Welcome to my blog, semoga informasinya bisa bermanfaat ...
Thank's for visit guys...

Sabtu, 03 Februari 2018

Tanaman Sebagai Pengawet Alami


1.      Kunyit (Curcuma domestica L.)
a.      Taksonomi
Kingdom             : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom        : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi         : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi                   : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas                   : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas            : Commelinidae
Ordo                    : Zingiberales
Famili                  : Zingiberaceae (suku jahe-jahean)
Genus                  : Curcuma
Spesies                 : Curcuma domestica L.
Sinonim               : Curcuma longa Val. Curcuma domestica Rumph. Curcuma longa Linn
Nama Lokal         : Saffron (Inggris), kurkuma (Belanda), Kunyit (Indonesia), Kunir (Jawa), Koneng (Sunda), Konyet (Madura). ( Arisandi, 2002: 192).
b.      Deskripsi
Kunyit merupakan tanaman yang mudah diperbanyak dengan stek rimpang berukuran 20-25 gram. Bibit rimpang harus cukup tua. Kunyit tumbuh dengan baik di tanah yang tata pengairannya baik, curah hujan 2.000 mm sampai 4.000 mm tiap tahun dan di tempat yang sedikit terlindung. Tapi untuk menghasilkan rimpang yang lebih besar diperlukan tempat yang lebih terbuka. Rimpang kunyit berwarna kuning sampai kuning jingga. (Sumiati, 2004.)
Habitat asli tanaman ini meliputi wilayah asia khususnya asia tenggara. Tanaman ini kemudian mengalami persebaran ke daerah Malaysia, Indonesia, Australia bahkan Afrika. Tanaman kunyit tumbuh bercabang dengan ketinggian 40-100 cm. Batang merupakan batang semu, tegak, bulat, membentuk rimpang dengan warna hijau kekuningan dan tersusun dari pelepah daun (agak lunak). Daun tunggal, bentuk bulat telur (lanset) memanjang hingga 10-40 cm, lebar 8-12,5 cm dan pertulangan menyirip dengan  warna hijau pucat. Berbunga majemuk, berambut, dan bersisik dari pucuk batang semu, panjang 10-15 cm dengan mahkota sekitar 3 cm dan lebar 1,5 cm, serta berwrna putih/kekuningan. Ujung dan pangkal daun runcing serta tepi daun rata. Kulit luar rimpang berwarna jingga kecoklatan dan daging buah merah jingga kekuning-kuningan ( Johani, 2002:14).

Menurut Steenis (2006), tanaman yang termasuk family Zingiberaceae ini merupakan tanaman herba menahun dengan akar rimpang. Batang tegak. Daun kerap kali jelas 2 baris dengan pelepah yang memeluk batang dan lidah diantara batas pelepah dan helain daun. Bunga zygomorph, berkelamin 2. Kelopak berbentuk tabung dengan ujung yang bertaju kerap kali terbelah serupa pelepah. Daun mahkota 3, pada pangkalnya melekat. Benang sari sempurna 1, penghubung benang sari kerap kali lebar, ruang sari 2. Staminodia hampir selalu 3. Bakal buah tenggelam tenggelam, beruang 3 atau 1. Tangkai putik sangat langsing, dengan ujung terjepit di antara kedua benang sari. Kepala sari melebar. Buah kotak kebanyakan berkatup 3, kadang-kadang tidak pecah.
Menurut Tjitrosoepomo (2005), rimpang (rhizoma) sesungguhnya adalah batang beserta daunnya yang terdapat di dalam tanah, bercabang-cabang dan tumbuh mendatar dan dari ujungnya dapat tumbuh tunas yang muncul di atas tanah dan dapat merupakan suatu tumbuhan baru. Rimpang disamping digunakan sebagai alat perkembangbiakan juga merupakan tempat penimbunan zat-zat makanan cadangan.
Akar tinggal pada kunyit memiliki ciri-ciri yaitu berbentuk bulat atau jorong, bergaris tengah ±5 cm, panjangnya sekitar 2 cm sampai 6 cm, lebar sekitar 1 cm sampai 3 cm. Bagian tepi akar tersebut berkeriput, bagian luar bewarna coklat muda kemerah-merahan. (Kartasapoetra, 1996:60)
Dalam kunyit terdapat kandungan minyak atsiri dan curcumin yang telah teruji dapat meningkatkan daya tahan makanan terhadap pertumbuhan bakteri dan jamur. Penggunaan kunyit ini dapat dicampurkan langsung dengan makanan ataupun dibentuk kedalam mikro kapsul dan dimasukan ke dalam makanan yang ingin diawetkan.

2.      Belimbing Wuluh (Averhoa bilimbi)
a.      Taksonomi
Kingdom             : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom        : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio        : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio                 : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas                   : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub-kelas             : Rosidae
Ordo                    : Geraniales
Familia                 : Oxalidaceae (suku belimbing-belimbingan)
Genus                  : Averrhoa
Spesies                 : Averrhoa bilimbi L .
Nama lokal          : Belembeng wuluh (Palembang), blimbing wuluh (Jawa), limbi (Bima), malimbi (Nias), balimbing(Lampung).



b.      Deskripsi
Pohon kecil, tinggi mencapai 10 m dengan batang yang tidak begitu besar, mempunyai garis tengah sekitar 30 cm. Ditanam sebagai pohon buah, kadang tumbuh liar di dataran rendah sampai 500 mdpl. Pohon yang berasal dari Amerika Tropis ini menghendaki tempat tumbuh yang tidak ternaungi namun cukup lembab. Belimbing wuluh mempunyi batang kasar berbenjol-benjol, percabangan sedikit, arahnya condong ke atas. Cabang muda berambut halus seperti bludru, warnanya coklat muda. Daun berupa daun majemuk menyirip ganjil dengan 21 – 45 pasang anak daun yang bertangkai pendek, bentuknya bulat telur sampai jorong, ujung runcing, pangkal membundar, tepi rata, panjang 2 – 10 cm, lebar 1 – 3 cm, warnanya hijau, permukaan bawah hijau muda. (Arisandi. 2008)
Menurut Steenis (2006), tinggi tanaman ini yaitu antara 5 – 12 m. Tanda bekas daun bentuk tonjolan. Anak daun bentuk bulat telur memanjang, meruncing, 1,5 – 9 kali 1 – 4,5 cm, ke arah ujung proses semakin besar, bawah hijau biru. Malai bunga kebanyakan terkumpul rapat, panjangnya 1,5 – 7,5 cm. Bunga sebagian dengan benang sari pendek dan tangkai 4 mm. Mahkota di tengah bergandengan, bulat telur terbalik memanjang, dengan pangkal dan tepi pucat. 5 benang sari yang di depan daun mahkota mereduksi menjadi staminodia. Buah buni bulat memanjang, dengan 5 rusuk yang tajam, kuning muda, panjang 4 – 13 cm. ditanam sebagai pohon buah, kadang-kadang menjadi liar.
Perbungaan tanaman ini berupa malai, berkelompok, keluar dari batang atau percabangan yang besar. Bunga kecil-kecil berbentuk bintang warnanya ungu kemerahan. Buahnya buah buni, bentuknya bulat lonjong persegi, panjang 4 – 6,5 cm, warnanya hijau kekuningan. Bila masak berair banyak, rasanya asam. Biji bentuknya bulat telur, gepeng. (Arisandi. 2008).
Dalam tanaman belimbing wuluh terdapat kandungan bahan metabolit sekunder seperti tanin, flavonoid, alkaloid, terpenoid dan saponin yang dapat digunakan sebagai senyawa antibakteri. Penggunaan tanaman ini sebagai bahan pengawet dapat dilakukan dengan mengambil air penyarian dari bagian buahnya dan direndamkan ke dalam makanan yang akan diawetkan.

3.      Mengkudu (Morinda citrifolia L.)
a.      Taksonomi
Kingdom            : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom       : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi       : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi                  : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas                  : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas           : Asteridae
Ordo                   : Rubiales
Famili                 : Rubiaceae (suku kopi-kopian)
Genus                 : Morinda
Spesies               : Morinda citrifolia L.
Nama lain           : Keumeudee (Aceh), cangkudu (Sunda), kodhuk (Madura), tibah (Bali), noni (Hawaii), ungcoikan (Myanmar).




b.      Deskripsi
Tanaman ini tumbuh di dataran rendah hingga pada ketinggian 1500 m. Tinggi pohon mengkudu mencapai 3-8 m, memiliki bunga bongkol berwarna putih. Tumbuh liar di tepi pantai dan ditanam di seluruh Nusantara. Tumbuhan ini dapat tumbuh pada lahan dengan ketinggian 1-1500 m dpl. Daunnya bersusun berhadapan, panjang daun 20-40 cm dan lebar 7-15 cm. Pohon mengkudu tidak begitu besar, tingginya antara 4-6 m. batang bengkok-bengkok, berdahan kaku, kasar, dan memiliki akar tunggang yang tertancap dalam. Kulit batang cokelat keabu-abuan atau cokelat kekuning-kuniangan, berbelah dangkal, tidak berbulu,anak cabangnya bersegai empat. Tajuknya suklalu hijau sepanjang tahun. Kayu mengkudu mudah sekali dibelah setelah dikeringkan. Bisa digunakan untuk penopang tanaman lada.
Berdaun tebal mengkilap. Daun mengkudu terletak berhadap-hadapan. Ukuran daun besar-besar, tebal, dan tunggal. Bentuknya jorong-lanset, berukuran 15-50 x 5-17 cm. tepi daun rata, ujung lancip pendek. Pangkal daun berbentuk pasak. Urat daun menyirip. Warna hiaju mengkilap, tidak berbulu. Pangkal daun pendek, berukuran 0,5-2,5 cm. ukuran daun penumpu bervariasi, berbentuk segi tiga lebar. Daun mengkudu dapat dimakan sebagai sayuran. Nilai gizi tinggi karena banyak mengandung vitamin A .
Kelopak bunga tumbuh menjadi buah bulat lonjong sebesar telur ayam bahkan ada yang berdiameter 7,5-10 cm. Permukaan buah seperti terbagi dalam sel-sel poligonal (segi banyak) yang berbintik-bintik dan berkutil. Mula-mula buah berwarna hijau, menjelang masak menjadi putih kekuningan. Setelah matang, warnanya putih transparan dan lunak. Daging buah tersusun dari buah-buah batu berbentuk piramida, berwarna cokelat merah. Setelah lunak, daging buah mengkudu banyak mengandung air yang aromanya seperti keju busuk. Bau itu timbul karena pencampuran antara asam kaprik dan asam kaproat (senyawa lipid atau lemak yang gugusan molekulnya mudah menguap, menjadi bersifat seperti minyak atsiri) yang berbau tengik dan asam kaprilat yang rasanya tidak enak. Buah mengkudu dapat diekstrak dan digunakan sebagai pengawet karen dapat menghambat pembentukan jasad renik sehingga tidak terjadi pembusukan.

4.      Daun Suji  (Dracaena angustifolia)
a.      Taksonomi
Kingdom             : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom        : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi         : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi                   : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas                   : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Ordo                    : Asparagales
Famili                  : Ruscaenaceae (Dracaenaceae)
Genus                  : Dracaena
Spesies                 : Dracaena angustifolia
Nama lain            : Daun suji, sujen atau pendusta utan



b.      Deskripsi
Suji merupakan tumbuhan perdu tahunan tersebar dari India, Birma (Myanmar), Cina bagian selatan, Thailand, Jawa, Filipina, Sulawesi, Maluku, New Guinea dan Australia bagian utara. Suji tumbuh subur hingga ketinggian 1000 mdpl dan menyukai daerah pegunungan atau dekat aliran air (sumur, sungai kecil). Tanaman ini sudah banyak ditanam di pekarangan rumah penduduk dengan potongan rimpangnya atau ditanam sebagai pagar hidup, namun belum ditanam dalam skala besar atau perkebunan.
Merupakan perdu tegak atau pohon kecil dengan tinggi 6 – 8 m, sering bercabang banyak. Sistem perakaran  berakar  tunggang, putih kotor. Batang tegak, berkayu, beralur melintang, putih kotor. Daun  memita-melanset, menyempit di bawah dasar pelepah, sangat meruncing. Pembungaan malai, bercabang, panjang lebih dari 75 cm. Daun tunggal.berseling, lanset.ujung meruncing, pangkal memeluk batang, tepi rata, panjang 16-20 cm, lebar 3-4 cm, pertulangan sejajar, hijau tua.
Bunga kekuning-kuningan – putih. Buah membulat dengan 3 cuping, diameter 1,5-2,5 cm, jingga terang, 1-3 biji. Bunga majemuk tersusun dalam karangan dengan mahkota bunga berwarna putih kekuningan, kadang-kadang dengan semburat ungu.  Buah  bulat, diameter 1 cm, hijau. Biji  bulat, putih bening.

5.      Manggis  (Garcinia mangostana L.)
a.      Taksonomi
Kingdom             : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom        : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi         : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi                   : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas                   : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas            : Dilleniidae
Ordo                    : Theales
Famili                  : Clusiaceae
Genus                  : Garcinia
Spesies                 : Garcinia mangostana L.
Nama lain            : Manggu (Sunda), manggih (Minangkabau), busutang (Halmahera), sungkup (Dayak), lokopa (Mentawai)



b.      Deskripsi
Manggis adalah sejenis pohon hijau abadi dari daerah tropika yang diyakini berasal dari Kepulauan Nusantara. Tumbuh mencapai 7-25 m. Buahnya juga disebut manggis, berwarna merah keunguan ketika matang, meskipun ada pula varian yang kulitnya berwarna merah.
Memiliki batang kayu keras. Cabangnya teratur, berkulit coklat, dan bergetah. Daun oval memanjang, meruncing pendek. 2 daun kelopak yang terluar hijau kuning, 2 yang terdalam lebih kecil, bertepi merah, melengkung kuat, tumpul. Daun mahkota bentuk telur terbalik, berdaging tebal, hijau kuning, tepi merah atau hamper semua merah. Staminodia kerap kali dalam kelompok. Bakal buah beruang 4-8. Kepala putik berjari-jari 4-8. Buah bentuk bola tertekan, garis tengah 3,5-7 cm, ungu tua, deengan kepala putik duduk, besar dan kelopak tetap. Dinding buah tebal, berdaging, ungu, dengan getah kuning. Biji 1-3, diselimuti oleh selaput bijiyang tebal berair, putih, dapat dimakan (juga biji yang gagal tumbuh sempurna).
Tanaman ini dimanfaatkan sebagai bahan pengawet dengan menggunakan bagian batangnya yang diolah karena mengandung flavonoid dan glikosida. Zat tersebut dapat menghambat tumbuhnya bakteri dan jamur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar