Welcome to my blog, semoga informasinya bisa bermanfaat ...
Thank's for visit guys...

Sabtu, 03 Februari 2018

LAPORAN PRAKTIKUM "KOEFISIEN DISTRIBUSI DAN TETAPAN KESETIMBANGAN REAKSI"

TEORI DASAR

A.      Landasan Teoretis
Di alam, sebagian besar zat ditemukan dalam bentuk campuran atau senyawa. Jika suatu zat dalam bentuk murni atau senyawa ingin didapatkan maka suatu campuran perlu dipisahkan. Memisahkan suatu zat dari campurannya dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu tergantung jenis dan ukuran zat itu sebelumnya. Ada beberapa cara memisahkan zat dari campurannya, yaitu
1.      Dekantasi
Metode pemisahan ini tergolong sederhana. Dekantasi digunakan untuk memisahkan zat padat dari larutannya.
2.      Penyaringan (Filtrasi)
Campuran dua zat yang memiliki ukuran berbeda dapat dipisahkan dengan teknik penyaringan (filtrasi). Teknik ini membutuhkan alat berpori (penyaring/filtrasi). Hasil dari penyaringan (filtrasi) disebut filtrat.
3.      Penyulingan (Destilasi)
Penyulingan (destilasi) merupakan salah satu metode untuk memisahkan campuran dengan menguapkan suatu zat, kemudian mengembunkannya kembali. Distilasi dapat dilakukan jika titik didih zat-zat yang bercampur berbeda.
4.      Kromatografi
Proses pemisahan berdasarkan sifat adsopsinya dan partisi zat tersebut terhadap sistem lain.
5.      Rekristalisasi
Merupakan proses pemisahan berdasarkan perbedaan titik beku pada komponen dengan perbedaan wujud zat yang akan dipisahkan.
6.      Ekstraksi
Proses pemisahan berdasarkan perbedaan kelarutan zat terhadap dua pelarut berbeda.

B.     Koefisien Distribusi
Ekstraksi-cair-cair tak kontinyu atau dapat disebut juga ekstraksi bertahap merupakan cara yang paling sederhana. Ekstraksi bertahap baik digunakan jika perbandingan distribusi besar. Alat pemisah yang biasa digunakan pada ekstraksi bertahap adalah corong pemisah.
Kesempurnaan ekstraksi bergantung pada banyaknya ekstraksi yang dilakukan. Semakin sering kita melakuka ekstraksi, maka semakin banyak zat terlarut terdistribusi pada salah satu pelarut dan semakin sempurna proses pemisahannya. Jumlah pelarut yang digunakan untuk tiap kali mengekstraksi juga sedikitagar dicapai kesempurnaan ekstraksi. Hasil yang baik diperoleh dengan jumlah ekstraksi yang relatif besar dengan jumlah pelarut yang kecil.
Senyawa-senyawa organik umumnya relatif lebih suka larut ke dalam pelarut-pelarut organik daripada ke dalam air, sehingga senyawa-senyawa organik mudah dipisahkan dari campurannya yang mengandung air atau larutannya.
Bila zat padat atau zat cair dicampur ke dalam dua pelarut yang berbeda atau tidak saling bercampur, maka zat tersebut akan terdistribusi ke dalam dua pelarut dengan kemampuan kelarutannya. Koefisien distribusi adalah perbandingan konsentrasi kesetimbangan zat dalam dua pelarut yang berbeda yang tidak bercampur. Faktor yang mempengaruhi koefisien distribusi adalah konsentrasi zat terlarut dalam kedua pelarut.
Fenomena distribusi adalah suatu fenomena dimana distribusi suatu senyawa antara dua fase cair yang tidak saling bercampur, tergantung pada interaksi fisik dan kimia antara pelarut dan senyawa terlarut dalam dua fase.Suatu zat dapat larut dalam dua macam pelarut yang keduanya tidak saling bercampur. Jika kelebihan campuran atau zat padat ditambahkan ke dalam cairan yang tidak saling bercampur tersebut maka zat tersebut akan mendistribusikan diri di antara dua fase sehingga masing-masing menjadi jenuh. Ada beberapa istilah yang digunakan dalam larutan yaitu
a.       Larutan jenuh adalah suatu larutan di mana zat terlarut berada dalam kesetimbangan dengan fase padat (zat terlarut).
b.      Larutan tidak jenuh atau hampir jenuh adalah suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi yang dibutuhkan untuk penjenuhan sempurna pada temperatur tertentu.
c.       Larutan lewat jenuh adalah larutan yang mengandung jumlah zat terlarut dalam konsentrasi yang lebih banyak daripada yang seharusnya pada temperatur tertentu.
Dalam hal ini dikenal salah satu hukum yang sangat berpengaruh yakni hukum Nernst, yang berbunyi
“Suatu zat yang terlarut akan membagi diri antara dua pelarut yang tidak saling melarutkan sedemikian rupa, sehingga perbandingan aktivitas pada keadaan setimbang dan suhu tertentu adalah tetap.”
Jadi bila ke dalam kedua pelarut yang tidak saling bercampur dimasukkan solut yang dapat larut dalam kedua pelarut tersebut maka akan terjadi pembagian kelarutan. Kedua pelarut tersebut umumnya pelarut organik dan air. Dalam praktek solut akan terdistribusi dengan sendirinya ke dalam dua pelarut tersebut setelah di kocok dan dibiarkan terpisah. Perbandingan konsentrasi solut di dalam kedua pelarut tersebut tetap, dan merupakan suatu tetapan pada suhu tetap. Tetapan tersebut disebut tetapan distribusi atau koefisien distribusi.Koefisien distribusi dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :
KD
=
C2
atau
KD
=
Co
C1
Ca







Dari rumus tersebut  jika harga KD besar, solute secara kuantitatif akan cenderung terdistribusi lebih banyak ke dalam pelarut organik begitu pula sebaliknya. Rumus tersebut hanya berlaku bila:
a.       Solute tidak terionisasi dalam salah satu pelarut
b.      Solute tidak berasosiasi dalam salah satu pelarut
c.       Zat terlarut tidak dapat bereaksi dengan salah satu pelarut atau adanya reaksi- reaksi lain.
Angka banding distribusi menyatakan perbandingan konsentrasi total zat terlarut dalam pelarut organik (fasa organik) dan pelarut air (fasa air). Untuk keperluan analisis kimia angka banding distribusi (D) akan lebih bermakna daripada koefisien distribusi (KD). Pada kondisi ideal dan tidak terjadi asosiasi, disosiasi atau polimerisasi, maka harga KD sama dengan D.

C.      Tetapan Kesetimbangan Reaksi
Tetapan kesetimbangan adalah hasil perkalian konsentrasi hasil reaksi dibagi perkalian konsentrasi pereaksi yang masing-masing dipangkatkan koefisiennya. Dalam kesetimbangan homogen, rumusan Kc dihitung dari konsentrasi semua zat yang terlibat dalam reaksi dan perbandingan konsentrasi pereaksi dan hasil reaksi tergantung pada suhu dan jenis reaksi kesetimbangan. Dalam hal ini dikenal suatu asas Lie Chatelier yang memungkinkan kita untu meramalkan arah dari suatu reaksi kesetimbangan. Asas tersebut berbunyi
“Ketika sistem kesetimbangan dilakukan perubahan karena konsentrasi suhu, volume atau tekanan, maka sistem akan menyesuaikan diri sedemikian rupa meniadakan pengaruh perubahan dan akan menghasilkan kesetimbangan baru”
Pada tahun 1866, dua orang ahli kimia Norwegia, Cato Maximilian Guldberg (1836–1902) dan Peter Waage (1833–1900) mengemukakan suatu hukum kesetimbangan, yakni
“Jika hasil kali konsentrasi hasil reaksi yang dipangkatkan koefisiennya dibandingkan terhadap hasil kali konsentrasi pereaksi yang dipangkatkan koefisienya ternyata perbandingan itu senantiasa tetap”
Tetapan kesetimbangan reaksi dapat dirumuskan menjadi
Kc
=
{zat ruas kanan}koefisien
{zat ruas kiri}koefisien

Berikut contoh tetapan kesetimbangan reaksi
CaCO3(s)
+
2H2O(l)
Ca(OH)2(aq)
+
H2CO3(aq)







Untuk menghitung Kc maka koefisien reaksinya adalah 1-2-1-1
Kc
=
{Ca(OH)2}1
X
{H2CO3}1
1
X
1
=
{Ca(OH)2}{H2CO3}

D.    Hal Penting Mengenai Tetapan Kesetimbangan ( Kc)
a.       Bila harga Kc>1,berarti hasil reaksi pada kesetimbangan lebih banyak daripada pereaksi.
b.      Bila harga Kc<1,berarti hasil reaksi pada kesetimbangan lebih sdikit daripada pereaksi, berarti system belum mencapai kesetimbangan.
c.       Harga K hanya dipengaruhi oleh suhu. Selama suhu tetap, harga K tetap.
Harga K akan berubah jika:
a.       Pada reaksi endotermis, K berbanding lurus dengan suhu
d.      Pada reaksi eksotermis, K terbalik dengan suhu
e.       Setiap reaksi memiliki harga K yang dapat dibandingkan antara  satu dengan yang lainnya.
f.       Untuk campuran gas dengan padat, yang diperhitungkan hanya zat yang berfasa gas.

g.      Untuk campuran larutan dengan padat, yang diperhitungkan hanya larutan saja.

METODE PERCOBAAN

A.      Alat dan Bahan
1.    Alat
§  Beaker glass
§  Botol tertutup 250 ml
§  Buret 50 ml
§  Corong pisah gelas 250 ml
§  Erlenmeyer
§  Gelas ukur 50 ml dan 10 ml
§  Pipet
2.    Bahan
§  Aquades
§  Amilum
§  Kloroform (CHCl3)
§  Larutan iodium dalam kloroform
§  Natrium Tiosulfat (Na2S2O3)

B.       Prosedur Kerja

 







C.      Data Hasil Praktikum
Nama Campuran
V Na2S2O3 (ml)
Botol I
Botol II
Botol III
I2 dalam H2O
2
1,8
1,4
I2 dalam CHCl3
113
62
34

a.       Botol I
Konsentrasi I2 dalam H2O
V1
x
N1
=
V2
x
N2
2 ml
x
0,01 N
=
5 ml
x
N2
0,02
=
5 ml
x
N2
0,02 : 5
=
N2
0,004 N
=
N2



Konsentrasi I2 dalam CHCl3
V1
x
N1
=
V2
x
N2
113 ml
x
0,01 N
=
2 ml
x
N2
1,13
=
2 ml
x
N2
1,13 : 2
=
N2
0,565 N
=
N2

Nilai Ketetapan dasar (KD)
KD
=
C2
:
C1
=
0,565 N
:
0,004 N
=
141,3

b.      Botol II
Konsentrasi I2 dalam H2O
V1
x
N1
=
V2
x
N2
1,8 ml
x
0,01 N
=
5 ml
x
N2
0,018
=
5 ml
x
N2
0,018 : 5
=
N2
0,0036 N
=
N2

Konsentrasi I2 dalam CHCl3
V1
x
N1
=
V2
x
N2
62 ml
x
0,01 N
=
1,9 ml
x
N2
0,62
=
1,9 ml
x
N2
0,62 : 1,9
=
N2
0,326 N
=
N2

Nilai Ketetapan dasar (KD)
KD
=
C2
:
C1
=
0,326 N
:
0,0036 N
=
90,643


c.       Botol III
Konsentrasi I2 dalam H2O
V1
x
N1
=
V2
x
N2
1,4 ml
x
0,01 N
=
5 ml
x
N2
0,014
=
5 ml
x
N2
0,014 : 5
=
N2
0,0028 N
=
N2

Konsentrasi I2 dalam CHCl3
V1
x
N1
=
V2
x
N2
34 ml
x
0,01 N
=
1,4 ml
x
N2
0,34
=
1,4 ml
x
N2
0,34 : 1,4
=
N2
0,24 N
=
N2

Nilai Ketetapan dasar (KD)
KD
=
C2
:
C1
=
0,24 N
:
0,0028 N
=
86,428

PEMBAHASAN

Percobaan kali ini bertujuan untuk mengetahui koefisien distribusi dari campuran iod, kloroform dan H2O. Prinsip percobaan pada praktikum adalah hukum distribusi dimana zat terlarut Iodium terdistribusi ke dalam dua pelarut yang tidak saling bercampur yaitu air dan kloroform. Metode yang digunakan adalah ekstraksi cair-cair secara bertahap dengan alat berupa corong pisah. Untuk percobaan disediakan 3 buah botol dengan botol I yang berisi 40ml H2O dan 4ml larutan I dalam kloroforn. Botol II diisi dengan 40ml H2O, 3ml larutan I2 dalam kloroform dan 1ml kloroform. Kemudian botol III diisi dengan 40ml H2O, 2ml larutan I2 dalam kloroform dan 2ml kloroform. Kemudian ketiga botol tersebut di kocok selama 30 menit. Pengocokkan ini dilakukan dengan tujuan agar Iodium dapat terdistribusi secara maksimal. Pada saat pengocokan dilakukan terjadi tumbukan antar partikel dan senyawa Iod akan terdistribusi dengan sendirinya ke dalam kedua pelarut, sehingga pelarut polar yang berupa air dan kloroform yang merupakan pelarut non polar dapat bercampur. Selama 30 menit waktu pengocokan tersebut sesekali dilakukan pembuangan gas di dalam lemari asam yang dinyalakan. Hal ini bertujuan agar gas uap kloroform yang terbentuk karena pengocokan dapat keluar dan terbuang.
Kemudian pada campuran botol I, II dan III dilakukan proses pemisahan berupa ekstraksi dengan menggunakan corong pisah. Ketika proses ekstraksi selesai terdapat 2 fase dalam corong pisah. Fase atas yang berupa campuran Iod dan H2O memiliki warna oranye kecoklatan dan fase bawah yang berupa campuran Iod dan klorofom berwarna ungu. Kedua campuran tersebut dapat terpisah karena adanya perbedaan kepolaran antara air dan kloroform, dimana air bersifat polar sedangkan kloroform bersifat nonpolar. Selain itu disebabkan adanya perbedaan massa jenis antara air dan kloroform, Massa jenis air adalah 1g/ml sedangkan massa jenis kloroform adalah 1,48g/ml.
Dari ketiga botol percobaan fase iod dalam kloroform kemudian diambil volume yang di dapatkan untuk dilakukan titrasi dengan menggunakan larutan baku Na2S2O3 dan indikator amilum. Titrasi dilakukan dengan warna campuran awal berupa ungu yang kemudian akan berubah menjadi kuning jerami. Disini terjadi reaksi redoks antara iodium sebagai oksidator dan natrium tiosulfat sebagai reduktornya. Iodium akan membentuk iodida dan selanjutnya pembebasan Iodium. lalu ditambahkan indikator amilum dengan hasil akhir berwarna bening. Penambahan amylum yang dilakukan mendekati titik akhir titrasi dimaksudkan supaya amylum tidak membungkus iod karena menyebabkan amylum sukar dititrasi.
Titrasi juga dilakukan pada ketiga botol dengan fase iod dalam H2O dengan volume yang diambil 5ml untuk titrasi dan menggunakan larutan baku Na2S2O3 tanpa menggunakan indikator karena dalam hal ini iod dapat bersifat menjadi indikator alami.
Dari hasil titrasi tersebut didapatkan konsentrasi normalitas iod dalam kloroform untuk masing-masing urutan botol yakni 0,565N, 0,326N dan 0,24N. Kemudian konsentrasi normalitas iod dalam H2O untuk masing-masing urutan botol yakni 0,004N, 0,0036N dan 0,0028N. Kemudian dari kedua nilai konsentrasi tersebut didapatkan nilai koefisien distribusi untk masing-masing urutan botol 141,25, 90,643 dan86,428.
Dari hasil praktikum tersebut didapatkan nilai KD yang semakin menurun. Maka dalam hal ini iod cenderung lebih terdistribusi ke dalam kloroform yang berupa pelarut nonpolar daripada ke dalam air. Kemudian nilai KD juga dipengaruhi oleh konsentrasi Iod , semakin banyak volumenya maka semakin besar nilai KD yang didapatkan dan semakin besar pula distribusi senyawa dalam campuran.

A.      Simpulan
1.    Ketika campuran antara I2, CCl4 dan H2O dicampurkan dan dikocok selama beberapa saat maka terjadi tumbukan partikel sehingga ketiga campuran tersebut dapat bersatu menjadi homogen.
2.    Setelah dilakukan pengocokan maka jika ketiga campuran dalam botol dimasukan ke dalam corong pisah akan terjadi pemisahan kembali campuran dimana I dan CCl4berada di bagian bawah karena memiliki massa jenis yang lebih tinggi dibandingkan antara campuran I2 dan H2O.
3.    Titrasi pada I2 dalam CCl4 akan menimbulkan warna kuning jerami dari warna asal keunguan, hal tersebut terjadi karena terdapat konsentrasi iod yang tinggi dalam campuran dengan larutan baku Na2S2O3yang teroksidasi. Kemudian indikator amilum dipilih karena merupakan reduktor/oksidator lemah sehingga setelah dititrasi menimbulkan warna bening karena tebentuknya ion kompleks.
4.    Pada titrasi I2 dalam H2O tidak digunakan indikator. Warna campuran awal berupa kecoklatan berubah menjadi bening dan tidak diperlukan indikator karena iod dapat bertindak sebagai indikator alami dalam titrasi.
5. Nila KD didapatkan semakin menurun yang terjadi karena iod cenderung lebih terdistribusi ke dalam kloroform yang berupa pelarut nonpolar daripada ke dalam air. Kemudian nilai KD juga dipengaruhi oleh konsentrasi Iod , semakin banyak volumenya maka semakin besar nilai KD yang didapatkan dan semakin besar pula distribusi senyawa dalam campuran.


DAFTAR PUSTAKA

Cammarata, S. 1995. Farmasi Fisika. Jakarta: UI-Press.
Khopkar, S.M. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI Press.
Martin, Alfred. 1993. Farmasi Fisik Jilid II Edisi III. Jakarta: UI-Press.
Polling, C. 1986. Ilmu Kimia. Jakarta: Erlangga.
Soebagio, dkk. 2000. Kimia Analitik II. Malang: Universitas Negeri Malang.
Tim Dosen Kimia Fisik. 2012. Penuntun Praktikum Kimia Fisik I. Makassar : Universitas Negeri Makassar.
Underwood, dkk. 1998. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi V. Jakarta: Erlangga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar