Welcome to my blog, semoga informasinya bisa bermanfaat ...
Thank's for visit guys...

Rabu, 18 September 2019

PENENTUAN KADAR GLUKOSA METODE GOD-PAP



1.      Tujuan

Mengetahui kadar glukosa darah



2.      Dasar Teori

Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang juga dikenal sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh (Khomsah, 2008). Tanda awal yang dapat diketahui bahwa seseorang menderita DM atau kencing manis yaitu dilihat langsung dari efek peningkatan kadar gula darah, dimana peningkatan kadar gula dalam darah mencapai nilai 160 - 180 mg/dL dan air seni (urine) penderita kencing manis yang mengandung gula (glucose), sehingga urine sering dilebung atau dikerubuti semut (Khomsah, 2008).



Tipe Penyakit Diabetes Mellitus

Klasifikasi DM menurut American Diabetes Association (1997) sesuai anjuran Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) adalah:

a.       Diabetes Tipe 1 (Insulin Dependent Diabetes Mellitus [IDDM])

b.      Diabetes tipe II (Diabetes melitus tidak tergantung insulin (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus [NIDDM]),

c.       Diabetes Melitus tipe lain

d.      Diabetes Melitus Gestasional (Gestasional Diabetes Mellitus [GDM]) (Cyber Nurse, 2009).



Patofisiologi Diabetes Melitus

a.       Diabetes Tipe I

 Terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel b pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia postprandial (sesudah makan) (Brunner & Suddarth, 2002).

Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar akibatnya glukosa tersebut diekskresikan dalam urin (glukosuria). Ekskresi ini akan disertai oleh pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan, keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Pasien mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsi) (Brunner & Suddarth, 2002).

b.      Diabetes Tipe II

Terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin, yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel. Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel, dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan (Brunner & Suddarth, 2002).

Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam darah harus terdapat peningkatan insulin yang disekresikan. Pada penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun jika sel-sel b tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi diabetes tipe II (Brunner & Suddarth, 2002).

Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas diabetes tipe II, namun terdapat jumlah insulin yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi badan keton. Oleh karena itu, ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe II. Meskipun demikan, diabetes tipe II yang tidak terkontrol dapat menimbulkan masalah akut lainnya yang dinamakan sindrom hiperglikemik hiperosmoler nonketotik. Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat dan progresif, maka awitan diabetes tipe II dapat berjalan tanpa terdeteksi, gejalanya sering bersifat ringan dan dapat mencakup kelelahan, iritabilitas, poliuria, polidipsia, luka pada kulit yang tidak sembuh-sembuh, infeksi dan pandangan yang kabur (Brunner & Suddarth, 2002).

c.       Diabetes Gestasional

Terjadi pada wanita yang tidak menderita diabetes sebelum kehamilannya. Hiperglikemia terjadi selama kehamilan akibat sekresi hormone-hormon plasenta. Sesudah melahirkan bayi, kadar glukosa darah pada wanita yang menderita diabetes gestasional akan kembali normal (Brunner & Suddarth, 2002).



3.      Alat dan Bahan

·         Spuit
·         Tabung reaksi
·         Pipet piston
·         Spektrofotometer
·         Sentrifudge
·         Larutan sampel
·         Reagensia



4.      Prosedur kerja

a.       Ambil sampel melalui pembuluh vena

b.      Masukan ke tabung reaksi

c.       Sentrifudge 20 menit

d.      Ambil tabung baru

e.       Pipet reagensia sebanyak 1000 µl

f.       Tambahkan plasma darah

g.      Diamkan 10 menit, cek di spektrofotometer



5.      Pembahasan

Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian kadar glukosa dalam darah. Glukosa merupakan suatu jenis karbohidrat yang berada di dalam peredaran darah yang penggunaanya diatu oleh insulin. Pengecekan kadar glukosa kali ini dilakukan dengan metode GOD-PAP. Metode ini memiliki akukrasi dan presisi yang baik karena enzim GOD akan lebih spesifik untuk reaksi pertama. Sukarelawan yang akan diambil sampel darahnya tidak mendapatkan treatment khusus terlebih dahulu, sehingga dapat melakukan kebiasaan seperti biasanya yang dilakukan sehari-hari.

Pengambilan sampel darah diambil melalui pembuluh darah vena pada siku sukarelawan, pengambilan pada daerah tersebut dirasa lebih mudah karena pembuluh darah terletak dekat dengan permukaan kulit, ukurannya cukup besar dan tidak ada syaraf yang besar di sekitar area pengambilan darah. Kemudian sampel yang didapat dimasukan ke dalam tabung reaksi dan dilakukan sentrifudge agar plasma darah untuk sampel terpisah dari serum darahnya, pemisahan ini dilakukan berdasarkan perbedaan berat jenis zat. Bagian yang digunakan untuk pengujian adalah plasma darah karena berwarna lebih bening sehingga mudah untuk ditiembus cahaya pada spektrofotometer, selain itu juga pada plasma darah akan terjadi interferen dari protein-protein darah.

Plasma darah hasil sentrifudge ditambahkan dengan reagensia GOD yang mengandung 4-aminofenazon + peroksidase + glukosa oksidase. pada dasarnya  pengujian glukosa dengan metode ini yaitu dapat menentukan glukosa sesudah oksidasi enzimatik oleh glukosa oksidase. Glukosa oksidase (GOD) adalah suatu enzim yang mengkatalisis oksidasi beta-D-glukosa menjadi  glukonolakton yang kemudian karena adanya air akan terhidrolisis menjadi asam glukolonat dan peroksida

Reaksi yang terjadi pada saat pengujian berupa enzim glukosa oksidase (GOD) yang mengkatalisis oksidase glukosa sehingga terbentuk H2O2, yang dengan adanya peroksidase (POD) akan bereaksi dengan fenol dan amino-antipirin. Hasil oksidasi ini akan menimbulkan warna yang kepekatannya seimbang dengan kadar glukosa darah secara fotometrik.

Pengukuran dilakukan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 546nm karena pada panjang gelombang inilah absorbansinya dapat optimal. Sebelum spektrofotometer digunakan ada baiknya dibilas terlebih dahulu agar tidak terkontaminasi oleh zat yang sebelumnya diuji pada alat yang sama. Prinsip dari pengujian ini adalah dengan adanya penembakan panjang gelombang tertentu terhadap suatu senyawa. Cahaya yang ditembakan disini mengandung energi yang akan membuat electron menjadi tereksitasi ke orbital yang lebih tinggi . setelah itu electron akan turun kembali ke ground state sambil melepaskan emisi yang akan diukur oleh alat. Salah satu yang berperan dalam pengujian ini adalah adanya gugus kromofor (ikatan rangkap terkonjugasi) yang dapat menangkap panjanng gelombang tertentu.

Berdasarkan teori kadar glukosa darah yang normal berkisar antara 70-110mg/dl, namun pada praktikum ini kadar glukosanya sangat rendah yaitu 33mg/dl untuk pengukuran pertama dan 35mg/dl untuk pengukuran kedua. Berdasarkan hasil dapat diduga adanya kesalahan dalam pengukuran kadar baik itu berasal dari pemipetan sampel ataupun reagensia yang kurang teliti, adanya zat pengotor lain dalam tabung ataupun memang kadar glukosa sukarelawan yang sedang dalam keadaan rendah. Perlu dilakukan pengujian lanjutan yang lebih akurat dan serius agar didapatkan kadar glukosa darah sukarelawan yang sebenarnya.



6.      Kesimpulan

a.       Pengujian glukosa dengan metode GOD-PAP bekerja dengan cara enzim (GOD) yang mengkatalisis oksidase glukosa sehingga terbentuk H2O2, yang dengan adanya (POD) akan bereaksi dengan fenol dan amino-antipirin

b.      Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah yaitu 33 mg/dl dan 35mg/dl sehingga berdasarkan literature angka tersebut berada dibawah batas normal glukosa darah. Hasil tersebut dapat tejadi karena adanya beberapa faktor kesalahan saat pengujian ataupun kadar glukosa yang memang sedang dibawah normal.



7.      Daftar Pustaka

Mayes PAA. 1984. Biokimia. Jakarta: EGC

Poedjiadi A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: UI press

Wirahadikusumah M. 1995. Biokimia Metabolisme Energi, Karbohidrat Dan Lipid. Bandung: ITB press

Tidak ada komentar:

Posting Komentar