Welcome to my blog, semoga informasinya bisa bermanfaat ...
Thank's for visit guys...

Rabu, 18 September 2019

AMOEBIASIS



Amoebiasis merupakan suatu keadaan terdapatnya Entamoeba histolytica dengan atau tanpa manifestasi klinik, dan disebut juga sebagai penyakit bawaan makanan (Food Diseases) (Rasmaliah, 2003). Amoebiasis pada manusia dapat terjadi secara akut dan kronik. Amoebiasis memiliki gejala yang samar-samar, sehingga hampir tidak diketahui. Gejalanya bisa berupa diare yang hilang-timbul dan sembelit, banyak buang gas (flatulensi) dan kram perut. Bisa terjadi demam ringan. Diagnosis dilakukan  berdasarkan ditemukannya amuba pada sampel tinja penderita. Amuba penyebab amoebiasis tidak selalu ditemukan pada setiap sampel tinja, karena itu biasanya diperlukan pemeriksaan tinja sebanyak 3-6 kali.



1.      Epidemiologi

Prevalensi infeksi amuba di seluruh dunia bervariasi dari 5% sampai 81% dengan frekuensi tertinggi terutama ada di daerah tropis yang mempunyai kondisi lingkungan yang buruk, sanitasi perorangan yang jelek, dan hidup dalam kemiskinan. Manusia adalah penjamu alamiah (natural host) dan reservoir utama E. histolytica, meskipun pernah dilaporkan terdapat juga pada anjing, kucing, babi dan ikan. Diduga bahwa 12% dari populasi seluruh dunia terinfeksi E. histolytica (sekitar 480 juta orang). Amubiasis adalah penyebab ketiga kematian karena infeksi parasit secara global. Disentri amuba yang disebabkan oleh invasi mukosa usus terjadi jarang pada anak dibandingkan orang dewasa, demikian juga dengan penyebarannya. Disentri amuba terjadi kira-kira 1-17% dari subyek yang terinfeksi.

Walaupun sangat endemik di Afrika, Amerika latin, India dan Asia Tengara, amubiasis tidak semata-mata terbatas pada daerah tropik. Di Amerika Serikat, amubiasis telah diperkirakan terjadi dengan prevalensi 1-4 % pada kelompok risiko tinggi tertentu, termasuk orang-orang yang diasramakan dengan lama (penyakit invasif jarang pada AIDS), anak dengan retardasi mental, pekerja yang berpindah-pindah, imigran (terutama Meksiko), laki-laki homoseksual dan kelompok sosioekonomi rendah di Amerika serikat selatan serta yang telah berpergian dari daerah endemik.

Makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan kista E. histolytica dan kontak langsung fekal-oral adalah cara infeksi yang paling sering. Air yang tidak diolah dan tinja manusia yang digunakan sebagai pupuk merupakan sumber infeksi penting. Pedagang makanan yang mengidap kista amuba, dapat memainkan peran terhadap penyebaran infeksi. Kontak langsung dengan tinja yang terinfeksi juga dapat menyebabkan penularan dari orang ke orang.

Sumber infeksi terutama ‘carrier’ yakni penderita amebiasis tanpa gejala klinis yang dapat bertahan lama mengeluarkan kista dalam jumlah ratusan ribu per hari. Kista-kista tersebut mampu bertahan lama diluar tubuh, serta dapat menginfeksi manusia melalui saluran air yang buruk. Aliran air yang melalui tumbuhan seperti sayuran dan buah-buahan dapat menyebabkan penyakit terhadap orang-orang yang mengonsumsinya. Berikut beberapa masalah yang kerap mengakibatkan infeksi amebiasis:

a.       Penyediaan air bersih dan sumber air sering tercemar.

b.      Tidak tersedianya jamban mengakibatkan orang-orang buang air besar sembarangan yang akan di hinggapi oleh lalat atau kecoak.

c.       Tempat pembuangan sampah yang buruk dapat menjadi tempat perkembangbiakan lalat yang menjadi faktor mekanik infeksi amoeba.



2.      Etiologi

Entamoeba histolytica terdapat dalam dua bentuk, yaitu sebagai kista dan tropozoit. Infeksi amoeba pada amubiasis terjadi melalui kista parasit yang tertelan yang mengkontaminasi makanan atau minuman. Sedangkan tertelannya bentuk tropozoit tidak menimbulkan infeksi karena tidak tahan terhadap lingkungan asam dalam lambung.

Kista ini berukuran 10-18 µm, berisi empat inti, dan resisten terhadap keadaan lingkungan seperti suhu rendah dan kadar klorin yang biasa digunakan pada pemurniaan air, parasit dapat dibunuh dengan pemanasan 55 °C. Setelah penelanan, kista yang resisten terhadap asam lambung dan enzim pencernaan, masuk dan pecah dalam usus halus membentuk delapan tropozoit yang bergerak aktif, merupakan koloni dalam lumen usus besar dan dapat menimbulkan invasi pada mukosa, pada keadaan yang belum diketahui saat ini.

Trofozoit mempunyai diameter rata-rata 20 µm; sitoplasmanya terdiri atas zona luar yang jernih dan endoplasma dalam yang granuler padat, mengandung inti yang berbentuk sferis yang mempunyai kariosom sentral yang kecil dan bahan kromatin granuler yang halus. Endoplasma juga berisi vakuola, dimana eritrosit dapat ditemukan pada kasus amubiasis invasif. Lima spesies Amoeba nonpatogen lain yang dapat menginfeksi saluran pencernaan manusia; E. coli, E. hartmanni, E. gingivalis, E. moshkovskii, dan E. polecki.



3.      Patologi

Amubiasis dimulai dengan tertelannya bahan yang mengandung kista E. histolytica, kolonisasi oleh tropozoit terjadi di seluruh kolon, terutama di sekum dan kolon asendens, tetapi kurang pada rektosigmoid. Kolon transversum dan kolon desendens terkena bila semua kolon terkena infeksi. Sesudah periode waktu yang bervariasi dari beberapa hari sampai 30 tahun dapat terbentuk tropozoit yang berukuran 50 mm.

Lesi pertama biasanya merupakan ulkus kecil dengan diameter ± 1 mm, yang meluas hanya pada mukosa muskularis. Stadium berikutnya ialah pembentukan ulkus yang lebih dalam, dapat berdiameter sampai 1 cm dan meluas ke submukosa. Kadang-kadang terjadi perforasi melalui serosa dengan akibat terjadinya peritonitis. Nekrosis dapat meluas tetapi biasanya sedikit sekali peradangan. Edema lebih intensif, tetapi muksa di antara ulkus relatif normal, dan ini kontas terhadap enteritis karena bakteri dengan respons peradangan yang mencolok.

Jika ulserasi lebih ekstensif, maka edema di sekeliling ulkus menjadi bersatu (confluent) dan mukosa menyerupai gelatin. Jarang suatu respons peradangan berbentuk jaringan granulasi tanpa fibrosis. Ini yang disebut ameboma. Kadang-kadang ameboma akan mengisi lumen menimbulkan striktura atau obstruksi.



4.      Diagnosis Amebiasis

a.       Pemeriksaan laboratorium : Sampel tinja pasien akan diperiksa di laboratorium untuk menemukan adanya parasit histolytica. Pengambilan sampel untuk pemeriksaan ini idealnya dilakukan beberapa kali pada hari yang berbeda.

b.      Tes darah : Metode ini direkomendasikan dicurigai terdapat parasit histolytica di dinding usus atau organ tubuh lainnya. Tes ini juga dapat dilakukan untuk memeriksa kondisi terkait, seperti anaemia.

c.       Kolonoskopi : Dokter akan mengevaluasi kondisi kolon (usus besar) dan banyaknya parasit yang ada dengan menggunakan alat khusus seperti selang tipis yang dilengkapi kamera. Jika diperlukan, biopsi hati (pengambilan sampel jaringan hati untuk diperiksa di laboratorium) dapat sekaligus dilakukan dalam prosedur ini.

d.      Pemindaian, seperti CT scan atau USG, untuk memeriksa jika terdapat peradangan pada organ tertentu.

e.       Tes jarum : Tes ini biasanya dilakukan saat ada penumpukan nanah (abses) pada hati.



5.      Manifestasi Klinis

            Kebanyakan individu yang terinfeksi asimtomatik, dan kista ditemukan pada tinjanya. Gejala yang biasa terjadi adalah diare, muntah, dan demam. Tinja lembek atau cair disertai dengan lendir dan darah. Pada infeksi akut kadang-kadang ditemukan kolik abdomen, kembung, tenesmus dan bising usus yang hiperaktif. Invasi jaringan terjadi pada 2-8 % individu yang terinfeksi mungkin berhubungan dengan strain parasit atau status nutrisi dan flora usus.

            Manifestasi klinis dari amubiasis yang paling sering disebabkan oleh invasi lokal pada epitel usus dan penyebaran ke hati. Selain itu amubiasis juga mencakup dari infeksi amubiasis dari kista yang asimptomatik sampai kolitis amuba, disentri amuba, ameboma dan penyakit ekstraintestinal.

Infeksi E. histolytica tidak bergejala sama sekali pada 90% penderita, namun memiliki potensi untuk menjadi invasif sehingga hal tersebut memerlukan perawatan. Penyakit yang berat lebih banyak ditemukan pada anak yang lebih muda, wanita hamil, individu dengan malnutrisi dan penderita yang menggunakan kortikosteroid.



6.      Pengobatan Amebiasis

a.       Obat antibiotik, seperti metronidazole atau tinidazole, untuk membunuh bakteri yang ada di dalam hati atau organ lainnya. Obat ini biasa diberikan bersama dengan antiparasit, seperti diloxanide furoate.

b.      Obat antimual bagi penderita yang mengalami gejala mual dan muntah.

c.       Pasien amebiasis biasanya akan disarankan untuk mengonsumsi banyak air putih dan oralit untuk mengganti cairan yang hilang.

d.      Jika kondisi yang dialami cukup parah, dokter akan memberikan cairan infus di rumah sakit.

e.       Dalam kasus tertentu, tindakan operasi akan dilakukan jika terjadi pecahnya abses hati atau jika terdapat lubang di usus.

 

7.      Komplikasi Amebiasis

a.       Anemia atau perdarahan usus pada penderita yang mengalami radang usus besar.

b.      Hambatan pada usus dikarenakan gumpalan jaringan pada dinding usus.

c.       Pembentukan abses di dalam organ hati setelah bertahun-tahun terjangkit parasit histolytica.

d.      Infeksi pada organ yang terjangkit, termasuk otak dan sistem saraf pusat.

e.       Kematian.


8.      Pencegahan Amoebiasis

a.       Cuci tangan menggunakan sabun cair setelah buang air kecil atau buang air besar. Hal ini juga perlu dilakukan setelah mengganti popok bayi dan sebelum mengolah makanan.

b.      Cuci sayur atau buah sampai bersih sebelum dikonsumsi.

c.       Cuci peralatan masak sampai bersih sebelum digunakan.

d.      Rebus air hingga mendidih sebelum diminum.

e.       Jangan mengonsumsi susu atau produk olahannya, seperti keju, tanpa dimasak atau dipasteurisasi terlebih dahulu.

f.       Hindari mengonsumsi makanan atau minuman yang tidak terjamin kebersihannya, misalnya makanan yang dijual di pinggir jalan.

g.      Jangan berbagi pakai alat mandi, seperti handuk atau spons, dengan siapa pun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar