Tablet
merupakan bentuk sediaan oral yang banyak diproduksi dan disukai oleh
masyarakat karena tablet mempunyai beberapa keuntungan diantaranya adalah ketepatan
dosis, mudah cara pemakaiannya, relatif stabil dalam penyimpanan, mudah dalam
transportasi dan distribusi kepada konsumen, serta harganya relatif murah.
(Banker dan Anderson, 1986).
Hampir semua
tablet memerlukan penambahan komponen atau eksipien untuk berbagai
tujuan dengan zat
aktif dalam formulasi.
Hal ini untuk memperoleh sifat fisik, kimia dan
mekanik agar memenuhi persyaratan resmi (farmakope) dan persyaratan industri
yang dapat diterima serta untuk membantu dan memudahkan pembuatannya. Dalam
formulasi tablet pada umumnya dapat ditambahkan zat pengisi, pengikat,
disintegran, lubrikan, glidan, zat warna dan sebagainya, agar memenuhi fungsi
farmasetik seperti tersebut diatas. (Siregar dan Wikarsa, 2010).
Bahan tambahan
memegang peranan penting dalam pembuatan tablet, diantaranya bahan pengahncur
(disintegran). Bahan penghancur berfungsi melawan aksi bahan pengikat dari
tablet dan melawan tekanan pada saat pentabletan. Bahan ini akan menghancurkan
tablet bila bersentuhan dengan air atau cairan saluran pencernaan (Voigt,
1984).
Karakterisasi
dari sifat fisika kimia bahan obat merupakan salah satu langkah penting dalam
pembuatan bentuk sediaan padat. Identifikasi sifat kimia, terutama kemurniannya
adalah sangat penting. Selain itu, sifat fisik dari bahan aktif farmasetik
seperti kelarutan, polimorfisme, higroskopisitas, ukuran partikel, densitas dan
lain-lain harus diperhatikan. (Niazi, 2009).
B. Tablet
Menurut
Farmakope Indonesia edisi III tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara
kempa cetak, dalam bentuk tabung putih atau sirkuler, kedua permukaannya rata
atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat
tambahan. Zat tambahan yang digunakan berfungsi sebagai zat pengisi, zat
pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang cocok.
Zat tambahan
yang dimasukan dalam suatu formulasi memiliki maksud dan fungsi tersendiri,
diantaranya
- Zat pengisi (diluents) dimaksudkan untuk memperbesar volume tablet, biasanya digunakan Saccharum Lactis, Amylum Manihot, Calcii Phosphas, Calcii Carbonas dan zat lain yang cocok.
- Zat pengkiat (binder) dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak, dapat merekat. Biasanya digunakan adalah Mucilago Gummi Arabici 10-20% (Solution Methylcellulosum 5%).
- Zat pengahancur (disintegran) dimaksudkan agar tablet dapat hancur dalam perut. Biasanya digunakan Amylum Manihot Kering, Gelatinum, Agar dan Natrium Alganat.
- Zat pelicin (lubricant) dimaksudkan agar tablet tidak lekat pada cetakan. Biasanya digunakan Talcum 5%, Magnesia Stearate, Acidum Stearicum.
Dalam
pembuatan tablet biasanya ada beberapa macam cara yang digunakan diantaranya
dengan granulasi basah, granulasi kering dan kempa langsung. Tablet yang baik
harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
- Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan.
- Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil.
- Fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik atau mekanik.
- Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan.
- Waktu hancur dan lahu disolusi harus memenuhi persyaratan.
- Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan.
- Terbebas dari kerusakan fisik.
- Stabilitas fisik dan kimiawi cukup baik selama penyimpanan.
- Zat aktif dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu.
- Memenuhi persyaratan Farmakope yang berlaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar