Welcome to my blog, semoga informasinya bisa bermanfaat ...
Thank's for visit guys...
Tampilkan postingan dengan label Farmasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Farmasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Mei 2023

MEKANISME PELEPASAN OBAT

       1. Sistem Matriks

Sistem matrik adalah obat berada didalamnya atau dicampur dengan bahan matrik, dimana matrik dapat berasal dari bahan yang bersifat hidrofil atau hidrofob, sehingga dapat menghalangi pelepasan obat secara cepat (Shargel & Yu, 2005). Sistem matrik merupakan teknik yang paling banyak digunakan karena sangat mudah penerapannya. Obat dengan konsentrasi yang lebih kecil dari matriks akan tersuspensi secara merata dan terlindungi dari adanya air, kemudian obat akan keluar dengan cara berdifusi secara lambat. Pelepasan obat dari matriks terjadi dengan cara hidrasi ketika matriks hidrofilik kontak dengan air. Proses hidrasi ini berkaitan dengan meningkatnya ukuranmolekul polimer sebagai konsekuensi dari masuknya cairan ke dalam sistem matriks. Kemudian polimer akan mengalami transisi dan terbentuk fase luar dari fasa kristalin menjadi rubbery state dan dikenal sebagai lapisan gel. Cairan selanjutnya terus berpenetrasi memasuki lapisan gel dan intitablet yang belum terbasahi. Semakin banyak air yang memasuki sistem matriks makasemakin tebal lapisan gel yang terbentuk.Pada saat yang bersamaan hampir seluruhrantai polimer yang telah terbasahi secara bertahap mengalami relaksasi sampai hilangkonsistensinya dan terjadilah erosi matriks pada tablet.

Sistem pelepasan tablet ini memiliki keuntungan

  • Dapat menjaga konsentrasi terapetik selama periode pengobatan yang diperpanjang
  • Menghindari konsentrasi obat yangtinggi di dalam darah
  • Mengurangi toksisitas dengan memperlambat absorbsi obat
  • Meningkatkan efektifitas pengobatan
  • Mengurangi akumulasi obat untuk obat yangditujukan untuk penyakit kronis
  • Dapat digunakan untuk menghantarkan senyawadengan berat molekul yang tinggi
  • Meningkatkan stabilitas dengan melindungi obat darihidrolisis atau perubahan lingkungan yang ada di saluran pencernaan
  • Mengurangi biaya pengobatan dan meningkatkan kenyamanan pasien

Sedangkan untuk kerugian dari sistem matriks antara lain adalah

  • Sisa matriks yang tersisa setelah obat dilepaskan harus dihilangkan,
  • Tergantung dari waktu tinggal sediaan dalam gastrointestinal dan meningkatnya potensial metabolisme lintas pertama

2. Sistem Mukoadhesif

Mukoadhesif merupakan bentuk sediaan bioadhesif yang membentuk ikatan dengan membran mukosa sehingga dapat meningkatkan waktu tinggal obat. Sistem ini memungkinkan waktu pelepasan dan penyerapan obat lebih lama dan konstan di tempat/ lokasi terjadinya absorpsi, sehingga ketersediaan hayati obat meningkat. Adanya ide pembuatan sediaan mukoadhesif diawali dengan adanya kebutuhan pengobatan secara lokal pada bagian tertentu di saluran pencernaan.

Sistem mukoadhesif digunakan untuk mengatasi keterbatasan waktu tinggal obat dalam lambung. Dengan sistem ini, obat akan ditahan untuk waktu yang lebih lama dalam saluran pencernaan, selain itu dengan adanya lokalisasi obat pada suatu daerah absorbsi, akan menyebabkan proses absorbsi obat menjadi lebih efektif. Dengan diperpanjangnya waktu absoprsi obat dalam lambung diharapkan efek terapeutik dari obat tersebut juga meningkat dan meminimalkan resiko efek samping akibat frekuensi pemberian yang terlalu sering.  Polimer bioadhesif bukan saja mampu memberikan efek adhesif tetapi juga dapat mengontrol laju pelepasan obat.

Mekanisme mukoadhesi adalah sebagai berikut

  • Adanya kontak intim antara bioadhesive dan membran (ada pembasahan atau fenomena pengembangan).
  • Penetrasi bioadhesive ke jaringan atau ke permukaan mukosa (interpenetrasi)

Material mukoadesif kebanyakan adalah dalam bentuk sintetis, hidrofi lik alami, atau polimer yang tidak larut air dan mampu membentuk sejumlah ikatan hidrogen karena adanya gugus karboksil, sulfat atau gugus hidroksi. Polimer sintetis untuk mukoadhesif  misalnya karbomer, hidroksi propil selulosa (HPC), hidroksi propil metil selulosa (HPMC), hidroksi etilselulosa, natrium karbolsimetil selulosa, polimer metakrilat dan polikarbonil. Polimer alami misalnya xantan gum, natrium alginat, gelatin, akasia, dan tragakan. Polimer alami lebih unggul dibandingkan polimer sintetis karena memiliki toksisitas yang rendah dan biodegradasi yang baik sehingga banyak digunakan untuk bahan tambahan sediaan farmasi. Laju pelepasan obat dari polimer alami tergantung pada beberapa faktor yakni faktor fisikokimia dari obat dan polimer, tingkat biodegradasi polimer (Muhidinov et al., 2008), morfologi dan ukuranpartikel, kompatibilitas termodinamika yang ada antara polimer dan zat aktif atau obat, serta sistem penghantarannya (Liu et al., 2004). Meskipun demikian, polimer sintetis seperti HPMC juga memiliki toksisitas yang rendah dan kemudahan dalam manufaktur sehingga polimer ini banyak diaplikasikan sebagai bahan matriks dalam sediaan farmasi

Proses mukoadhesi ditentukan oleh berbagai faktor, baik dari formulasinya maupun dari lingkungan tempat sistem mukoadhesif tersebut diaplikasikan. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi mukoadhesi antara lain

  • Konsentrasi polimer, semakin tinggi konsentrasi polimer yang digunakan maka gaya adhesi akan semakin kuat.
  • Konformasi polimer, konformasi polimer seperti bentuk heliks dapat menyembunyikan gugus aktif polimer sehingga akan menurunkan kekuatan adhesi.
  • Bobot molekul polimer, pada polimer linear semakin besar bobot molekulnya maka kemampuan mukoadhesif akan semakin tinggi pula.
  • Fleksibilitas rantai polimer, penting untuk interpenetrasi dan pengikatan rantai polimer dengan rantai musin. Jika penetrasi rantai polimer ke mukosa berkurang, maka akan menurunkan kekuatan mukoadhesif.
  • Derajat hidrasi, jika berlebihan akan mengurangi kemampuan mukoadhesif karena pembentukan mucilage yang licin.
  • pH, dapat mempengaruhi muatan pada permukaan mukosa dan polimer sehingga akan mempengaruhi adhesi.
  • Waktu kontak awal antara sistem mukoadhesif dan lapisan mukosa, semakin tinggi waktu kontak awal maka kemampuan mukoadhesif juga akan meningkat.
  • Variasi fisiologis, seperti ketebalan mucus dan pergantianmusin dapat mempengaruhi mukoadhesi.

    3. Sistem difusi

Mekanisme pelepasan difusi adalah suatu proses dimana matrik yang dilindungi oleh suatu membran yang tidak larut, sehingga laju pelepasan obat diatur oleh permeabilitas membran atau  matrik dan matrik sulit terkikis oleh medium. Sedangkan mekanisme pelepasan erosi adalah suatu matrik akan mengalami pengikisan karena adanya komponen penyusun tablet yang terlarut sehingga tablet hancur dan zat aktif dilepaskan.

Difusi bukan satu-satunya cara pelepasan obat dari matriks, tetapi erosi matriks yang mengikuti relaksasi dari polimer juga mengambil peran dalam pelepasan obat. Kontribusi relatif dari masing-masing komponen pada pelepasan total terutama tergantung pada sifat bahan obat. Penetrasi air ke dalam polimer menyebabkan pengembangan polimer, dan pada saat yang bersamaan, obat yang larut akan berdifusi melalui polimer yang mengembang ke media luar.

Minggu, 06 Januari 2019

Tablet

A. Latar Belakang

Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang banyak diproduksi dan disukai oleh masyarakat karena tablet mempunyai beberapa keuntungan diantaranya adalah ketepatan dosis, mudah cara pemakaiannya, relatif stabil dalam penyimpanan, mudah dalam transportasi dan distribusi kepada konsumen, serta harganya relatif murah. (Banker dan Anderson, 1986).

Hampir semua tablet memerlukan penambahan komponen atau eksipien untuk   berbagai   tujuan   dengan   zat   aktif   dalam   formulasi.   Hal   ini   untuk memperoleh sifat fisik, kimia dan mekanik agar memenuhi persyaratan resmi (farmakope) dan persyaratan industri yang dapat diterima serta untuk membantu dan memudahkan pembuatannya. Dalam formulasi tablet pada umumnya dapat ditambahkan zat pengisi, pengikat, disintegran, lubrikan, glidan, zat warna dan sebagainya, agar memenuhi fungsi farmasetik seperti tersebut diatas. (Siregar dan Wikarsa, 2010).

Bahan tambahan memegang peranan penting dalam pembuatan tablet, diantaranya bahan pengahncur (disintegran). Bahan penghancur berfungsi melawan aksi bahan pengikat dari tablet dan melawan tekanan pada saat pentabletan. Bahan ini akan menghancurkan tablet bila bersentuhan dengan air atau cairan saluran pencernaan (Voigt, 1984).

Karakterisasi dari sifat fisika kimia bahan obat merupakan salah satu langkah penting dalam pembuatan bentuk sediaan padat. Identifikasi sifat kimia, terutama kemurniannya adalah sangat penting. Selain itu, sifat fisik dari bahan aktif farmasetik seperti kelarutan, polimorfisme, higroskopisitas, ukuran partikel, densitas dan lain-lain harus diperhatikan. (Niazi, 2009).


B. Tablet 

Menurut Farmakope Indonesia edisi III tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung putih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang cocok.

Zat tambahan yang dimasukan dalam suatu formulasi memiliki maksud dan fungsi tersendiri, diantaranya

  1. Zat pengisi (diluents) dimaksudkan untuk memperbesar volume tablet, biasanya digunakan Saccharum Lactis, Amylum Manihot, Calcii Phosphas, Calcii Carbonas dan zat lain yang cocok.
  2. Zat pengkiat (binder) dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak, dapat merekat. Biasanya digunakan adalah Mucilago Gummi Arabici 10-20% (Solution Methylcellulosum 5%).
  3. Zat pengahancur (disintegran) dimaksudkan agar tablet dapat hancur dalam perut. Biasanya digunakan Amylum Manihot Kering, Gelatinum, Agar dan Natrium Alganat.
  4. Zat pelicin (lubricant) dimaksudkan agar tablet tidak lekat pada cetakan. Biasanya digunakan Talcum 5%, Magnesia Stearate, Acidum Stearicum.

Dalam pembuatan tablet biasanya ada beberapa macam cara yang digunakan diantaranya dengan granulasi basah, granulasi kering dan kempa langsung. Tablet yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan.
  2. Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil.
  3. Fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik atau mekanik.
  4. Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan.
  5. Waktu hancur dan lahu disolusi harus memenuhi persyaratan.
  6. Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan.
  7. Terbebas dari kerusakan fisik.
  8. Stabilitas fisik dan kimiawi cukup baik selama penyimpanan.
  9. Zat aktif dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu.
  10. Memenuhi persyaratan Farmakope yang berlaku.

Jumat, 11 Agustus 2017

Khasiat Lebah untuk Obat


A.      Lebah Madu
Selain penghasil madu, lebah madu juga menghasilkan malam atau lilin lebah, propolis atau perekat lebah, susu madu atau royal jelly dan manna (honeydew). Beranggotakan 12.000 spesies. Kebanyakan serangga ini hidup soliter. Lebah madu adalah insekta sosial yang selalu hidup dalam suatu keluarga besar, yang disebut koloni lebah. Setiap sarang dihuni oleh satu koloni lebah. Keunikan koloni lebah ini adalah mempunyai polimorfisme, yaitu anggotanya memiliki keunikan anatomis, fisiologis, dan fungsi biologis yang berbeda satu golongan dari golongan atau strata yang lain. Lebah madu secara taksonomi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom
Animalia
Filum
Arthropoda
Kelas
Hexapoda atau Insecta
Ordo
Hymenoptera
Famili
Apidae
Genus
Apis
Spesies
A. dorsata F
A. florea F
A. indica F
A. mellifera L


1.      Apis dorsata
Hidup di hutan lebat sebagai lebah madu liar dan belum pernah berhasil diternakkan dalam stup. Sarangnya terletak di dalam hutan, alam terbuka dan terlindungi dari hujan dan sengatan sinar matahari. Indonesia menyebutnya lebah hutan atau lebah raksasa. Lebah raksasa ini merupakan lebah madu yang paling produktif dan penghasil malam lebah terbanyak. Madunya lebih encer daripada madu lebah biasa. Kalau terganggu, lebah ini akan menyerang musuhnya secara berkawan. Sifatnya liar dan galak. Satu koloni hanya terdiri dari sebuah sisir yang sangat besat ukurannya, hasil madunya bisa mencapai 20 kg.

2.      Apis florea
Lebah ini mengumpulkan madu selalu pada pagi hari. Jenis lebah ini termasuk lebah madu dari marga Apis yang paling kecil ukurannya diantara spesies lebah madu lainnya. Habitat hidupnya di daerah payau. Koloninya membuat sarang sebesar telapak tangan yang menggantung di cabang-cabang pohon. Hasil madu dan malamnya sedikit. Lebah madu ini berfungsi sebagai penyerbuk bunga-bunga kecil.

3.      Apis indica
Di Indonesia dikenal dengan nama lebah lalat. Dapat diternakkan secara sederhana dengan glodok atau secara modern dalam stup (kotak lebah). Lebah liar dari jenis ini bersarang di celah-celah batu atau gua. Ciri khas lebah madu ini adalah jinak dan gampang diternakkan dalam stup dan tidak suka gerakan kasar. Kalau tidak dalam keadaan terjepit, lebah ini tidak akan menyengat. Lebah yang menyengat akan segera mati karena sengatnya tertinggal. Lebah ini cukup produktif, sehingga banyak dipelihara masyarakat desa sekitar hutan secara tradisional dengan menggunakan glodok dari batang kelapa atau batang randu. Hasilnya adalah madu dan larva lebah yang dikonsumsi sebagai lauk pauk. Di Jawa, malam lebah digunakan untuk membatik.

4.      Apis mellifera
Lebah madu ini aslinya berasal dari benua Eropa. Cirinya adalah memiliki gelang berwarna kekuningan di belakang abdomen (rongga perut yang berisi alat pencernaan). Warna tubuh bervariasi dari cokelat gelap sampai kuning hitam. Sifatnya sabar dan selalu menjaga sarangnya agar tetap bersih. Lebah madu Eropa ini sudah lama dijinakkan dan dibudidayakan orang. Di daerah beriklim dingin, lebah ini tidak terlalu agresif dan kurang suka bermigrasi, tetapi peka terhadap penyakit. Produktivitas madunya tinggi sehingga banyak yang beternak lebah madu A. mellifera.

B.       Cara Hidup Lebah
Serangga betina memiliki peran penting dalam kelompok. Perilaku dari lebah sangat ditentukan oleh perilaku dari lebah betina. Beberapa lebah betina dari spesies tertentu hidup sendiri (soliter) dan sebagian lainnya dikenal memiliki perilaku sosial. Lebah soliter membangun sendiri sarangnya dan mencari makan untuk keturunnya tanpa bantuan lebah lain dan biasanya mati atau meninggalkan sarang pada saat keturunnya belum menjadi lebah dewasa. Kadang kala beberapa spesies lebah soliter (lebah yang hidup menyendiri, tidak dalam kelompok) memberi makan dan merawat anaknya tanpa memberikan cadangan makanan bagi anaknya, bentuk hubungan seperti ini dikenal dengan istilah subsosial. Sementara pada tahap lebih tinggi, lebah hidup berkelompok dan saling berbagi tugas sesuai dengan bentuk fisik masing-masing.


C.      Koloni Lebah
Koloni adalah sekumpulan atau suatu kelompok lebah, terdapat tiga "kasta" lebah, yaitu

  1. Ratu Lebah (Queen Bee)
Setiap sarang lebah hanya terdapat satu ratu lebah diantara jumlahnya mencapai 80,000 ekor  dan mengawal semua kegiatan lebah betina dan lebah jantan. Komposisi kromosomnya diploid sehingga dapat menghasilkan keturunan. Badannya lebih besar karena sejak masih dalam bentuk larva ia diberi makan royal jelly yang kaya akan vitamin dan gizi.Secara genetik, sang ratu bertanggung jawab untuk mengkontribusikan karakteristiknya pada lebah lainnya yang terdapat di sarang. Oleh karena itu, lebah yang terdapat di sarang, sudah pasti “terbentuk dari elemen dasar yang sama” dengan sang ratu lebah.
Tugas utama ratu lebah adalah bertelur selama hidupya. Perkawinan ratu lebah ini hanya sekali seumur hidup, yang dilakukan dengan cara terbang tinggi diangkasa pada cuaca cerah dan pejantan yang bisa mengejarnya akan dapat mengawini sang ratu lebah, pejantan yang berbahagia itu tidak lama akan mati karena testisnya lepas dan tertanam pada ovarium ratu lebah. Lebah ratu yang aktif mampu bertelur kira-kira 2.000 butir telur sehari. Makanan ratu merupakan sari madu (royal jelly), harapan hidup lebah ratu ialah tiga tahun.

  1. Lebah Jantan (Drones)
Lebah pejantan adalah satu-satunya lebah jantan yang terdapat di sarang lebah dan hanya bertugas untuk membuahi sang ratu lebah. Enam belas hari setelah ratu lebah yang baru terlahir, ia terbang ke tempat lebah jantan yang telah menunggu kedatangannya. Setelah membuahi sang ratu, lebah jantan ini kemudian mati.
Lebah jantan bertugas mengawini lebah ratu muda yang masih perawan jika akan membentuk koloni baru dan akan mati setelah kawin. Lebah jantan merupakan lebah dari telur tak terbuahi yang diberi makanan nektar dan madu biasa (bukan "royal jelly"). Jumlah lebah jantan ini jumlahnya hanya ratusan.
Dalam film-film animasi, jika madu yang mereka produksi diambil, mereka akan marah. Kemarahan lebah bisa disebabkan karena terganggu dan terkejutnya koloni itu, bisa juga karena sifat agresif kelompok lebah itu. Untuk budidaya peternakan lebah madu dipilih dari koloni yang jinak dan tidak agresif. Madu dari hasil peternakan lebah ini biasanya untuk komersil bisa juga untuk kebutuhan sendiri.

  1. Lebah Pekerja
Tugas lebah pekerja (betina) yaitu mengumpulkan serbuk sari dan nektar. Madu merupakan produk hasil pengolahan makanan nektar yang dimuntahkan kembali dari dalam tubuhnya dan disimpan dalam sarang lebah untuk makanan cadangan, makanan madu ini juga untuk larva dan pupa. Ada juga lebah betina yang bertugas membersihkan sarang dan merawat telur dan anak-anak lebah. Harapan hidup lebah pekerja ialah tiga bulan atau lebih sedikit makanan utama lebah pekerja ini adalah madu.
Lebah pekerja terbentuk dari telur yang terbuahi dari sperma yang tersimpan dalam ovarium yang jumlahnya mencapai jutaan sperma, jenis kelaminnya sama dengan ratu lebah bedanya lebah pekerja ini dari mulai telur menetes menjadi larva dan setererusnya makanannya madu biasa sedangkan ratu lebah mulai dari telur menetas menjadi larva sampai akhir hayat makanannya sari madu (royal jelly).
Apabila kesuburan reproduksi telur sudah berkurang atau usia ratu sudah tua maka secara naluri lebah pekerja mengadakan regenerasi pembentukan koloni baru dan mencari telur-telur yang terbaik, jika sudah menetas menjadi larva diberi makan sari madu (royal jelly) atau ada yang menyebutnya susu ratu kerena warnanya putih seperti warna susu jumlahnya biasanya lebih dari satu calon ratu, sarangnya paling besar dan paling menonjol lebih panjang dari sarang lebah pekerja, terletak paling bawah sarang.
Lebah pekerja bisa bertelur dan telurnya dapat menetas jika koloni lebah kehilangan ratunya. Secara alami sesuai naluri lebah betina akan bertelur dan yang lahir dari telur lebah pekerja ini semuanya berjenis kelamin jantan karena dari telur yang tak terbuahi, lebah pekerja tidak pernah dikawini oleh lebah jantan.
Ratu Lebah
Lebah Pekerja
Mengonsumsi royal jelly sepanjang hidupnya
Mengonsumsi royal jelly hanya pada 3 hari pertama dalam fase larva
Hidup 40 kali lebih lama diban-dingkan lebah pekerja, kira-kira 4 hingga 6 tahun
Hanya hidup untuk beberapa minggu, rata-rata sampai dengan 50 hari
Tumbuh 40% lebih besar diban-dingkan lebah pekerja
Memiliki tubuh lebih kecil dari ratu lebah
Bertelur (ribuan) setiap hari
Tidak berproduksi/mandul
Aktif secara seksual
Tidak aktif secara seksual
Membutuhkan 16 hari untuk berkembang
Membutuhkan 21 hari untuk berkembang

  1. Lebah Perawat (Nurse Bee)
Lebah perawat adalah lebah pekerja yang khusus merawat ratu lebah dan anak-anaknya atau larva. Mereka bertanggung jawab untuk memproduksi royal jelly, serta memberi makan sang ratu dengan royal jelly, bee pollen dan madu. 

  1. Lebah Pencari (Scouts Bees)
Lebah pencari adalah lebah pekerja yang mencari sumber-sumber pollen, nektar dan propolis. Ketika mereka menemukan sumber makanan yang terbaik, mereka akan kembali ke sarang dan menginformasikannya kepada lebah pengumpul. Kemudian, lebah pengumpul pergi untuk mengumpulkan makanan tersebut.

  1. Lebah Pengumpul (Collector Bees)
Pada saat lebah mengumpulkan pollen lebah hanya mengunjungi bunga dari spesies yang sama dalam satu putaran pengumpulan, untuk memastikan bahwa nektar yang dikumpulkan berasal dari satu sumber yang sama.  Ia juga mencampurkannya dengan sedikit madu dari mulutnya dan kemudian membentuk gumpalan pollen yang akan disimpan dalam kantong yang terdapat di kaki lebah.
Lebah pengumpul menghisap nektar dari bunga-bunga dengan lidah mereka yang panjang. Nektar yang terkumpul kemudian disimpan dalam sel madu yang terbuka. Sel-sel ini akan tetap terbuka hingga nektar menguap dan terbentuk cairan madu yang kental dan matang.

D.      Siklus Hidup Lebah
Lebah menjalani metamorfosis lengkap (holometabola) sehingga terdapat empat tahap bentuk kehidupan, yaitu

  1. Fase telur
Berlangsung selama 3 hari. Sang ratu meletakkan sebutir telur di bagian dasar tiap-tiap sel. Posisi telur berada di tengah sel de-ngan salah satu ujungnya melekat pada dasar sel. Telur yang menetas akan menjadi larva. Pada tahapan ini, lebah pekerja akan memberi larva makanan berupa serbuk sari, nektar, serta madu. Sebagian nektar yang dikumpulkan oleh lebah pekerja disimpan sebagai madu.
  1. Fase Larva
Berlangsung selama 6 hari. Ketika larva menetas dari telur, selama 3 hari larva tersebut diberikan royal jelly yang diproduksi dari kelenjar yang terdapat di kepala lebah perawat.

  1. Fase Pupa
Berlangsung selama 12 hari. Sel-sel setiap larva tersebut kemudian ditutup dengan lilin selama 12 hari. Setelah 21 hari, lebah pekerja dewasa akan menetas.
  1. Fase Dewasa


E.       Manfaat Lebah
  1. Sarang lebah
Biasa disebut dengan propolis merupakan resin yang dikumpulkan oleh para lebah dari kulit pepohonan yang nantinya akan digunakan sebagai penutup lubang-lubang pada sarang mereka. Propolis sendiri merupakan bahan-bahan yang lengket dari tumbuh-tumbuhan, mengandung protein,  vitamin A, B kompleks, C,D,E, Biotin, maupun Bioflavanoid.
  1. Anti jamur, Virus, maupun Bakteri
Kandungan bioflavonoid dalam sarang lebah dapat membantu tubuh untuk menangkal pertumbuhan mikroorganisme seperti virus, jamur, maupun bakteri yang berbahaya bagi tubuh. Kandungan tersebut sangat sensitive terhadap beberapa jenis virus seperti Staphyyococcus, Streptococcus, E. Coli, virus influenza, Herpes, H.Pilori, serta Salmonella typhosa.
  1. Sebagai Sumber Antioksidan Alami
Sarang lebah dapat membantu tubuh dalam melawan serta menetralkan radikal bebas yang dapat menimbulkan beberapa gangguan kesehatan.
  1. Dapat Meningkatkan Sistem Immun
Kandungan biovlafonoid dalam sarang lebah mampu meningkatkan aktivitas sistem imuune dalam tubuh sehingga mampu menangkal berbagai penyakit yang diakibatkan oleh bakteri, virus, maupun mikroorganisme.
  1. Sebagai Antiperadangan
Mengkonsumsi sarang lebah (propolis) dapat membantu menghambat pengeluaran hormon yang dapat menyebabkan reaksi terhadap peradangan atau yang biasa disebut sebagai prostaglandine. Sehingga sangat baik dikonsumsi bagi penderita rheumatoid arthritis.
  1. Menjaga Kesehatan Sistem Pencernaan
Kandungan nutrisi yang terdapat dalam sarang lebah dipercaya mampu menangkal pertumbuhan bakteri helicobakter pylory yang merupakan bakteri penyebab timbulnya peradangan lapisan lambung.
  1. Mempercepat Proses Penyembuhan Luka
Kandungan vitamin C dapat membantu proses pertumbuhan jaringan baru dalam tubuh, sehingga sangat baik jika dalam proses perawatan maupun penyembuhan luka. 
  1. Penangkal Stress
Kandungan nutrisi dalam sarang lebah juga sangat baik untuk membantu menekan saraf-saraf pada otak sehingga dapat membuat pikiran menjadi lebih rileks, tenang, eserta dapat menekan rasa takut.
  1. Penangkal Stress
Kandungan nutrisi dalam sarang lebah juga sangat baik untuk membantu menekan saraf-saraf pada otak sehingga dapat membuat pikiran menjadi lebih rileks, tenang, serta dapat menekan rasa takut.

  1. Lebah
  1. Sebagai Terapi Kesehatan
Manfaat lebah juga dapat memberikan efek pengobatan melalui sengatannya. Racun yang dihasilkan dari sengatan tersebut dapat diberikan sebagai terapi untuk berbagai jenis penyakit seperti rheumatoid arthritis, nyeri saraf (neuralgia), multiple sclerosis (MS), mengurangi reaksi terhadap sengatan lebah pada orang yang alergi (desensitisasi), pembengkakan pada tendon  (tendonitis),  serta kondisi otot seperti fibromyositis dan enthesitis.
Selain mengobati beberapa penyakit diatas, terapi sengatan lebah juga dapat membantu dalam pengobatan penyakit HIV AIDS. Cara kerja sengatan ini antara lain adalah dengan cara memecah cangkang virus penyebab penyakit lalu membunuh atau menghancurkan virus tersebut.

  1. Madu
  1. Anti-alergi
Menurut Dr. Matthew Brennecke, seorang  dokter naturopati di Fort Collins, Colorado menyatakan bahwa madu merupakan vaksin alami yang dapat memicu respon immune yang dapat menghasilkan antibodi untuk menangkal terjadinya alergi dalam tubuh. Selain itu, efek anti-inflamasi yang terdapat dalam madu juga memiliki kemampuan untuk menenangkan batuk serta dapat mengurangi gejala alergi musiman.
  1. Sumber Energi
Dalam setiap sendok madu terdapat sekitar 17 gram karbohidrat yang nantinya akan diproses menjadi  fruktosa serta glukosa yang langsung dapat diserap oleh darah untuk dapat memberikan dorongan energi dengan cepat.
  1. Meningkatkan Memori
Kandungan antioksidan yang terdapat dalam madu dapat membantu mencegah kerusakan sel dalam otak. Sebuah studi  yang dilakukan pada tahun 2011 menyatakan bahwa dengan mengkonsumsi sesendok madu setiap hari dapat meningkatkan memori pada wanita yang memasuki masa menopause serta dapat memberikan terapi alternatif untuk penurunan intelektual yang berhubungan dengan hormon. Selain itu, manfaat madu juga dapat membantu penyerapan kalsium yang sangat diperlukan organ otak.
  1. Penekan Gangguan Batuk
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal pediatrick pada tahun 2012 menyatakan bahwa madu dapat dijadikan obat alternatif untuk mengatasi gangguan pilek dan batuk. Cairan kental serta rasa manis dalam madu dapat melindungi tenggorokan dari serangan batuk yaitu dengan memicu ujung saraf . Madu juga dapat digunakan untuk mengobati infeksi saluran pernapasan bagian atas.
  1. Mengatasi Gangguan Tidur
Manfaat lebah juga terdapat dalam madu memiliki sifat yang  mirip dengan gula, yaitu dapat menyebabkan kenaikan insulin dan melepaskan serotonin untuk meningkatkan suasana hati dan kebahagiaan. Madu mengandung asam amino, termasuk tryptophan yang kemudian diubah menjadi serotonin dan kemudian ke melatonin.
  1. Menghilangkan Ketombe
Menurut sebuah studi yang diterbitkan European Journal of Medical Research pada tahun 2001 menyatakan bahwa  menerapkan madu yang telah diencerkan dengan air hangat pada daerah kulit kepala, dapat membantu mengatasi rasa gatal yang terjadi akibat timbulnya ketombe serta kerontokan pada rambut. Sifat antibakteri dan antijamur yang terdapat dalam madu juga dapat mengatasi gangguan dermatitis seboroik. Sifat anti-inflamasi dalam madu dapat mengatasi kemerahan dan rasa gatal-gatal pada kulit kepala.
  1. Luka Bakar
Madu dapat digunakan sebagai pengobatan konvensional untuk luka dan luka bakar sebagai  desinfektan luka.
  1. Perawatan Kecantikan

Madu merupakan bahan dasar pembuatan kosmetik sejak bertahun-tahun lamanya. Selain teksturnya yang lembut, madu juga mengandung berbagai macam nutrisi seperti vitamin, mineral, antioksidan, serta potasium.


Pustaka
Novilla, Arina. (2011).”Aktivitas Antioksidan Ekstrak Propolis Lebah Madu Lokal Apis Mellifera”. Makalah Stikes A.Yani.
https://id.wikipedia.org/wiki/Lebah