Amoebiasis merupakan suatu keadaan terdapatnya
Entamoeba histolytica dengan atau tanpa manifestasi klinik, dan disebut
juga sebagai penyakit bawaan makanan (Food Diseases) (Rasmaliah, 2003).
Amoebiasis pada manusia dapat terjadi secara akut dan kronik. Amoebiasis
memiliki gejala yang samar-samar, sehingga hampir tidak diketahui. Gejalanya
bisa berupa diare yang hilang-timbul dan sembelit, banyak buang gas
(flatulensi) dan kram perut. Bisa terjadi demam ringan. Diagnosis
dilakukan berdasarkan ditemukannya amuba
pada sampel tinja penderita. Amuba penyebab amoebiasis tidak selalu ditemukan
pada setiap sampel tinja, karena itu biasanya diperlukan pemeriksaan tinja
sebanyak 3-6 kali.
1. Epidemiologi
Prevalensi infeksi amuba di seluruh dunia
bervariasi dari 5% sampai 81% dengan frekuensi tertinggi terutama ada di daerah
tropis yang mempunyai kondisi lingkungan yang buruk, sanitasi perorangan yang
jelek, dan hidup dalam kemiskinan. Manusia adalah penjamu alamiah (natural
host) dan reservoir utama E. histolytica, meskipun pernah dilaporkan
terdapat juga pada anjing, kucing, babi dan ikan. Diduga bahwa 12% dari
populasi seluruh dunia terinfeksi E. histolytica (sekitar 480 juta
orang). Amubiasis adalah penyebab ketiga kematian karena infeksi parasit secara
global. Disentri amuba yang disebabkan oleh invasi mukosa usus terjadi jarang
pada anak dibandingkan orang dewasa, demikian juga dengan penyebarannya.
Disentri amuba terjadi kira-kira 1-17% dari subyek yang terinfeksi.
Walaupun sangat endemik di Afrika, Amerika
latin, India dan Asia Tengara, amubiasis tidak semata-mata terbatas pada daerah
tropik. Di Amerika Serikat, amubiasis telah diperkirakan terjadi dengan
prevalensi 1-4 % pada kelompok risiko tinggi tertentu, termasuk orang-orang
yang diasramakan dengan lama (penyakit invasif jarang pada AIDS), anak dengan
retardasi mental, pekerja yang berpindah-pindah, imigran (terutama Meksiko),
laki-laki homoseksual dan kelompok sosioekonomi rendah di Amerika serikat
selatan serta yang telah berpergian dari daerah endemik.
Makanan atau minuman yang terkontaminasi
dengan kista E. histolytica dan kontak langsung fekal-oral adalah cara
infeksi yang paling sering. Air yang tidak diolah dan tinja manusia yang
digunakan sebagai pupuk merupakan sumber infeksi penting. Pedagang makanan yang
mengidap kista amuba, dapat memainkan peran terhadap penyebaran infeksi. Kontak
langsung dengan tinja yang terinfeksi juga dapat menyebabkan penularan dari
orang ke orang.
Sumber infeksi terutama ‘carrier’
yakni penderita amebiasis tanpa gejala klinis yang dapat bertahan lama
mengeluarkan kista dalam jumlah ratusan ribu per hari. Kista-kista tersebut
mampu bertahan lama diluar tubuh, serta dapat menginfeksi manusia melalui
saluran air yang buruk. Aliran air yang melalui tumbuhan seperti sayuran dan
buah-buahan dapat menyebabkan penyakit terhadap orang-orang yang mengonsumsinya.
Berikut beberapa masalah yang kerap mengakibatkan infeksi amebiasis:
a. Penyediaan air bersih dan sumber air sering tercemar.
b. Tidak tersedianya jamban mengakibatkan orang-orang buang air besar
sembarangan yang akan di hinggapi oleh lalat atau kecoak.
c. Tempat pembuangan sampah yang buruk dapat menjadi tempat
perkembangbiakan lalat yang menjadi faktor mekanik infeksi amoeba.
2. Etiologi
Entamoeba histolytica terdapat dalam dua bentuk, yaitu sebagai kista
dan tropozoit. Infeksi amoeba pada amubiasis terjadi melalui kista parasit yang
tertelan yang mengkontaminasi makanan atau minuman. Sedangkan tertelannya
bentuk tropozoit tidak menimbulkan infeksi karena tidak tahan terhadap
lingkungan asam dalam lambung.
Kista ini berukuran 10-18 µm, berisi empat
inti, dan resisten terhadap keadaan lingkungan seperti suhu rendah dan kadar
klorin yang biasa digunakan pada pemurniaan air, parasit dapat dibunuh dengan
pemanasan 55 °C. Setelah penelanan, kista yang resisten terhadap asam lambung
dan enzim pencernaan, masuk dan pecah dalam usus halus membentuk delapan
tropozoit yang bergerak aktif, merupakan koloni dalam lumen usus besar dan
dapat menimbulkan invasi pada mukosa, pada keadaan yang belum diketahui saat
ini.
Trofozoit mempunyai diameter rata-rata 20
µm; sitoplasmanya terdiri atas zona luar yang jernih dan endoplasma dalam yang
granuler padat, mengandung inti yang berbentuk sferis yang mempunyai kariosom
sentral yang kecil dan bahan kromatin granuler yang halus. Endoplasma juga
berisi vakuola, dimana eritrosit dapat ditemukan pada kasus amubiasis invasif.
Lima spesies Amoeba nonpatogen lain yang dapat menginfeksi saluran pencernaan
manusia; E. coli, E. hartmanni, E. gingivalis, E. moshkovskii, dan E.
polecki.
3. Patologi
Amubiasis dimulai dengan tertelannya bahan
yang mengandung kista E. histolytica, kolonisasi oleh tropozoit terjadi
di seluruh kolon, terutama di sekum dan kolon asendens, tetapi kurang pada
rektosigmoid. Kolon transversum dan kolon desendens terkena bila semua kolon
terkena infeksi. Sesudah periode waktu yang bervariasi dari beberapa hari
sampai 30 tahun dapat terbentuk tropozoit yang berukuran 50 mm.
Lesi pertama biasanya merupakan ulkus kecil
dengan diameter ± 1 mm, yang meluas hanya pada mukosa muskularis. Stadium
berikutnya ialah pembentukan ulkus yang lebih dalam, dapat berdiameter sampai 1
cm dan meluas ke submukosa. Kadang-kadang terjadi perforasi melalui serosa
dengan akibat terjadinya peritonitis. Nekrosis dapat meluas tetapi biasanya
sedikit sekali peradangan. Edema lebih intensif, tetapi muksa di antara ulkus
relatif normal, dan ini kontas terhadap enteritis karena bakteri dengan respons
peradangan yang mencolok.
Jika ulserasi lebih ekstensif, maka edema
di sekeliling ulkus menjadi bersatu (confluent) dan mukosa menyerupai gelatin.
Jarang suatu respons peradangan berbentuk jaringan granulasi tanpa fibrosis.
Ini yang disebut ameboma. Kadang-kadang ameboma akan mengisi lumen menimbulkan
striktura atau obstruksi.
4. Diagnosis Amebiasis
a. Pemeriksaan laboratorium : Sampel tinja pasien akan diperiksa di
laboratorium untuk menemukan adanya parasit histolytica. Pengambilan sampel
untuk pemeriksaan ini idealnya dilakukan beberapa kali pada hari yang berbeda.
b. Tes darah : Metode ini direkomendasikan dicurigai terdapat parasit
histolytica di dinding usus atau organ tubuh lainnya. Tes ini juga dapat
dilakukan untuk memeriksa kondisi terkait, seperti anaemia.
c. Kolonoskopi : Dokter akan mengevaluasi kondisi kolon (usus besar) dan
banyaknya parasit yang ada dengan menggunakan alat khusus seperti selang tipis
yang dilengkapi kamera. Jika diperlukan, biopsi hati (pengambilan sampel
jaringan hati untuk diperiksa di laboratorium) dapat sekaligus dilakukan dalam
prosedur ini.
d. Pemindaian, seperti CT scan atau USG, untuk memeriksa jika terdapat peradangan
pada organ tertentu.
e. Tes jarum : Tes ini biasanya dilakukan saat ada penumpukan nanah (abses)
pada hati.
5. Manifestasi Klinis
Kebanyakan individu yang terinfeksi asimtomatik, dan kista ditemukan
pada tinjanya. Gejala yang biasa terjadi adalah diare, muntah, dan demam. Tinja
lembek atau cair disertai dengan lendir dan darah. Pada infeksi akut
kadang-kadang ditemukan kolik abdomen, kembung, tenesmus dan bising usus yang
hiperaktif. Invasi jaringan terjadi pada 2-8 % individu yang terinfeksi mungkin
berhubungan dengan strain parasit atau status nutrisi dan flora usus.
Manifestasi klinis dari amubiasis yang paling sering disebabkan oleh
invasi lokal pada epitel usus dan penyebaran ke hati. Selain itu amubiasis juga
mencakup dari infeksi amubiasis dari kista yang asimptomatik sampai kolitis
amuba, disentri amuba, ameboma dan penyakit ekstraintestinal.
Infeksi E. histolytica tidak bergejala sama sekali pada 90%
penderita, namun memiliki potensi untuk menjadi invasif sehingga hal tersebut
memerlukan perawatan. Penyakit yang berat lebih banyak ditemukan pada anak yang
lebih muda, wanita hamil, individu dengan malnutrisi dan penderita yang
menggunakan kortikosteroid.
6. Pengobatan Amebiasis
a. Obat antibiotik, seperti metronidazole atau tinidazole, untuk membunuh
bakteri yang ada di dalam hati atau organ lainnya. Obat ini biasa diberikan
bersama dengan antiparasit, seperti diloxanide furoate.
b. Obat antimual bagi penderita yang mengalami gejala mual dan muntah.
c. Pasien amebiasis biasanya akan disarankan untuk mengonsumsi banyak air
putih dan oralit untuk mengganti cairan yang hilang.
d. Jika kondisi yang dialami cukup parah, dokter akan memberikan cairan
infus di rumah sakit.
e. Dalam kasus tertentu, tindakan operasi akan dilakukan jika terjadi
pecahnya abses hati atau jika terdapat lubang di usus.
7. Komplikasi Amebiasis
a. Anemia atau perdarahan usus pada penderita yang mengalami radang usus
besar.
b. Hambatan pada usus dikarenakan gumpalan jaringan pada dinding usus.
c. Pembentukan abses di dalam organ hati setelah bertahun-tahun terjangkit
parasit histolytica.
d. Infeksi pada organ yang terjangkit, termasuk otak dan sistem saraf
pusat.
e. Kematian.
8. Pencegahan Amoebiasis
a. Cuci tangan menggunakan sabun cair setelah buang air kecil atau buang
air besar. Hal ini juga perlu dilakukan setelah mengganti popok bayi dan
sebelum mengolah makanan.
b. Cuci sayur atau buah sampai bersih sebelum dikonsumsi.
c. Cuci peralatan masak sampai bersih sebelum digunakan.
d. Rebus air hingga mendidih sebelum diminum.
e. Jangan mengonsumsi susu atau produk olahannya, seperti keju, tanpa
dimasak atau dipasteurisasi terlebih dahulu.
f. Hindari mengonsumsi makanan atau minuman yang tidak terjamin
kebersihannya, misalnya makanan yang dijual di pinggir jalan.
g. Jangan berbagi pakai alat mandi, seperti handuk atau spons, dengan siapa
pun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar