1.
Tujuan
Mengetahui kadar glukosa darah
2.
Dasar Teori
Penyakit
Diabetes Mellitus (DM) yang juga dikenal sebagai penyakit kencing manis atau
penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan
peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem
metabolisme dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon
insulin sesuai kebutuhan tubuh (Khomsah, 2008). Tanda awal yang dapat diketahui
bahwa seseorang menderita DM atau kencing manis yaitu dilihat langsung dari
efek peningkatan kadar gula darah, dimana peningkatan kadar gula dalam darah
mencapai nilai 160 - 180 mg/dL dan air seni (urine) penderita kencing manis
yang mengandung gula (glucose), sehingga urine sering dilebung atau dikerubuti
semut (Khomsah, 2008).
Tipe Penyakit
Diabetes Mellitus
Klasifikasi
DM menurut American Diabetes Association (1997) sesuai anjuran Perkumpulan
Endokrinologi Indonesia (PERKENI) adalah:
a.
Diabetes
Tipe 1 (Insulin Dependent Diabetes Mellitus [IDDM])
b.
Diabetes
tipe II (Diabetes melitus tidak tergantung insulin (Non Insulin Dependent
Diabetes Mellitus [NIDDM]),
c.
Diabetes
Melitus tipe lain
d.
Diabetes
Melitus Gestasional (Gestasional Diabetes Mellitus [GDM]) (Cyber Nurse, 2009).
Patofisiologi
Diabetes Melitus
a. Diabetes Tipe I
Terdapat
ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel b pankreas telah
dihancurkan oleh proses autoimun. Glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat
disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan
hiperglikemia postprandial (sesudah makan) (Brunner & Suddarth, 2002).
Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup
tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar
akibatnya glukosa tersebut diekskresikan dalam urin (glukosuria). Ekskresi ini
akan disertai oleh pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan, keadaan
ini dinamakan diuresis osmotik. Pasien mengalami peningkatan dalam berkemih
(poliuria) dan rasa haus (polidipsi) (Brunner & Suddarth, 2002).
b. Diabetes Tipe II
Terdapat dua masalah utama yang berhubungan
dengan insulin, yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin.
Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel.
Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut, terjadi suatu
rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel. Resistensi insulin
pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel, dengan
demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa
oleh jaringan (Brunner & Suddarth, 2002).
Untuk mengatasi resistensi insulin dan
mencegah terbentuknya glukosa dalam darah harus terdapat peningkatan insulin
yang disekresikan. Pada penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini
terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan
pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun jika sel-sel b tidak
mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin maka kadar glukosa akan
meningkat dan terjadi diabetes tipe II (Brunner & Suddarth, 2002).
Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin
yang merupakan ciri khas diabetes tipe II, namun terdapat jumlah insulin yang
adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi badan keton. Oleh karena
itu, ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe II. Meskipun
demikan, diabetes tipe II yang tidak terkontrol dapat menimbulkan masalah akut
lainnya yang dinamakan sindrom hiperglikemik hiperosmoler nonketotik. Akibat
intoleransi glukosa yang berlangsung lambat dan progresif, maka awitan diabetes
tipe II dapat berjalan tanpa terdeteksi, gejalanya sering bersifat ringan dan
dapat mencakup kelelahan, iritabilitas, poliuria, polidipsia, luka pada kulit
yang tidak sembuh-sembuh, infeksi dan pandangan yang kabur (Brunner &
Suddarth, 2002).
c. Diabetes Gestasional
Terjadi pada wanita yang tidak menderita
diabetes sebelum kehamilannya. Hiperglikemia terjadi selama kehamilan akibat
sekresi hormone-hormon plasenta. Sesudah melahirkan bayi, kadar glukosa darah
pada wanita yang menderita diabetes gestasional akan kembali normal (Brunner &
Suddarth, 2002).
3. Alat dan Bahan
|
·
Spuit
·
Tabung reaksi
·
Pipet piston
·
Spektrofotometer
·
Sentrifudge
|
·
Larutan sampel
·
Reagensia
|
4. Prosedur kerja
a. Ambil sampel melalui pembuluh vena
b. Masukan ke tabung reaksi
c. Sentrifudge 20 menit
d. Ambil tabung baru
e. Pipet reagensia sebanyak 1000 µl
f. Tambahkan plasma darah
g. Diamkan 10 menit, cek di spektrofotometer
5. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian
kadar glukosa dalam darah. Glukosa merupakan suatu jenis karbohidrat yang
berada di dalam peredaran darah yang penggunaanya diatu oleh insulin.
Pengecekan kadar glukosa kali ini dilakukan dengan metode GOD-PAP. Metode ini
memiliki akukrasi dan presisi yang baik karena enzim GOD akan lebih spesifik
untuk reaksi pertama. Sukarelawan yang akan diambil sampel darahnya tidak
mendapatkan treatment khusus terlebih dahulu, sehingga dapat melakukan kebiasaan
seperti biasanya yang dilakukan sehari-hari.
Pengambilan sampel darah diambil melalui
pembuluh darah vena pada siku sukarelawan, pengambilan pada daerah tersebut
dirasa lebih mudah karena pembuluh darah terletak dekat dengan permukaan kulit,
ukurannya cukup besar dan tidak ada syaraf yang besar di sekitar area
pengambilan darah. Kemudian sampel yang didapat dimasukan ke dalam tabung
reaksi dan dilakukan sentrifudge agar plasma darah untuk sampel terpisah dari
serum darahnya, pemisahan ini dilakukan berdasarkan perbedaan berat jenis zat.
Bagian yang digunakan untuk pengujian adalah plasma darah karena berwarna lebih
bening sehingga mudah untuk ditiembus cahaya pada spektrofotometer, selain itu
juga pada plasma darah akan terjadi interferen dari protein-protein darah.
Plasma darah hasil sentrifudge ditambahkan
dengan reagensia GOD yang mengandung 4-aminofenazon + peroksidase + glukosa
oksidase. pada dasarnya pengujian
glukosa dengan metode ini yaitu dapat menentukan glukosa sesudah oksidasi
enzimatik oleh glukosa oksidase. Glukosa oksidase (GOD) adalah suatu enzim yang
mengkatalisis oksidasi beta-D-glukosa menjadi
glukonolakton yang kemudian karena adanya air akan terhidrolisis menjadi
asam glukolonat dan peroksida
Reaksi yang terjadi pada saat pengujian
berupa enzim glukosa oksidase (GOD) yang mengkatalisis oksidase glukosa
sehingga terbentuk H2O2, yang dengan adanya peroksidase
(POD) akan bereaksi dengan fenol dan amino-antipirin. Hasil oksidasi ini akan
menimbulkan warna yang kepekatannya seimbang dengan kadar glukosa darah secara
fotometrik.
Pengukuran dilakukan dengan
spektrofotometer pada panjang gelombang 546nm karena pada panjang gelombang
inilah absorbansinya dapat optimal. Sebelum spektrofotometer digunakan ada
baiknya dibilas terlebih dahulu agar tidak terkontaminasi oleh zat yang sebelumnya
diuji pada alat yang sama. Prinsip dari pengujian ini adalah dengan adanya
penembakan panjang gelombang tertentu terhadap suatu senyawa. Cahaya yang
ditembakan disini mengandung energi yang akan membuat electron menjadi
tereksitasi ke orbital yang lebih tinggi . setelah itu electron akan turun
kembali ke ground state sambil melepaskan emisi yang akan diukur oleh alat.
Salah satu yang berperan dalam pengujian ini adalah adanya gugus kromofor
(ikatan rangkap terkonjugasi) yang dapat menangkap panjanng gelombang tertentu.
Berdasarkan teori kadar glukosa darah yang
normal berkisar antara 70-110mg/dl, namun pada praktikum ini kadar glukosanya
sangat rendah yaitu 33mg/dl untuk pengukuran pertama dan 35mg/dl untuk
pengukuran kedua. Berdasarkan hasil dapat diduga adanya kesalahan dalam
pengukuran kadar baik itu berasal dari pemipetan sampel ataupun reagensia yang
kurang teliti, adanya zat pengotor lain dalam tabung ataupun memang kadar
glukosa sukarelawan yang sedang dalam keadaan rendah. Perlu dilakukan pengujian
lanjutan yang lebih akurat dan serius agar didapatkan kadar glukosa darah
sukarelawan yang sebenarnya.
6. Kesimpulan
a. Pengujian glukosa dengan metode GOD-PAP bekerja dengan cara enzim (GOD)
yang mengkatalisis oksidase glukosa sehingga terbentuk H2O2, yang dengan adanya
(POD) akan bereaksi dengan fenol dan amino-antipirin
b. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah yaitu 33 mg/dl dan 35mg/dl
sehingga berdasarkan literature angka tersebut berada dibawah batas normal
glukosa darah. Hasil tersebut dapat tejadi karena adanya beberapa faktor
kesalahan saat pengujian ataupun kadar glukosa yang memang sedang dibawah
normal.
7. Daftar Pustaka
Mayes PAA. 1984. Biokimia. Jakarta: EGC
Poedjiadi A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: UI press
Wirahadikusumah M. 1995. Biokimia Metabolisme Energi, Karbohidrat Dan
Lipid. Bandung: ITB press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar