Welcome to my blog, semoga informasinya bisa bermanfaat ...
Thank's for visit guys...

Minggu, 06 Januari 2019

Tablet

A. Latar Belakang

Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang banyak diproduksi dan disukai oleh masyarakat karena tablet mempunyai beberapa keuntungan diantaranya adalah ketepatan dosis, mudah cara pemakaiannya, relatif stabil dalam penyimpanan, mudah dalam transportasi dan distribusi kepada konsumen, serta harganya relatif murah. (Banker dan Anderson, 1986).

Hampir semua tablet memerlukan penambahan komponen atau eksipien untuk   berbagai   tujuan   dengan   zat   aktif   dalam   formulasi.   Hal   ini   untuk memperoleh sifat fisik, kimia dan mekanik agar memenuhi persyaratan resmi (farmakope) dan persyaratan industri yang dapat diterima serta untuk membantu dan memudahkan pembuatannya. Dalam formulasi tablet pada umumnya dapat ditambahkan zat pengisi, pengikat, disintegran, lubrikan, glidan, zat warna dan sebagainya, agar memenuhi fungsi farmasetik seperti tersebut diatas. (Siregar dan Wikarsa, 2010).

Bahan tambahan memegang peranan penting dalam pembuatan tablet, diantaranya bahan pengahncur (disintegran). Bahan penghancur berfungsi melawan aksi bahan pengikat dari tablet dan melawan tekanan pada saat pentabletan. Bahan ini akan menghancurkan tablet bila bersentuhan dengan air atau cairan saluran pencernaan (Voigt, 1984).

Karakterisasi dari sifat fisika kimia bahan obat merupakan salah satu langkah penting dalam pembuatan bentuk sediaan padat. Identifikasi sifat kimia, terutama kemurniannya adalah sangat penting. Selain itu, sifat fisik dari bahan aktif farmasetik seperti kelarutan, polimorfisme, higroskopisitas, ukuran partikel, densitas dan lain-lain harus diperhatikan. (Niazi, 2009).


B. Tablet 

Menurut Farmakope Indonesia edisi III tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung putih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang cocok.

Zat tambahan yang dimasukan dalam suatu formulasi memiliki maksud dan fungsi tersendiri, diantaranya

  1. Zat pengisi (diluents) dimaksudkan untuk memperbesar volume tablet, biasanya digunakan Saccharum Lactis, Amylum Manihot, Calcii Phosphas, Calcii Carbonas dan zat lain yang cocok.
  2. Zat pengkiat (binder) dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak, dapat merekat. Biasanya digunakan adalah Mucilago Gummi Arabici 10-20% (Solution Methylcellulosum 5%).
  3. Zat pengahancur (disintegran) dimaksudkan agar tablet dapat hancur dalam perut. Biasanya digunakan Amylum Manihot Kering, Gelatinum, Agar dan Natrium Alganat.
  4. Zat pelicin (lubricant) dimaksudkan agar tablet tidak lekat pada cetakan. Biasanya digunakan Talcum 5%, Magnesia Stearate, Acidum Stearicum.

Dalam pembuatan tablet biasanya ada beberapa macam cara yang digunakan diantaranya dengan granulasi basah, granulasi kering dan kempa langsung. Tablet yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan.
  2. Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil.
  3. Fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik atau mekanik.
  4. Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan.
  5. Waktu hancur dan lahu disolusi harus memenuhi persyaratan.
  6. Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan.
  7. Terbebas dari kerusakan fisik.
  8. Stabilitas fisik dan kimiawi cukup baik selama penyimpanan.
  9. Zat aktif dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu.
  10. Memenuhi persyaratan Farmakope yang berlaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar