewa mesin giling beserta tempatnya yang terletak di sebuah gudang seng, di desa Cubluk, Wonogiri. Perusahaan jamu ini terus mengalami peningkatan dan kemajuan yang sangat berarti, maka pada tanggal 23 Desember 1963 dibentuklah sebuah perusahaan yang berstatus perseroan terbatas (PT) dengan nama PT. Jamu Air Mancur. Akhirnya pada tanggal 1 Januari 1964 segala pusat usaha di Surakarta dipindahkan ke Wonogiri.
Pada tahun 1966 muncul pemberontakan PKI yang hampir saja melumpuhkan usaha PT. Jamu Air Mancur, namun akhirnya L.W. Santoso sebagai pimpinan perusahaan dapat menyelamatkan usaha tersebut dari kehancuran dan bahkan pada tanggal 1969 mampu mengembangkan perusahaan ini dengan membuat perusahaan baru termegah saat itu di jalan Palem 51 Wonogiri, dari tahun ke tahun perusahaan ini mengalami peningkatan jumlah karyawan.
Selain dengan peningkatan jumlah karyawan dari tahun ke tahun, maka pada tanggal 1973 dimulailah perlusan pabrik di desa Tegal Rejo, Dagen, Jaten, Palur Kabupaten Karanganyar. Karena mendesaknya keperluan kerja maka pada tanggal 24 Februari 1974 Bapak L.W. Santoso meresmikan pabrik di Palur Karanganyar. Karena terus meningkatnya jumlah permintaan dari konsumen akan produk jamu tersebuat, maka pada tahun 1976 dibuatlah pabrik baru di desa Jajar, Kleco, Surakarta. Pabrik tersebut disediakan untuk kegiatan logistik dan laboratorium pembantu PT. Jamu Air Mancur Palur Solo.
Memasuki tahun 2000, PT. Jamu Air Mancur terus berkembang dengan 1.549 karyawan dan telah mendapat sertifikat “Halal” dari Majelis Ulama Indonesia pada tahun 1998, mendapat ISO dari Manufacturing Of Jamu. Pada pertengahan tahun 2000 PT. Jamu Air Mancur telah mengekspor produknya ke Negara Taiwan, Brunai Darussalam, Malaysia, Hongkong, Singapura, Vietnam, Filipina, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Suriname.

B.     Lokasi Perusahaan
PT. Jamu Air Mancur mempunyai beberapa unit yang lokasinya berbeda-beda sesuai dengan fungsinya masing-masing. Lokasi-lokasi dan proses produksi yang dilakukan tersebut adalah:
1.      Unit Kerja Palur, terletak di Desa Tegalharjo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar; untuk pengolahan jamu serbuk dan obat luar dalam bentuk padat sekaligus sebagai kantor pusat.
2.      Unit Kerja Jajar, terletak di Kecamatan Laweyan, Kotamadya Surakarta; untuk pengolahan bahan baku.
3.      Unit Kerja Jetis, terletak di Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar; untuk pengolahan produk kosmetika.
4.      Unit Kerja Klampisan, terletak di Kecamatan Giriwono, Kabupaten Wonogiri; untuk pengolahan jamu ekstrak.
5.      Unit Kerja Pelem, terletak di Kabupaten Wonogiri; untuk pengolahan produk makanan dan minuman.
6.      Unit Kerja Celep, terletak di Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar; untuk proses pengemasan jamu serbuk dan obat luar dalam bentuk padat.
Kantor Pusat PT. Jamu Air Mancur berada di unit Palur yang terletak di Jalan Raya Solo-Sragen Km.7 Desa Tegalharjo, Dragen, Jaten Kabupaten Karanganyar. Luas areal tanah perusahaan di unit Palur sekitar ± 4 ha, meliputi kantor, pabrik, laboratorium pengendalian mutu, perpustakaan, kebun percobaan dan koleksi, aula, ruang olahraga, taman, dan tempat parkir kendaraan.

C.    Visi dan Misi PT Air Mancur
1.      Visi
Untuk menjadi pemimpin pasar di Indonesia dalam produk-produk kesehatan alami.
2.      Misi
a)      Untuk menghasilkan obat-obatan herbal, minuman kesehatan, kosmetik dan suplemen makanan dengan inovasi dalam bahan-bahan alami, nilai tambah tinggi dan manfaat kesehatan kepada masyarakat.
b)      Untuk mencapai kepuasan pelanggan yang tinggi melalui nilai dari produk-produk berkualitas.
c)      Untuk memenuhi Stakeholder melalui pertunjukan perdana di atas rata-rata industri.
d)     Untuk mempertahankan pertumbuhan usaha yang berkelanjutan di atas rata-rata industri, selanjutnya meningkatkan pangsa pasar di kategori produk masing-masing.
e)      Untuk membangun sumber daya manusia yang handal dan kompeten dalam fungsi masing-masing.

D.    Struktur Organisasi Perusahaan
Manajemen PT. Jamu Air Mancur yang berhubungan dengan aktivitas langsung dengan aktifitas produksi di Unit Produksi Palur dibagi menjadi beberapa departemen yang bertangung jawab kepada masing-masing General Manager (GM). Berikut ini adalah bagian dari masing-masing pembagian beserta dengan tugasnya:
1.      Departemen Plan Manager
a)      Merencanakan, mengarahkan dan mengawasi seluruh proses produksi sesuai target yang telah ditentukan.
b)      Menyusun dan melaksanakan rencana mingguan berdasar surat perintah mingguan.
c)      Mengatur kebutuhan karyawan seperti makan siang, poliklinik, dan penggajian (via kasir).
2.      Departemen Quality Control (QC)
Merupakan departemen yang akan menentukan kualitas produk dari PT. Jamu Air Mancur. Departemen QC membawahi Laboratorium Penelitian dan Pengembangan. Komplek laboratorium ini terdiri dari enam buah unsur pokok, yaitu Laboratorium Farmakognosi, Fitokimia, Mikrobiologi, Farmakologi dan Toksikologi, Fabrikasi dan Central Instrumentasi. Sedangkan sarana pendukung terdiri dari 4 unit, yaitu kebun percobaan, koleksi tanaman obat, pemeliharaan hewan dan perpustakaan. Selain bertanggung jawab terhadap  mutu produk yang dihasilkan, departemen ini juga merupakan sebagai penanggung  jawab atas sanitasi perusahaan. Adapun tugas-tugas dari departemen ini adalah sebagai berikut:
a)      Merencanakan, mengarahkan dan mengawasi semua proses QC mulai bahan awal sampai produk siap di pasarkan  sesuai Standar Air Mancur (SAM).
b)      Bertanggung jawab atas pemberian nomor batch.
c)      Melaksanakan pemeriksaan bahan baku jamu dan bahan bantu jamu secara makroskopis dan mikroskopis.
d)     Melaksanakan pemeriksaan efek toksin yang terkandung dalam bahan baku makanan dan minuman.
e)      Melakukan pemeriksaan Central dan Instrumentasi dengan menggunakan metode-metode yang sudah ditentukan atasan untuk memeriksa bahan simplisia, bahan bantu, produk kompetitor dan kemasan.
f)       Membuat prosedur pemeriksaan mikrobiologi dengan menggunakan buku literature untuk tujuan modifikasi.
g)      Bekerja sama dengan SSH dalam pemeriksaan air produksi.
h)      Melakukan pemeriksaan akhir terhadap bahan yang baru dibeli dan bahan retur dari agen dan menggunakan data-data dari laboratorium lain.
i)        Melaksanakan pemeriksaan kualitas bahan baku jamu setelah proses mixer.
j)        Melaksanakan pengolahan administrasi meliputi sistem pelaporan QC dan R&D.
k)      Mengkoordinir pengadaan sarana peralatan QC dan R&D.
3.      Departemen Technical
Bertanggung jawab dalam hal perawatan mesin dan memperbaiki jika ada kerusakan.
4.      Departemen SSH (Safety, Sanitasi, Hygene)
a)      Membentuk gugus keselamatan kerja di seluruh Unit PT. Jamu Air Mancur.
b)      Mengkoordinir pemeriksaan air produksi bekerjasama dengan QC dan PDAM.
c)      Pemeliharaan fasilitas MCK.
d)     Menangani sanitasi Pabrik
5.      Departemen Treasury
a)      Mengarahkan dan mengawasi proses pengolahan seluruh keuangan berkaitan dengan kebutuhan perusahaan
b)      Melaksanakan pembayaran hutang piutang perusahaan, penggajian, dan penydiaan kas beku untuk tiap unit.
c)      Melaksanakan kegiatan administrasi keuangan berkaitan dari agen dan distributor, meliputi data-data tagihan dan surat-surat pembekuan.
6.      Departemen Accounting
a)      Merencanakan, mengarahkan dan mengawasi seluruh administrasi   pembekuan perusahaan dan distributor.
b)      Melaksanakan pengolahan administrasi dan perhitungan pajak  perusahaan.
c)      Menyiapkan faktur pajak standar untuk agen jamu.
7.      Departemen Purchasing
a)      Merencanakan dan mengawasi semua proses pengadaan bahan kebutuhan perusahaan meliputi bahan produksi dan non produksi.
b)      Pengadaan Etiket dan Non Produksi.
c)      Pengadaan bahan Simplisia dan Farmasi.
8.      Departemen PSO (Product Supply Operation)
a)      Melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan penyimpangan bahan baku.
b)      Bertanggung jawab terhadap penyimpangan Etiket.
9.      Departemen Informasi dan Teknologi.
a)      Merencanakan, mengarahkan dan mengawasi proses teknologi informasi di seluruh PT. Jamu Air Mancur.
b)      Mengkoordinir dan mengendalikan pemakaian, pemeliharaan dan perbaikan hardware dan software.
c)      Melaksanakan perawatan dan perbaikan program pengggajian pada SDM di seluruh Unit/Lokasi.
d)     Perawatan seluruh program data resep jamu dan semua produk PT. Jamu Air Mancur.

E.     Laboratorium Perusahaan
1.      Laboratorium Farmakognosi
Pengawasan yang dilakukan meliputi pemeriksaan mutu bahan baku, contohnya penawaran dari suplier bahan baku. Sampel yang akan dibeli diuji keaslian dan kadar kandungan zat berkhasiatnya sesuai dengan yang ditawarkan dan kadar zat berkhasiat yang terkandung memenuhi Standar Air Mancur (SAM). Pemeriksaan menyangkut makroskopis bahan dari bentuk, warna, bau dan rasa dan pemeriksaan makroskopis dengan mikroskop untuk lebih menguatkan dan dapat melihat konsentrasi dalam bahan.  Pengawasan lain yang dilakukan pada saat jamu setengah jadi yang telah distandarisasi, bahan diperiksa secara mikroskopis dengan melihat menggunakan mikroskop bentuk fisik dan konsentrasi dalam bahan campuran. Laboratorium Farmakognosi menentukan bahan baku dan bahan setengah jadi secara fisik apakah sesuai SAM untuk selanjutnya ditandai kelolosan uji farmakognosi untuk dilakukan proses produksi jamu.
Tugas lainnya adalah membuat herbarium basah dan kering dari simplisia yang masih utuh sebagai contoh standar baku PT. Air Mancur. Mengumpulkan data untuk syarat pendaftaran produk jamu baru dan mendokumentasikan tentang tanaman obat dari segi botani baru dan tanaman dari segi botani kultur teknis.  Fungsi Laboratorium Farmakognosi menyangkut determinasi, isolasi dan pemurnian setiap zat yang terkandung dalam simplisia dan melakukan pengembangan pemeriksaan ke arah sintesa dari zat berkhasiat yang telah diisolasi laboratorium Fitokimia.
2.      Laboratorium Fitokimia
Pengawasan bahan baku oleh laboratorium ini yaitu memeriksa kadar zat yang terkandung dalam simplisia secara destruksi, destilasi dan ekstraksi atau sesuai dengan prosedur penetapan sesuai spesifikasi dari masing-masing bahan. Kadar zat yang diperiksa diantaranya adalah kadar tanin, minyak atsiri, minyak lemak, alkaloid, kumarin, kurkumin, dsb. Pemeriksaan kuantitatif untuk bahan baku di laboratorium fitokimia yaitu memastikan kandungan kadar dari simplisia yang sudah distandarisasi sesuai dengan SAM, pemeriksaan di laboratorium ini dilakukan secara reaksi kimia. Pemeriksaan untuk bahan setengan jadi termasuk kontaminasi oleh logam berat, kadar air dan kadar abu. Tugas lain meliputi penentuan berat jenis, rotasi optik, indeks bias, pH zat berkhasiat dari bahan baku serta menetapkan kadar bahan pembantu.
3.      Laboratorium Mikrobiologi
Pemeriksaan mikrobiologi meliputi produk setengah jadi maupun produk jadi. Pemeriksaan produk jamu serbuk dan obat luar dalam bentuk cair antara lain jumlah angka bakteri, jumlah kapang/khamir dan bakteri patogen.
Laboratorium Mikrobiologi unit Palur menggunakan metode hitungan cawan atau Por Plate (metode taburan) untuk memeriksa total mikroba dan untuk mengidentifikasi adanya bakteri Escherichia coli dan  Salmonella.
4.      Laboratorium Fabrikasi
Laboratorium sebagai pusat keluar masuk bahan yang akan diperiksa. Kegiatan yang dilakukan antara lain pemberian nomor batch, kode produksi setelah bahan diperiksa sesuai spesifikasi masing-masing di laboratorium pengawasa mutu dan telah ditandai kelolosan uji. Pemeriksaan untuk produk bentuk serbuk yaitu memeriksa derajat kehalusan memakai cara pengayakan mess 120 atau sesuai spesifikasi serbuk yang dianalisa. Memeriksa derajat kehalusan serbuk, sifat serbuk dalam penyeduhan dan serbuk yang berlendir dalam jangka waktu tertentu.
Untuk produk dalam bentuk kapsul, tablet, pil, obat luar dalam bentuk padat dilakukan uji waktu hancur, uji kekerasan dan keseragaman bobot. Tugas lainnya antara lain memeriksa dan ikuti mengawasi kandungan zat aktif berkhasiat dalam produk dan menentukan tanggal kadaluarsa untuk uji stabilitas. Yang dilakukan lainnya yaitu stabilitas kemasan, pemeriksaan stabilitas fisik dari produk baru yang akan diproduksi.
Laboratorium fabrikasi berfungsi sebagai tempat menyimpan arsip, mencocokkan tiket atau kemasan sesuai SAM (Standar Air Mancur), membuat proses verbal dari arsip laboratorium produk jamu yang akan dimusnahkan.
5.      Laboratorium Sentral Instrumentasi
Sampel yang dikerjakan dilaboratorium Sentral Instrumentasi adalah :
a)      Simplisia (Bahan alam yang siap diproses menjadi jamu)
b)      Produk percobaan dari R & D ( Research and Development)
c)      Produk jadi
d)     Stabilitas produk jadi
e)      Bahan mutu
f)       Kemasan
g)      Produk pesaing

F.     Proses Produksi Jamu
1.      Pengolahan Bahan baku
a)      Sumber bahan
Bahan baku yang diperlukan untuk pembuatan jamu di PT. Jamu Air Mancur diperoleh dari empat sumber yaitu kebun pembibitan PT. Jamu Air Mancur, petani, pemasok dari dalam negeri dan pemasok luar negeri. Sebagian besar bahan baku di peroleh dalam negeri, hanya sedikit yang diimport dari luar negeri, misalnya gadung dan adas dari Cina, mungsi dan akar manis dari India. Bahan-bahan tersebut diimport karena sulit didapatkan di Indonesia atau kualitasnya tidak memenuhi syarat seperti yang diterapkan oleh Standar Air Mancur (SAM). 
b)      Jumlah dan penyediaan
PT. Jamu Air Mancur di dalam memenuhi kebutuhan/penyediaan bahan baku produksi, memasok bahan dari berbagai pedagang. Jumlah dan macam kebutuhan bahan baku yang dipasok untuk tiap tahunnya tidak selalu sama.
c)      Spesifikasi bahan baku
Dalam memproduksi jamu, PT. Jamu Air Mancur menggunakan bahan baku yang alami, baik bahan baku hewani maupun nabati. Bahan baku tersebut sering disebut dengan simplisia. Simplisia adalah bahan alami yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia hewani yang pernah digunakan oleh PT. Jamu Air Mancur adalah ikan gemi, kripik (ayam dan empot ayam). Simplisia nabati yang digunakan untuk produksi PT. Jamu Air Mancur antara lain akar-akaran (akar alang-alangan), kayu-kayuan (kayu ulet), daun-daunan (daun jambu monyet), pokok batang/rimpang (temulawak), biji-bijian (biji botor), bunga-bungaan (bunga cengkeh).

G.    Pengawasan Mutu
Tujuan utama dari pengawasan mutu adalah untuk mengetahui efisiensi yang telah dicapai oleh suatu pabrik dalam melaksanakan proses produksi. Selain itu juga untuk mengontrol jalannya proses produksi sehingga jika terjadi penyimpangan dapat segera dilakukan tindakan-tindakan perbaikan dengan cepat. 
Agar produk yang dihasilkan oleh PT. Jamu Air Mancur tetap terjaga mutunya, maka diperlukan pengawasan mutu yang sesuai dengan standar mutu yang telah ditetapkan perusahaan PT. Jamu Air Mancur yaitu memiliki standar mutu bahan baku yang telah mengacu pada Departemen Kesehatan yang disebut “Standar Air Mancur (SAM)”. Pengawasan mutu dimulai dari bahan baku utama, bahan baku penolong, proses, bahan setengah jadi (produk jamu), dan bahan pengemas. Pengawasan mutu tersebut dilakukan oleh Laboratorium Penelitian dan Pengembangan yang berpusat di unit kerja Palur, Kabupaten Karanganyar.
Laboratorium Penelitian dan Pengembangan terdiri atas 6 buah Laboratorium sebagai unsur  pokok, yaitu Laboratorium Farmakognosi, Laboratorium Fitokimia, Laboratorium Mikrobiologi, Laboratorium Farmakologi, Laboratorium Fabrikasi dan Laboratorium Central dan Instrumentasi.
Pada Laboratorium Fabrikasi dilakukan pemeriksaan terhadap waktu hancur, derajat halus, kadar air, kekerasan, dan keseragaman bobot. Selain itu, laboratorium ini juga mengeluarkan nomor batch dan kode produksi dari produk yang dihasilkan. Nomor batch diberikan apabila produk tersebut telah memenuhi syarat dari pemeriksaan di seluruh laboratorium yang ada. Bahanbahan yang diperiksa pada laboratorium ini antara lain jamu setengah jadi, jamu jadi yang sudah dikemas, pil, tablet, kapsul, Madurasa, kosmetik, dan obat luar.

H.    Sanitasi
1.      Sanitasi Bahan Baku
Sanitasi bahan baku dilakukan dengan cara formalinisasi pada bahan baku yang berupa umbi-umbian, akar/rimpang, dan biji-bijian. Formalinisasi dilakukan di gudang kantor tempat penyimpanan bahan baku yang baru diterima dari pemasok. Biasanya dilakukan setiap 2 minggu sekali dengan cara memanaskan kristal formalin di atas kompor listrik dalam ruang tertup selama 10 jam. Tujuan formalinisasi adalah membunuh mikroorganisme, serangga, dan mengusir hewan pengganggu. Setelah dilakukan formalinisasi akan dilakukan pemeriksaan oleh laboratorium mikrobiologi. Jika formalin tidak kontak langsung dengan bahan baku maka dianggap tidak bahaya.
Selain itu dengan melakukan sortasi. Proses ini dilakukan karena mengingat bahan baku hasil pertanian yang diperoleh dari petani, pengumpul dan pedagang, sehingga dimungkinkan masih banyak mengandung mikroorganisme dan kotoran-kotoran yang masih melekat pada bahan.  Sedangkan fumigasi dilakukan pada bahan  yang berupa daundaunan dengan menggunakan fostoksin dalam bentuk tablet. Fostoksin terdiri dari bahan aktif yang dibungkus dengan kertas dan diletakkan di dekat atau di ruangan yang akan difumigasi.
2.      Sanitasi Ruangan dan Mesin Peralatan 
Sanitasi ruangan produksi dilakukan setiap hari oleh karyawan. Untuk pembersihan dilakukan setiap hari. Setiap dua minggu sekali dilakukan formanilisasi dengan cara memanaskan formalin di atas kompor dengan ruangan ditutup selama 10 jam.  Sanitasi mesin dan peralatan, peralatan produksi dibersihkan secara berkala bersamaan dengan perawatan mesin minimal  satu bulan sekali. Mesin setelah dipakai dibersihkan dengan vacum. Pembersihan mesin dilakukan pada saat pergantian bahan atau racikan.
3.      Sanitasi Karyawan 
Perlengkapan yang dikenakan karyawan antara lain penutup rambut, pakaian kerja, masker, dan sarung tangan. Selama bekerja karyawan wajib memakai alas kaki berupa sandal jepit yang telah disediakan perusahaan. Kesulitan yang dialami perusahaan adalah jika pengawasan yang kurang ketat, karyawan sering kali tidak mau mengenakan perlengkapan kerjanya karena berbagai alasan seperti panas, membuat sulit bernapas, repot dan lain-lain.
4.      Penanganan Limbah
a)      Limbah Padat
1)      Limbah padat yang dihasilkan PT. Jamu Air Mancur berupa :
2)      Sisa empon-empon dan skala percobaan yang dilakukan pihak laboratorium diolah menjadi pupuk kandang.
3)      Sisa-sisa sortasi cara penanganannya dibakar ditempat pembakaran yang selanjutnya dibuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
4)      Ranting yang masih mengandung minyak atsiri dapat dijual kepada umum tetapi tidak pada perusahaan jamu competitor.
b)      Limbah Cair
Limbah cair seperti air pembuangan sisa pencucian alat dan bahan sebelum dibuang ke TPA diendapkan terlebih dahulu. Setelah diendapkan baru dibuang, bagian yang jernih dibuang ke perairan umum tetapi dengan syarat pH netral (6-8). Hasil analisa yang dilakukan ternyata tidak membahayakan lingkungan dan selama ini belum ada keluhan dari masyarakat.
c)      Limbah Lainnya
Limbah lain yang dihasilkan PT. Jamu Air Mancur adalah debu, kotoran dari bahan baku, jamu serbuk yang diterbangkan angin. Untuk itu dibagian penggilingan pada mesin penggiling telah dilengkapi kantung penyaring udara sehingga bisa mengurangi pencemaran debu. Untuk debu yang ada di luar bagian penggilingan  dibersihkan dengan vacuum cleaner.

I.       Contoh Produk
1.      Jamu Obat Dalam

2.      Jamu Obat Luar

3.      Produk Bersalin

4.      Madu



BAB III SIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan, yang berupa bahan dari tumbuhan, bahan dari hewan, bahan mineral, sediaan galenik, atau campuran dari bahan-bahan tersebut, secara tradisional yang telah digunakan berdasarkan pengalaman. PT. Jamu Air Mancur merupakan industri yang mengolah tanaman berkhasiat obat menjadi produk jamu obat dalam, obat luar, minuman kesehatan, kosmetik. PT. Jamu Air Mancur yang dahulu merupakan industri rumah tangga seiring dengan perkembangan zaman kemudian berkembang menjadi perusahaan besar yang menghasilkan produk jamu.

B.     Saran

Makalah yang berjudul “kunjungan industri pt air mancur” tentunya masih jauh dari sempurna. Untuk itu kami harapkan kritik dan saran dari pembaca untuk kesempurnaan makalah ini di masa mendatang. Terimakasih.

Tablet

A. Latar Belakang

Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang banyak diproduksi dan disukai oleh masyarakat karena tablet mempunyai beberapa keuntungan diantaranya adalah ketepatan dosis, mudah cara pemakaiannya, relatif stabil dalam penyimpanan, mudah dalam transportasi dan distribusi kepada konsumen, serta harganya relatif murah. (Banker dan Anderson, 1986).

Hampir semua tablet memerlukan penambahan komponen atau eksipien untuk   berbagai   tujuan   dengan   zat   aktif   dalam   formulasi.   Hal   ini   untuk memperoleh sifat fisik, kimia dan mekanik agar memenuhi persyaratan resmi (farmakope) dan persyaratan industri yang dapat diterima serta untuk membantu dan memudahkan pembuatannya. Dalam formulasi tablet pada umumnya dapat ditambahkan zat pengisi, pengikat, disintegran, lubrikan, glidan, zat warna dan sebagainya, agar memenuhi fungsi farmasetik seperti tersebut diatas. (Siregar dan Wikarsa, 2010).

Bahan tambahan memegang peranan penting dalam pembuatan tablet, diantaranya bahan pengahncur (disintegran). Bahan penghancur berfungsi melawan aksi bahan pengikat dari tablet dan melawan tekanan pada saat pentabletan. Bahan ini akan menghancurkan tablet bila bersentuhan dengan air atau cairan saluran pencernaan (Voigt, 1984).

Karakterisasi dari sifat fisika kimia bahan obat merupakan salah satu langkah penting dalam pembuatan bentuk sediaan padat. Identifikasi sifat kimia, terutama kemurniannya adalah sangat penting. Selain itu, sifat fisik dari bahan aktif farmasetik seperti kelarutan, polimorfisme, higroskopisitas, ukuran partikel, densitas dan lain-lain harus diperhatikan. (Niazi, 2009).


B. Tablet 

Menurut Farmakope Indonesia edisi III tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung putih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang cocok.

Zat tambahan yang dimasukan dalam suatu formulasi memiliki maksud dan fungsi tersendiri, diantaranya

  1. Zat pengisi (diluents) dimaksudkan untuk memperbesar volume tablet, biasanya digunakan Saccharum Lactis, Amylum Manihot, Calcii Phosphas, Calcii Carbonas dan zat lain yang cocok.
  2. Zat pengkiat (binder) dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak, dapat merekat. Biasanya digunakan adalah Mucilago Gummi Arabici 10-20% (Solution Methylcellulosum 5%).
  3. Zat pengahancur (disintegran) dimaksudkan agar tablet dapat hancur dalam perut. Biasanya digunakan Amylum Manihot Kering, Gelatinum, Agar dan Natrium Alganat.
  4. Zat pelicin (lubricant) dimaksudkan agar tablet tidak lekat pada cetakan. Biasanya digunakan Talcum 5%, Magnesia Stearate, Acidum Stearicum.

Dalam pembuatan tablet biasanya ada beberapa macam cara yang digunakan diantaranya dengan granulasi basah, granulasi kering dan kempa langsung. Tablet yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan.
  2. Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil.
  3. Fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik atau mekanik.
  4. Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan.
  5. Waktu hancur dan lahu disolusi harus memenuhi persyaratan.
  6. Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan.
  7. Terbebas dari kerusakan fisik.
  8. Stabilitas fisik dan kimiawi cukup baik selama penyimpanan.
  9. Zat aktif dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu.
  10. Memenuhi persyaratan Farmakope yang berlaku.