1.
Kunyit (Curcuma
domestica L.)
a.
Taksonomi
Kingdom :
Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom :
Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi :
Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi :
Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas :
Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas : Commelinidae
Ordo :
Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
(suku jahe-jahean)
Genus :
Curcuma
Spesies : Curcuma
domestica L.
Sinonim : Curcuma longa Val. Curcuma domestica
Rumph. Curcuma longa Linn
Nama
Lokal : Saffron (Inggris), kurkuma
(Belanda), Kunyit (Indonesia), Kunir (Jawa), Koneng (Sunda), Konyet (Madura). (
Arisandi, 2002: 192).
b.
Deskripsi
Kunyit merupakan
tanaman yang mudah diperbanyak dengan stek rimpang berukuran 20-25 gram. Bibit
rimpang harus cukup tua. Kunyit tumbuh dengan baik di tanah yang tata
pengairannya baik, curah hujan 2.000 mm sampai 4.000 mm tiap tahun dan di
tempat yang sedikit terlindung. Tapi untuk menghasilkan rimpang yang lebih
besar diperlukan tempat yang lebih terbuka. Rimpang kunyit berwarna kuning
sampai kuning jingga. (Sumiati, 2004.)
Habitat asli tanaman
ini meliputi wilayah asia khususnya asia tenggara. Tanaman ini kemudian mengalami
persebaran ke daerah Malaysia, Indonesia, Australia bahkan Afrika. Tanaman
kunyit tumbuh bercabang dengan ketinggian 40-100 cm. Batang merupakan batang
semu, tegak, bulat, membentuk rimpang dengan warna hijau kekuningan dan
tersusun dari pelepah daun (agak lunak). Daun tunggal, bentuk bulat telur
(lanset) memanjang hingga 10-40 cm, lebar 8-12,5 cm dan pertulangan menyirip
dengan warna hijau pucat. Berbunga majemuk, berambut, dan bersisik dari
pucuk batang semu, panjang 10-15 cm dengan mahkota sekitar 3 cm dan lebar 1,5
cm, serta berwrna putih/kekuningan. Ujung dan pangkal daun runcing serta tepi
daun rata. Kulit luar rimpang berwarna jingga kecoklatan dan daging buah merah
jingga kekuning-kuningan ( Johani, 2002:14).
|
|
|
Menurut Steenis (2006),
tanaman yang termasuk family Zingiberaceae ini merupakan tanaman herba menahun
dengan akar rimpang. Batang tegak. Daun kerap kali jelas 2 baris dengan pelepah
yang memeluk batang dan lidah diantara batas pelepah dan helain daun. Bunga
zygomorph, berkelamin 2. Kelopak berbentuk tabung dengan ujung yang bertaju
kerap kali terbelah serupa pelepah. Daun mahkota 3, pada pangkalnya melekat.
Benang sari sempurna 1, penghubung benang sari kerap kali lebar, ruang sari 2.
Staminodia hampir selalu 3. Bakal buah tenggelam tenggelam, beruang 3 atau 1.
Tangkai putik sangat langsing, dengan ujung terjepit di antara kedua benang
sari. Kepala sari melebar. Buah kotak kebanyakan berkatup 3, kadang-kadang
tidak pecah.
Menurut Tjitrosoepomo
(2005), rimpang (rhizoma) sesungguhnya adalah batang beserta daunnya yang
terdapat di dalam tanah, bercabang-cabang dan tumbuh mendatar dan dari ujungnya
dapat tumbuh tunas yang muncul di atas tanah dan dapat merupakan suatu tumbuhan
baru. Rimpang disamping digunakan sebagai alat perkembangbiakan juga merupakan
tempat penimbunan zat-zat makanan cadangan.
Akar tinggal pada
kunyit memiliki ciri-ciri yaitu berbentuk bulat atau jorong, bergaris tengah ±5
cm, panjangnya sekitar 2 cm sampai 6 cm, lebar sekitar 1 cm sampai 3 cm. Bagian
tepi akar tersebut berkeriput, bagian luar bewarna coklat muda kemerah-merahan.
(Kartasapoetra, 1996:60)
Dalam kunyit terdapat kandungan
minyak atsiri dan curcumin yang telah teruji dapat meningkatkan daya tahan
makanan terhadap pertumbuhan bakteri dan jamur. Penggunaan kunyit ini dapat
dicampurkan langsung dengan makanan ataupun dibentuk kedalam mikro kapsul dan
dimasukan ke dalam makanan yang ingin diawetkan.
2.
Belimbing Wuluh (Averhoa
bilimbi)
a.
Taksonomi
Kingdom :
Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta
(berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta
(menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta
(berbunga)
Kelas : Magnoliopsida
(berkeping dua / dikotil)
Sub-kelas :
Rosidae
Ordo :
Geraniales
Familia : Oxalidaceae
(suku belimbing-belimbingan)
Genus :
Averrhoa
Spesies : Averrhoa
bilimbi L .
Nama
lokal : Belembeng wuluh
(Palembang), blimbing wuluh (Jawa), limbi (Bima), malimbi (Nias), balimbing(Lampung).
|
|
|
b.
Deskripsi
Pohon kecil, tinggi
mencapai 10 m dengan batang yang tidak begitu besar, mempunyai garis tengah
sekitar 30 cm. Ditanam sebagai pohon buah, kadang tumbuh liar di dataran rendah
sampai 500 mdpl. Pohon yang berasal dari Amerika Tropis ini menghendaki tempat
tumbuh yang tidak ternaungi namun cukup lembab. Belimbing wuluh mempunyi batang
kasar berbenjol-benjol, percabangan sedikit, arahnya condong ke atas. Cabang
muda berambut halus seperti bludru, warnanya coklat muda. Daun berupa daun
majemuk menyirip ganjil dengan 21 – 45 pasang anak daun yang bertangkai pendek,
bentuknya bulat telur sampai jorong, ujung runcing, pangkal membundar, tepi
rata, panjang 2 – 10 cm, lebar 1 – 3 cm, warnanya hijau, permukaan bawah hijau
muda. (Arisandi. 2008)
Menurut Steenis (2006),
tinggi tanaman ini yaitu antara 5 – 12 m. Tanda bekas daun bentuk tonjolan.
Anak daun bentuk bulat telur memanjang, meruncing, 1,5 – 9 kali 1 – 4,5 cm, ke
arah ujung proses semakin besar, bawah hijau biru. Malai bunga kebanyakan
terkumpul rapat, panjangnya 1,5 – 7,5 cm. Bunga sebagian dengan benang sari
pendek dan tangkai 4 mm. Mahkota di tengah bergandengan, bulat telur terbalik
memanjang, dengan pangkal dan tepi pucat. 5 benang sari yang di depan daun
mahkota mereduksi menjadi staminodia. Buah buni bulat memanjang, dengan 5 rusuk
yang tajam, kuning muda, panjang 4 – 13 cm. ditanam sebagai pohon buah,
kadang-kadang menjadi liar.
Perbungaan tanaman ini
berupa malai, berkelompok, keluar dari batang atau percabangan yang besar.
Bunga kecil-kecil berbentuk bintang warnanya ungu kemerahan. Buahnya buah buni,
bentuknya bulat lonjong persegi, panjang 4 – 6,5 cm, warnanya hijau kekuningan.
Bila masak berair banyak, rasanya asam. Biji bentuknya bulat telur, gepeng.
(Arisandi. 2008).
Dalam tanaman belimbing
wuluh terdapat kandungan bahan metabolit sekunder seperti tanin, flavonoid,
alkaloid, terpenoid dan saponin yang dapat digunakan sebagai senyawa
antibakteri. Penggunaan tanaman ini sebagai bahan pengawet dapat dilakukan
dengan mengambil air penyarian dari bagian buahnya dan direndamkan ke dalam
makanan yang akan diawetkan.
3.
Mengkudu (Morinda
citrifolia L.)
a.
Taksonomi
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan
berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua
/ dikotil)
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : Rubiales
Famili : Rubiaceae (suku kopi-kopian)
Genus : Morinda
Spesies : Morinda citrifolia L.
Nama
lain : Keumeudee (Aceh),
cangkudu (Sunda), kodhuk (Madura), tibah (Bali), noni (Hawaii), ungcoikan
(Myanmar).
b.
Deskripsi
Tanaman ini tumbuh di
dataran rendah hingga pada ketinggian 1500 m. Tinggi pohon mengkudu mencapai
3-8 m, memiliki bunga bongkol berwarna putih. Tumbuh liar di tepi pantai dan
ditanam di seluruh Nusantara. Tumbuhan ini dapat tumbuh pada lahan dengan
ketinggian 1-1500 m dpl. Daunnya bersusun berhadapan, panjang daun 20-40 cm dan
lebar 7-15 cm. Pohon mengkudu tidak begitu besar, tingginya antara 4-6 m.
batang bengkok-bengkok, berdahan kaku, kasar, dan memiliki akar tunggang yang
tertancap dalam. Kulit batang cokelat keabu-abuan atau cokelat
kekuning-kuniangan, berbelah dangkal, tidak berbulu,anak cabangnya bersegai
empat. Tajuknya suklalu hijau sepanjang tahun. Kayu mengkudu mudah sekali
dibelah setelah dikeringkan. Bisa digunakan untuk penopang tanaman lada.
Berdaun tebal
mengkilap. Daun mengkudu terletak berhadap-hadapan. Ukuran daun besar-besar,
tebal, dan tunggal. Bentuknya jorong-lanset, berukuran 15-50 x 5-17 cm. tepi
daun rata, ujung lancip pendek. Pangkal daun berbentuk pasak. Urat daun
menyirip. Warna hiaju mengkilap, tidak berbulu. Pangkal daun pendek, berukuran
0,5-2,5 cm. ukuran daun penumpu bervariasi, berbentuk segi tiga lebar. Daun
mengkudu dapat dimakan sebagai sayuran. Nilai gizi tinggi karena banyak
mengandung vitamin A .
Kelopak bunga tumbuh
menjadi buah bulat lonjong sebesar telur ayam bahkan ada yang berdiameter
7,5-10 cm. Permukaan buah seperti terbagi dalam sel-sel poligonal (segi banyak)
yang berbintik-bintik dan berkutil. Mula-mula buah berwarna hijau, menjelang
masak menjadi putih kekuningan. Setelah matang, warnanya putih transparan dan
lunak. Daging buah tersusun dari buah-buah batu berbentuk piramida, berwarna
cokelat merah. Setelah lunak, daging buah mengkudu banyak mengandung air yang
aromanya seperti keju busuk. Bau itu timbul karena pencampuran antara asam
kaprik dan asam kaproat (senyawa lipid atau lemak yang gugusan molekulnya mudah
menguap, menjadi bersifat seperti minyak atsiri) yang berbau tengik dan asam
kaprilat yang rasanya tidak enak. Buah mengkudu dapat diekstrak dan digunakan
sebagai pengawet karen dapat menghambat pembentukan jasad renik sehingga tidak
terjadi pembusukan.
4.
Daun Suji (Dracaena angustifolia)
a.
Taksonomi
Kingdom :
Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom :
Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi :
Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi :
Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas :
Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Ordo :
Asparagales
Famili :
Ruscaenaceae (Dracaenaceae)
Genus : Dracaena
Spesies :
Dracaena angustifolia
Nama lain :
Daun suji, sujen atau pendusta utan
b.
Deskripsi
Suji merupakan tumbuhan
perdu tahunan tersebar dari India, Birma (Myanmar), Cina bagian selatan,
Thailand, Jawa, Filipina, Sulawesi, Maluku, New Guinea dan Australia bagian
utara. Suji tumbuh subur hingga ketinggian 1000 mdpl dan menyukai daerah
pegunungan atau dekat aliran air (sumur, sungai kecil). Tanaman ini sudah
banyak ditanam di pekarangan rumah penduduk dengan potongan rimpangnya atau
ditanam sebagai pagar hidup, namun belum ditanam dalam skala besar atau
perkebunan.
Merupakan perdu tegak
atau pohon kecil dengan tinggi 6 – 8 m, sering bercabang banyak. Sistem
perakaran berakar tunggang, putih kotor. Batang tegak, berkayu,
beralur melintang, putih kotor. Daun memita-melanset, menyempit di bawah dasar
pelepah, sangat meruncing. Pembungaan malai, bercabang, panjang lebih dari 75
cm. Daun tunggal.berseling, lanset.ujung meruncing, pangkal memeluk batang,
tepi rata, panjang 16-20 cm, lebar 3-4 cm, pertulangan sejajar, hijau tua.
Bunga kekuning-kuningan
– putih. Buah membulat dengan 3 cuping, diameter 1,5-2,5 cm, jingga terang, 1-3
biji. Bunga majemuk tersusun dalam karangan dengan mahkota bunga berwarna putih
kekuningan, kadang-kadang dengan semburat ungu. Buah bulat, diameter 1 cm, hijau. Biji
bulat, putih bening.
5.
Manggis (Garcinia mangostana L.)
a.
Taksonomi
Kingdom :
Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom :
Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi :
Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi :
Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas :
Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas :
Dilleniidae
Ordo :
Theales
Famili :
Clusiaceae
Genus :
Garcinia
Spesies :
Garcinia mangostana L.
Nama
lain : Manggu (Sunda), manggih
(Minangkabau), busutang (Halmahera), sungkup (Dayak), lokopa (Mentawai)
|
|
|
b.
Deskripsi
Manggis adalah sejenis
pohon hijau abadi dari daerah tropika yang diyakini berasal dari Kepulauan
Nusantara. Tumbuh mencapai 7-25 m. Buahnya juga disebut manggis, berwarna merah
keunguan ketika matang, meskipun ada pula varian yang kulitnya berwarna merah.
Memiliki batang kayu
keras. Cabangnya teratur, berkulit coklat, dan bergetah. Daun oval memanjang,
meruncing pendek. 2 daun kelopak yang terluar hijau kuning, 2 yang terdalam
lebih kecil, bertepi merah, melengkung kuat, tumpul. Daun mahkota bentuk telur
terbalik, berdaging tebal, hijau kuning, tepi merah atau hamper semua merah.
Staminodia kerap kali dalam kelompok. Bakal buah beruang 4-8. Kepala putik
berjari-jari 4-8. Buah bentuk bola tertekan, garis tengah 3,5-7 cm, ungu tua,
deengan kepala putik duduk, besar dan kelopak tetap. Dinding buah tebal,
berdaging, ungu, dengan getah kuning. Biji 1-3, diselimuti oleh selaput
bijiyang tebal berair, putih, dapat dimakan (juga biji yang gagal tumbuh
sempurna).
Tanaman ini
dimanfaatkan sebagai bahan pengawet dengan menggunakan bagian batangnya yang
diolah karena mengandung flavonoid dan glikosida. Zat tersebut dapat menghambat
tumbuhnya bakteri dan jamur.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar