BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Kulit adalah
bagian tubuh yang terletak paling luar. Kulit merupakan organ yang essensial
dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Kulit juga sangat
kompleks, elastis dan sensitif, bervariasi pada keadaan iklim, umur, jenis
kelamin, ras dan juga sangat bergantung pada lokasi tubuh. Kulit juga merupakan
pembungkus yang elastik yang melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan.
Paparan sinar
matahari selain menyebabkan efek menguntungkan namun juga memberikan efek yang
merugikan pada tubuh manusia, tergantung pada panjang dan frekuensi paparan,
intensitas sinar matahari serta sensitivitas individu yang terpapar. Manusia
membutuhkan sinar matahari untuk membantu pembentukan vitamin D namun paparan
sinar matahari yang berlebihan dapat menimbulkan efek yang merugikan bagi kulit
manusia karena sinar ultraviolet yang terkandung didalamnya, kerusakan yang
muncul misalnya eritema, sunburn, penuaan dini dan kanker kulit.
Bengkoang adalah
salah satu buah yang populer dimanfaatkan sebagai bahan perawatan kulit. Umbi
bengkoang segar kaya akan vitamin C. Vitamin C adalah antioksidan kuat yang
larut dalam air yang membantu tubuh untuk mengikat radikal bebas berbahaya.
Semua nutrisi inilah yang membuat bengkoang dipercaya mampu memutihkan,
mencerahkan dan mengencangkan kulit.
Penggunaan umbi bengkuang
dalam merawat kulit dirasa kurang praktis karena selain proses pembuatannya
membutuhkan waktu yang lama dalam penggunaannyapun dirasakan kurang nyaman dan
kurang efektif. Untuk itu perlu dilakukan formulasi sediaan terhadap bengkuang
dengan tujuan memberi rasa nyaman dan lebih praktis pada saat digunakan.
B. Rumusan
Penelitian
Berdasarkan
latar belakang diatas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana formulasi
sediaan lulur umbi bengkuang?
2.
Bagaimana proses
pembuatan sediaan lulur umbi bengkuang?
C. Tujuan
Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah diatas, maka penelitian ini memiliki tujuan yaitu:
1.
Untuk mengetahui
formulasi sediaan lulur umbi bengkuang;
2.
Untuk mengetahui proses
pembuatan sediaan lulur umbi bengkuang.
D. Manfaat
Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan pengetahuan bagi berbagai pihak bahwa umbi bengkuang memiliki khasiat sebagai antioksidan dan mampu merawat kulit serta sediaan lulur umbi bengkuang dapat digunakan sebagai pengembangan teknologi sediaan farmasi pada masa yang akan datang.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Bengkuang (Pachyrhizus erosus L)
1.
Klasifikasi
Bengkuang (Pachyrhizus erosus L)
Kingdom : Plantae (
Tumbuhan )
Subkingdom : Trachebionta
( Tumbuhan berpembulu )
Super divisi :
Spermatophyta ( Menghasilkan biji )
Divisi : Magnoliophyta
( Tumbuhan berbunga )
Kelas :
Magnoliopsida ( berkeping dua/ dikotil )
Sub kelas : Rosidae
Ordo :
Fabeles
Famili :
Fabeceae ( suku polong – polongan )
Genus :
Pachyrhizus
Spesies : Pachyrhizus erosus L
2.
Deskripsi
Tanaman Bengkuang (Pachyrhizus erosus L)
Bengkoang
atau bengkuang adalah salah satu tanaman umbian yang termasuk dalam suku polong
– polongan yang berasal dari Amerika tropis. Tanaman ini dikenal dengan sebutan
xicama atau jicama sedangkan orang jawa menyebut tanaman ini
adalah besusu.
3.
Morfologi
Bengkuang (Pachyrhizus erosus L)
3.1. Batang
Batang
tanaman bengkoang pendek sekitar 1-2 m , batang menjalar, dan membelit,
memiliki ruas – ruas halus, dan mengarah kebawah. Batang tanaman ini pada
umumnya berwarna kehijauan hingga kecoklatan, dan memiliki tunas baru
disekitarnya.
3.2. Daun
Daun
tanaman ini majemuk yang menyirip dengan anakan 3 daun, bertangkai mencapai
8-16 cm, anakan daun berbentuk bulat melebar, pangkal daun runcing dan
bergerigi besar serta berambut kedua sisi membelah dari sisinya, anak daun
pangkal ujung membesar dan juga membelah hampir menyerupai ketupat.
3.3.Bunga
Bunga
tanaman ini tersusun dalam tandan yang tumbuh pada ketiak daun, bunga ini
memiliki panjang 60 cm, berambut coklat, dan berbentuk hampir menyerupai lonceng.
Selain itu, bunga memiliki mahkota berwarna kebiruan hingga keungguan, gundul,
dengan panjang 2 – 3 cm, tangkai sari pipih, dan pangkal bagian ujung
menggulung.
3.4.Biji
Biji
tanaman termasuk polong, berbentuk garis, pipih, dengan panjang 8-13 cm, berambut,
berbeiji 4-9 butir dan biji ini berwarna kecoklatan disertai dengan serat
halus.
3.5.Akar
Akar tanaman termasuk perakan serabut tungggal dan berumbi, berwarna keputihan hingga kecoklatan, dengan kedalaman mencapai 10-20 cm bahkan lebih. Perakaran ini bermanfaat untuk menyimpan cadangan makanan dan membantu menyerap unsur air dari dalam tanah.
4.
Kandungan
dan Manfaat Tanaman Bengkuang (Pachyrhizus erosus L)
Bengkoang
sering dimanfaatkan sebagai bahan konsumsi harian ataupun dijadikan bahan
herbal untuk membuat ramuan kecantikan serta untuk mengobati berbagai macam
penyakit. Umbi bengkoang memiliki beberapa kandungan gizi seperti vitamin A
(retinol), thiamin (vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), piridoksin (vitamin
B6), vitamin C (asam askorbat), asam pantotenat, asam folat, protein, dan
niacin.
Selain
itu, terdapat juga kandungan lain berupa mineral seperti kalsium, fosfor,
glukosa, zat besi, dan inulin. Ada juga kandungan kimia yang ditemukan pada
umbi bengkoang seperti rotenon dan pachyrhizon.
Umbi
bengkoang sangat cocok untuk merawat kulit kering karena memiliki sifat
pendingin yang didapatkan dari tingginya kadar air pada bagian umbinya.
Penggunaan bengkoang sebagai bahan dasar untuk merawat kulit sangat mudah
ditemukan pada produk-produk kosmetik pemutih dan pelembab kulit.
Selain
sebagai bahan untuk merawat kulit, kandungan inulin pada umbi bengkoang juga
bisa dimanfaatkan sebagai pengganti gula dan sekaligus menjadi penurun jumlah
kalori pada makanan. Inulin juga berfungsi untuk merangsang pertumbuhan dari
bakteri baik pada usus kita.
B.
Simplisia
1.
Pengertian
Simplisia
atau herbal adalah bahan alam yang telah dikeringkan yang digunakan untuk
pengobatan dan belum mengalami pengolahan, kecuali dinyatakan lain suhu
pengeringan simplisia tidak lebih dari 600C (Ditjen POM, 2008).
Simplisia
merupakan bahan awal pembuatan sediaan herbal. Mutu sediaan herbal sangat
dipengaruhi oleh mutu simplisia yang digunakan. Oleh karena itu, sumber
simplisia, cara pengolahan, dan penyimpanan harus dapat dilakukan dengan cara
yang baik. Simplisia adalah bahan alam yang digunakan sebagai bahan sediaan
herbal yang belum mengalami pengolahan apapun dan kecuali dinyatakan lain
simplisia merupakan bahan yang telah dikeringkan (Ditjen POM, 2005).
2.
Penggolongan
Simplisia
Simplisia
dibagi menjadi tiga golongan, yaitu:
2.1 Simplisia
nabati
Simplisia
nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh, bagian tumbuhan atau eksudat
tumbuhan. Eksudat tumbuhan adalah isi sel yang secara spontan keluar dari
tumbuhan atau dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnyaatau zat nabati lain
yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tumbuhannya (Ditjen POM, 1995).
2.2 Simplisia
hewani
Simplisia
hewani adalah simplisia berupa hewan utuh atau zat-zat berguna yang dihasilkan
oleh hewan. Contohnya adalah minyak ikan dan madu (Gunawan, 2010).
2.3 Simplisia
pelikan atau mineral
Simplisia
pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau mineral yang
belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana. Contohnya serbuk seng dan
serbuk tembaga (Gunawan, 2010).
3.
Proses
Pembuatan Simplisia
Dasar pembuatan
simplisia meliputi beberapa tahapan, yaitu:
3.1
Pengumpulan Bahan Baku
Kadar
senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-beda yang tergantung pada beberapa
faktor, antara lain: bagian tumbuhan yang digunakan, umur tumbuhan atau bagian
tumbuhan pada saat panen, waktu panen dan lingkungan tempat tumbuh. Waktu panen
sangat erat hubungannya dengan pembentukan senyawa aktif di dalam bagian
tumbuhan yang akan dipanen. Waktu panen yang tepat pada saat bagian tumbuhan
tersebut mengandung senyawa aktif dalam jumlah yang terbesar. Senyawa aktif
akan terbentuk secara maksimal di dalam bagian tumbuhan atau tumbuhan pada umur
tertentu. Berdasarkan garis besar pedoman panen, pengambilan bahan baku tanaman
dilakukan sebagai berikut:
·
Biji
Pengambilan
biji dapat dilakukan pada saat mulai mengeringnya buah atau sebelum semuanya
pecah.
·
Buah
Panen
buah bisa dilakukan saat menjelang masak (misalnya Piper nigrum), setelah
benar-benar masak (misalnya adas), atau dengan cara melihat perubahan warna/
bentuk dari buah yang bersangkutan (misalnya jeruk, asam, dan pepaya).
·
Bunga
Panen dapat dilakukan saat menjelang penyerbukan, saat bunga masih kuncup (seperti pada Jasminum sambac, melati), atau saat bunga sudah mulai mekar (misalnya Rosa sinensis, mawar).
·
Daun
atau herba
Panen daun atau
herba dilakukan pada saat proses fotosintesis berlangsung maksimal, yaitu
ditandai dengan saat-saat tanaman mulai berbunga atau buah mulai masak. Untuk
mengambil pucuk daun, dianjurkan dipungut pada saat warna pucuk daun berubah
menjadi daun tua.
·
Kulit
Batang
Tumbuhan yang
pada saat panen diambil kulit batang, pengambilan dilakukan pada saat tumbuhan
telah cukup umur. Agar pada saat pengambilan tidak mengganggu pertumbuhan,
sebaiknya dilakukan pada musim yang menguntungkan pertumbuhan antara lain
menjelang musim kemarau.
·
Umbi
Lapis
Panen umbi
dilakukan pada saat umbi mencapai besar maksimum dan pertumbuhan pada bagian di
atas berhenti. Misalnya bawang merah (Allium cepa)
·
Rimpang
Pengambilan
rimpang dilakukan pada saat musim kering dengan tanda-tanda mengeringnya bagian
atas tumbuhan. Dalam keadaan ini rimpang dalam keadaan besar maksimum.
·
Akar
Panen akar dilakukan pada saat proses pertumbuhan berhenti atau tanaman sudah cukup umur. Panen yang dilakukan terhadap akar umumnya akan mematikan tanaman yang bersangkutan.
3.2
Sortasi
Basah
Sortasi
basah adalah pemilihan hasil panen ketika tanaman masih segar. Sortasi
dilakukan terhadap :
·
Tanah
atau kerikil,
·
Rumput-rumputan
·
Bahan
tanaman lain atau bagian lain dari tanaman yang tidak digunakan
·
Bagian
tanaman yang rusak (dimakan ulat atau sebagainya).
3.3
Pencucian
Pencucian
simplisia dilakukan untuk membersihkan kotoran yang melekat, terutama
bahan-bahan yang berasal dari dalam tanah dan juga bahan-bahan yang tercemar
peptisida. Cara sortasi dan pencucian sangat mempengaruhi jenis dan jumlah
mikroba awal simplisia. Misalnya jika air yang digunakan untuk pencucian kotor,
maka jumlah mikroba pada permukaan bahan simplisia dapat bertambah dan air yang
terdapat pada permukaan bahan tersebut dapat mempercepat pertumbuhan mikroba.
Bakteri yang umum terdapat dalam air adalah Pseudomonas, Bacillus,
Streptococcus, Enterobacter, dan Escherichia.
3.4
Pengubahan
Bentuk
Pada dasarnya tujuan pengubahan bentuk simplisia adalah untuk memperluas permukaan bahan baku. Semakin luas permukaan maka bahan baku akan semakin cepat kering. Perajangan dapat dilakukan dengan pisau, dengan alat mesin perajangan khusus sehingga diperoleh irisan tipis atau potongan dengan ukuran yang dikehendaki.
3.5
Pengeringan
Proses
pengeringan simplisia, terutama bertujuan sebagai berikut:
·
Menurunkan
kadar air sehingga bahan tersebut tidak mudah ditumbuhi kapang dan bakteri.
·
Menghilangkan
aktivitas enzim yang bisa menguraikan lebih lanjut kandungan zat aktif
·
Memudahkan
dalam hal pengolahan proses selanjutnya (ringkas, mudah disimpan, tahan lama,
dan sebagainya).
3.6
Sortasi
Kering
Sortasi
kering adalah pemilihan bahan setelah mengalami proses pengeringan. Pemilihan
dilakukan terhadap bahan-bahan yang terlalu gosong atau bahan yang rusak
3.7
Pengepakan
dan Penyimpanan
Setelah
tahap pengeringan dan sortasi kering selesai maka simplisia perlu ditempatkan
dalam suatu wadah tersendiri agar tidak saling bercampur antara simplisia satu
dengan lainnya (Gunawan, 2010)
C.
Lulur
1.
Pengertian
Lulur
Lulur adalah
kosmetika yang digunakan untuk
merawat dan membersihkan kulit dari kotoran dan sel kulit mati (Septiana
Indratmoko, 2017). Lulur adalah sediaan kosmetik tradisional yang diresepkan
dari turun-temurun digunakan untuk mengangkat sel kulit mati, kotoran, dan
membuka pori-pori sehingga pertukaran udara bebas dan kulit menjadi lebih cerah
dan putih. Lulur terbagi beberapa bentuk sediaan yaitu lulur bubuk, lulur krim,
ataupun lulur kocok/cair (Pramuditha, 2016).
Lulur
berbeda dengan scrub dapat dilihat dari tekstur lulur yang berupa butiran halus
dan mudah mengering (Putra, 2016).
Lulur
merupakan bentuk sediaan cair maupun setengah padat yang berupa emulsi untuk
mengangkat kotoran sel kulit mati yang tidak terangkat sempurna oleh sabun dan
memberikan kelembaban serta mengembalikan kelembutan kulit, seperti kelenjar
rambut dan keringat, untuk mendapatkan efek maksimal lulur digunakan selama 30
menit pada kulit tubuh agar dapat meresap dengan baik kedalam kulit (Hari,
2015).
2.
Jenis-jenis
Lulur
2.1
Lulur
Mandi (Body scrub)
Lulur
mandi atau dalam beberapa produk agar tampak modern ditulis dengan istilah body
scrub, merupakan lulur yang digunakan saat tubuh dalam keadaan basah (mandi).
Penggunaannya adalah dengan mengoleskan pada seluruh bagian tubuh lalu
menggosoknya perlahan. Setelah digosok-gosok, bilas tubuh dengan air tanpa
menggunakan sabun mandi. Lulur jenis ini relatif lebih cocok digunakan untuk
pemilik kulit sensitif karena butiran scrub yang lebih kecil dan lembut,
penggunaannya saat kulit dalam keadaan basah, dan terdapat bahan pembawa yang
berfungsi melicinkan kulit sehingga akan terhindar dari iritasi saat
penggosokan.
2.2
Lulur
Kocok
Lulur
ini berbentuk lulur yang berair tapi tidak terlarut (suspensi). Sebelum
digunakan, botol kemasan lulur dikocok terlebih dahulu, oleh karenanya lulur
ini sering disebut lulur kocok. Penggunaannya adalah dengan mengoleskan lulur
pada kulit yang kering lalu setelah mengering lulur tersebut digosok-gosok
sehingga kotoran dari tubuh akan terlepas. Setelah itu bilas dengan air tanpa
sabun.
2.3
Lulur
Bubuk
Lulur
ini berupa serbuk lulur kering yang penggunaannya dengan mengencerkan atau
mengentalkannya terlebih dahulu dengan air biasa/air mawar sebelum digunakan.
Setelah cukup encer/kental, kemudian lulur dioleskan ke seluruh tubuh (dalam
keadaan kering atau sedikit basah) sambil digosok-gosok. Tunggu beberapa menit
atau sampai mengering, lalu bilas dengan air tanpa sabun. Lulur jenis ini lebih
praktis karena kemasannya mudah dibawa dan penggunaannya lebih mudah.
2.4
Lulur
Tradisional
Jenis
lulur ini hampir menyerupai lulur mandi. Tetapi penggunaannya berbeda dengan
lulur mandi. Lulur tradisional biasanya berasal dari bahan-bahan dan
rempah-rempah yang sangat bermanfaat untuk menjaga kecantikan dan kehalusan
kulit. Lulur tradisional ini digunakan saat tubuh dalam keadaan kering. Setelah
lulur dioleskan pada tubuh, digosok pada tubuh. Biasanya lulur yang setelah
digosok pada tubuh akan berubah warna menjadi kecoklatan atau kehitaman yang
menandakan keluarnya kotoran pada tubuh.
BAB III METODE PENELITIAN
A.
Alat
dan Bahan
Alat
– alat yang digunakan dalam penelitian yaitu timbangan digital, cawan porselin,
batang pengaduk, mortar, stamper, sudip, beker gelas, gelas ukur, water bath,
pot/ tempat kosmetik, alat daya lekat, objek gelas, pH meter, viskometer
boorkfield.
Bahan – bahan yang digunakan yaitu serbuk bengkuang, tepung beras, aquadest, madu, cetyl alcohol, propilen glikol, tritanolamin, asam stearate, gliserin, nipagin.
B.
Prosedur
Pembuatan
1.
Determinasi
Tanaman
Determinasi
bengkuang (Pachyrhizus erosus L) dilakukan dengan mencocokan dari morfologi yang ada pada bengkuang (Pachyrhizus erosus L) terhadap pustaka dan dibuktikan di Laboratorium Biologi
Universitas Perjuangan.
2.
Pengambilan
Sampel
Sampel bengkuang (Pachyrhizus erosus L) diperoleh di Desa Cigadog Kecamatan Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Pengambilan sampel dilakukan pada pagi hari dengan cara mengambil bengkuang (Pachyrhizus erosus L) yang muda atau menuju tua, lalu memilih bengkuang (Pachyrhizus erosus L) yang tidak rusak untuk dijadikan sampel.
3.
Pengolahan
Sampel
Sampel
bengkuang (Pachyrhizus erosus L) yang telah diambil dicuci bersih dengan air mengalir lalu
ditiriskan. Daun bengkuang yang sudah
bersih disortasi basah dan ditimbang. Selanjutnya dilakukan proses pengeringan
dengan cara menjemur bengkuang yang telah ditutup kain hitam dibawah sinar
matahari . Simplisia yang telah kering diblender menjadi serbuk kasar lalu
disimpan di dalam wadah plastik tertutup.
4.
Pembuatan
Lulur
Fase
minyak (cetyl alcohol dan asam stearate) dan fase air (propilen glikol,
gliserin, trietanolamin dan air) di leburkan di atas water bath pada suhu 70˚C.
fase air dan fase minyak dimasukan ke dalam mortir panas aduk hingga membentuk
basis body scrub, kemudian tambahkan serbuk bengkuang dan
tepung beras lalu aduk sampai homogen. Dibiarkan dingin lalu pindahkan kedalam
pot.
5.
Rancangan
Konsentrasi Formula
|
Bahan |
Formula
1 |
Formula
2 |
Formula
3 |
|
Bengkuang |
10 |
5 |
10 |
|
Tepung beras |
5 |
10 |
10 |
|
Cetyl alkohol |
3 |
3 |
3 |
|
Asam stearat |
5 |
5 |
5 |
|
Propilenglikol
|
5 |
5 |
5 |
|
Gliserin |
15 |
15 |
15 |
|
TEA |
4 |
4 |
4 |
|
Air |
53 |
53 |
48 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar