Welcome to my blog, semoga informasinya bisa bermanfaat ...
Thank's for visit guys...

Kamis, 01 Oktober 2020

PROPOSAL PENELITIAN "FORMULASI LULUR BENGKUANG (Pachyrhizus erosus L)"

BAB I PENDAHULUAN

 A.      Latar Belakang Penelitian

Kulit adalah bagian tubuh yang terletak paling luar. Kulit merupakan organ yang essensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Kulit juga sangat kompleks, elastis dan sensitif, bervariasi pada keadaan iklim, umur, jenis kelamin, ras dan juga sangat bergantung pada lokasi tubuh. Kulit juga merupakan pembungkus yang elastik yang melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan.

Paparan sinar matahari selain menyebabkan efek menguntungkan namun juga memberikan efek yang merugikan pada tubuh manusia, tergantung pada panjang dan frekuensi paparan, intensitas sinar matahari serta sensitivitas individu yang terpapar. Manusia membutuhkan sinar matahari untuk membantu pembentukan vitamin D namun paparan sinar matahari yang berlebihan dapat menimbulkan efek yang merugikan bagi kulit manusia karena sinar ultraviolet yang terkandung didalamnya, kerusakan yang muncul misalnya eritema, sunburn, penuaan dini dan kanker kulit.

Bengkoang adalah salah satu buah yang populer dimanfaatkan sebagai bahan perawatan kulit. Umbi bengkoang segar kaya akan vitamin C. Vitamin C adalah antioksidan kuat yang larut dalam air yang membantu tubuh untuk mengikat radikal bebas berbahaya. Semua nutrisi inilah yang membuat bengkoang dipercaya mampu memutihkan, mencerahkan dan mengencangkan kulit.

Penggunaan umbi bengkuang dalam merawat kulit dirasa kurang praktis karena selain proses pembuatannya membutuhkan waktu yang lama dalam penggunaannyapun dirasakan kurang nyaman dan kurang efektif. Untuk itu perlu dilakukan formulasi sediaan terhadap bengkuang dengan tujuan memberi rasa nyaman dan lebih praktis pada saat digunakan.

 

B.       Rumusan Penelitian

Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:

1.        Bagaimana formulasi sediaan lulur umbi bengkuang?

2.        Bagaimana proses pembuatan sediaan lulur umbi bengkuang?

 

C.      Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka penelitian ini memiliki tujuan yaitu:

1.        Untuk mengetahui formulasi sediaan lulur umbi bengkuang;

2.        Untuk mengetahui proses pembuatan sediaan lulur umbi bengkuang.

 

D.      Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan pengetahuan bagi berbagai pihak bahwa umbi bengkuang memiliki khasiat sebagai antioksidan dan mampu merawat kulit serta sediaan lulur umbi bengkuang dapat digunakan sebagai pengembangan teknologi sediaan farmasi pada masa yang akan datang.



BAB II TINJAUAN PUSTAKA

 A.    Bengkuang (Pachyrhizus erosus L)

1.      Klasifikasi Bengkuang (Pachyrhizus erosus L)

Kingdom           : Plantae ( Tumbuhan )

Subkingdom      : Trachebionta ( Tumbuhan berpembulu )

Super divisi       : Spermatophyta ( Menghasilkan biji )

Divisi                 : Magnoliophyta ( Tumbuhan berbunga )

Kelas                 : Magnoliopsida ( berkeping dua/ dikotil )

Sub kelas           : Rosidae

Ordo                  : Fabeles

Famili                : Fabeceae ( suku polong – polongan )

Genus                : Pachyrhizus

Spesies              : Pachyrhizus erosus L

2.      Deskripsi Tanaman Bengkuang (Pachyrhizus erosus L)

Bengkoang atau bengkuang adalah salah satu tanaman umbian yang termasuk dalam suku polong – polongan yang berasal dari Amerika tropis. Tanaman ini dikenal dengan sebutan xicama atau jicama sedangkan orang jawa menyebut tanaman ini adalah besusu.

3.      Morfologi Bengkuang (Pachyrhizus erosus L)

3.1. Batang  

Batang tanaman bengkoang pendek sekitar 1-2 m , batang menjalar, dan membelit, memiliki ruas – ruas halus, dan mengarah kebawah. Batang tanaman ini pada umumnya berwarna kehijauan hingga kecoklatan, dan memiliki tunas baru disekitarnya.

3.2. Daun 

Daun tanaman ini majemuk yang menyirip dengan anakan 3 daun, bertangkai mencapai 8-16 cm, anakan daun berbentuk bulat melebar, pangkal daun runcing dan bergerigi besar serta berambut kedua sisi membelah dari sisinya, anak daun pangkal ujung membesar dan juga membelah hampir menyerupai ketupat.

3.3.Bunga 

Bunga tanaman ini tersusun dalam tandan yang tumbuh pada ketiak daun, bunga ini memiliki panjang 60 cm, berambut coklat, dan berbentuk hampir menyerupai lonceng. Selain itu, bunga memiliki mahkota berwarna kebiruan hingga keungguan, gundul, dengan panjang 2 – 3 cm, tangkai sari pipih, dan pangkal bagian ujung menggulung.

3.4.Biji 

Biji tanaman termasuk polong, berbentuk garis, pipih, dengan panjang 8-13 cm, berambut, berbeiji 4-9 butir dan biji ini berwarna kecoklatan disertai dengan serat halus.

3.5.Akar 

Akar tanaman termasuk perakan serabut tungggal dan berumbi, berwarna keputihan hingga kecoklatan, dengan kedalaman mencapai 10-20 cm bahkan lebih. Perakaran ini bermanfaat untuk menyimpan cadangan makanan dan membantu menyerap unsur air dari dalam tanah. 

4.      Kandungan dan Manfaat Tanaman Bengkuang (Pachyrhizus erosus L)

Bengkoang sering dimanfaatkan sebagai bahan konsumsi harian ataupun dijadikan bahan herbal untuk membuat ramuan kecantikan serta untuk mengobati berbagai macam penyakit. Umbi bengkoang memiliki beberapa kandungan gizi seperti vitamin A (retinol), thiamin (vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), piridoksin (vitamin B6), vitamin C (asam askorbat), asam pantotenat, asam folat, protein, dan niacin.

Selain itu, terdapat juga kandungan lain berupa mineral seperti kalsium, fosfor, glukosa, zat besi, dan inulin. Ada juga kandungan kimia yang ditemukan pada umbi bengkoang seperti rotenon dan pachyrhizon.

Umbi bengkoang sangat cocok untuk merawat kulit kering karena memiliki sifat pendingin yang didapatkan dari tingginya kadar air pada bagian umbinya. Penggunaan bengkoang sebagai bahan dasar untuk merawat kulit sangat mudah ditemukan pada produk-produk kosmetik pemutih dan pelembab kulit.

Selain sebagai bahan untuk merawat kulit, kandungan inulin pada umbi bengkoang juga bisa dimanfaatkan sebagai pengganti gula dan sekaligus menjadi penurun jumlah kalori pada makanan. Inulin juga berfungsi untuk merangsang pertumbuhan dari bakteri baik pada usus kita. 

 

B.       Simplisia

1.        Pengertian

Simplisia atau herbal adalah bahan alam yang telah dikeringkan yang digunakan untuk pengobatan dan belum mengalami pengolahan, kecuali dinyatakan lain suhu pengeringan simplisia tidak lebih dari 600C (Ditjen POM, 2008).

Simplisia merupakan bahan awal pembuatan sediaan herbal. Mutu sediaan herbal sangat dipengaruhi oleh mutu simplisia yang digunakan. Oleh karena itu, sumber simplisia, cara pengolahan, dan penyimpanan harus dapat dilakukan dengan cara yang baik. Simplisia adalah bahan alam yang digunakan sebagai bahan sediaan herbal yang belum mengalami pengolahan apapun dan kecuali dinyatakan lain simplisia merupakan bahan yang telah dikeringkan (Ditjen POM, 2005).

2.        Penggolongan Simplisia

Simplisia dibagi menjadi tiga golongan, yaitu:

2.1 Simplisia nabati

Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh, bagian tumbuhan atau eksudat tumbuhan. Eksudat tumbuhan adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tumbuhan atau dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnyaatau zat nabati lain yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tumbuhannya (Ditjen POM, 1995).

2.2 Simplisia hewani

Simplisia hewani adalah simplisia berupa hewan utuh atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan. Contohnya adalah minyak ikan dan madu (Gunawan, 2010).

2.3 Simplisia pelikan atau mineral 

Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana. Contohnya serbuk seng dan serbuk tembaga (Gunawan, 2010).

3.        Proses Pembuatan Simplisia

Dasar pembuatan simplisia meliputi beberapa tahapan, yaitu:

3.1 Pengumpulan Bahan Baku

Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-beda yang tergantung pada beberapa faktor, antara lain: bagian tumbuhan yang digunakan, umur tumbuhan atau bagian tumbuhan pada saat panen, waktu panen dan lingkungan tempat tumbuh. Waktu panen sangat erat hubungannya dengan pembentukan senyawa aktif di dalam bagian tumbuhan yang akan dipanen. Waktu panen yang tepat pada saat bagian tumbuhan tersebut mengandung senyawa aktif dalam jumlah yang terbesar. Senyawa aktif akan terbentuk secara maksimal di dalam bagian tumbuhan atau tumbuhan pada umur tertentu. Berdasarkan garis besar pedoman panen, pengambilan bahan baku tanaman dilakukan sebagai berikut:

·         Biji

Pengambilan biji dapat dilakukan pada saat mulai mengeringnya buah atau sebelum semuanya pecah. 

·         Buah

Panen buah bisa dilakukan saat menjelang masak (misalnya Piper nigrum), setelah benar-benar masak (misalnya adas), atau dengan cara melihat perubahan warna/ bentuk dari buah yang bersangkutan (misalnya jeruk, asam, dan pepaya).

·         Bunga

Panen dapat dilakukan saat menjelang penyerbukan, saat bunga masih kuncup (seperti pada Jasminum sambac, melati), atau saat bunga sudah mulai mekar (misalnya Rosa sinensis, mawar).

·         Daun atau herba

Panen daun atau herba dilakukan pada saat proses fotosintesis berlangsung maksimal, yaitu ditandai dengan saat-saat tanaman mulai berbunga atau buah mulai masak. Untuk mengambil pucuk daun, dianjurkan dipungut pada saat warna pucuk daun berubah menjadi daun tua.

·         Kulit Batang

Tumbuhan yang pada saat panen diambil kulit batang, pengambilan dilakukan pada saat tumbuhan telah cukup umur. Agar pada saat pengambilan tidak mengganggu pertumbuhan, sebaiknya dilakukan pada musim yang menguntungkan pertumbuhan antara lain menjelang musim kemarau.

·         Umbi Lapis

Panen umbi dilakukan pada saat umbi mencapai besar maksimum dan pertumbuhan pada bagian di atas berhenti. Misalnya bawang merah (Allium cepa)

·         Rimpang

Pengambilan rimpang dilakukan pada saat musim kering dengan tanda-tanda mengeringnya bagian atas tumbuhan. Dalam keadaan ini rimpang dalam keadaan besar maksimum.

·         Akar

Panen akar dilakukan pada saat proses pertumbuhan berhenti atau tanaman sudah cukup umur. Panen yang dilakukan terhadap akar umumnya akan mematikan tanaman yang bersangkutan.

3.2    Sortasi Basah

Sortasi basah adalah pemilihan hasil panen ketika tanaman masih segar. Sortasi dilakukan terhadap :

·         Tanah atau kerikil,

·         Rumput-rumputan

·         Bahan tanaman lain atau bagian lain dari tanaman yang tidak digunakan

·         Bagian tanaman yang rusak (dimakan ulat atau sebagainya).

3.3    Pencucian

Pencucian simplisia dilakukan untuk membersihkan kotoran yang melekat, terutama bahan-bahan yang berasal dari dalam tanah dan juga bahan-bahan yang tercemar peptisida. Cara sortasi dan pencucian sangat mempengaruhi jenis dan jumlah mikroba awal simplisia. Misalnya jika air yang digunakan untuk pencucian kotor, maka jumlah mikroba pada permukaan bahan simplisia dapat bertambah dan air yang terdapat pada permukaan bahan tersebut dapat mempercepat pertumbuhan mikroba. Bakteri yang umum terdapat dalam air adalah Pseudomonas, Bacillus, Streptococcus, Enterobacter, dan Escherichia.

3.4    Pengubahan Bentuk

Pada dasarnya tujuan pengubahan bentuk simplisia adalah untuk memperluas permukaan bahan baku. Semakin luas permukaan maka bahan baku akan semakin cepat kering. Perajangan dapat dilakukan dengan pisau, dengan alat mesin perajangan khusus sehingga diperoleh irisan tipis atau potongan dengan ukuran yang dikehendaki. 

3.5    Pengeringan

Proses pengeringan simplisia, terutama bertujuan sebagai berikut:

·           Menurunkan kadar air sehingga bahan tersebut tidak mudah ditumbuhi kapang dan bakteri.

·           Menghilangkan aktivitas enzim yang bisa menguraikan lebih lanjut kandungan zat aktif

·           Memudahkan dalam hal pengolahan proses selanjutnya (ringkas, mudah disimpan, tahan lama, dan sebagainya).

3.6    Sortasi Kering

Sortasi kering adalah pemilihan bahan setelah mengalami proses pengeringan. Pemilihan dilakukan terhadap bahan-bahan yang terlalu gosong atau bahan yang rusak

3.7    Pengepakan dan Penyimpanan

Setelah tahap pengeringan dan sortasi kering selesai maka simplisia perlu ditempatkan dalam suatu wadah tersendiri agar tidak saling bercampur antara simplisia satu dengan lainnya (Gunawan, 2010)

C.      Lulur

1.        Pengertian Lulur

Lulur  adalah  kosmetika yang digunakan untuk  merawat  dan  membersihkan kulit  dari kotoran dan sel kulit mati (Septiana Indratmoko, 2017). Lulur adalah sediaan kosmetik tradisional yang diresepkan dari turun-temurun digunakan untuk mengangkat sel kulit mati, kotoran, dan membuka pori-pori sehingga pertukaran udara bebas dan kulit menjadi lebih cerah dan putih. Lulur terbagi beberapa bentuk sediaan yaitu lulur bubuk, lulur krim, ataupun lulur kocok/cair (Pramuditha, 2016).

Lulur berbeda dengan scrub dapat dilihat dari tekstur lulur yang berupa butiran halus dan mudah mengering (Putra, 2016).

Lulur merupakan bentuk sediaan cair maupun setengah padat yang berupa emulsi untuk mengangkat kotoran sel kulit mati yang tidak terangkat sempurna oleh sabun dan memberikan kelembaban serta mengembalikan kelembutan kulit, seperti kelenjar rambut dan keringat, untuk mendapatkan efek maksimal lulur digunakan selama 30 menit pada kulit tubuh agar dapat meresap dengan baik kedalam kulit (Hari, 2015).

2.        Jenis-jenis Lulur

2.1    Lulur Mandi (Body scrub)

Lulur mandi atau dalam beberapa produk agar tampak modern ditulis dengan istilah body scrub, merupakan lulur yang digunakan saat tubuh dalam keadaan basah (mandi). Penggunaannya adalah dengan mengoleskan pada seluruh bagian tubuh lalu menggosoknya perlahan. Setelah digosok-gosok, bilas tubuh dengan air tanpa menggunakan sabun mandi. Lulur jenis ini relatif lebih cocok digunakan untuk pemilik kulit sensitif karena butiran scrub yang lebih kecil dan lembut, penggunaannya saat kulit dalam keadaan basah, dan terdapat bahan pembawa yang berfungsi melicinkan kulit sehingga akan terhindar dari iritasi saat penggosokan.

2.2    Lulur Kocok

Lulur ini berbentuk lulur yang berair tapi tidak terlarut (suspensi). Sebelum digunakan, botol kemasan lulur dikocok terlebih dahulu, oleh karenanya lulur ini sering disebut lulur kocok. Penggunaannya adalah dengan mengoleskan lulur pada kulit yang kering lalu setelah mengering lulur tersebut digosok-gosok sehingga kotoran dari tubuh akan terlepas. Setelah itu bilas dengan air tanpa sabun.

2.3    Lulur Bubuk

Lulur ini berupa serbuk lulur kering yang penggunaannya dengan mengencerkan atau mengentalkannya terlebih dahulu dengan air biasa/air mawar sebelum digunakan. Setelah cukup encer/kental, kemudian lulur dioleskan ke seluruh tubuh (dalam keadaan kering atau sedikit basah) sambil digosok-gosok. Tunggu beberapa menit atau sampai mengering, lalu bilas dengan air tanpa sabun. Lulur jenis ini lebih praktis karena kemasannya mudah dibawa dan penggunaannya lebih mudah.

2.4    Lulur Tradisional

Jenis lulur ini hampir menyerupai lulur mandi. Tetapi penggunaannya berbeda dengan lulur mandi. Lulur tradisional biasanya berasal dari bahan-bahan dan rempah-rempah yang sangat bermanfaat untuk menjaga kecantikan dan kehalusan kulit. Lulur tradisional ini digunakan saat tubuh dalam keadaan kering. Setelah lulur dioleskan pada tubuh, digosok pada tubuh. Biasanya lulur yang setelah digosok pada tubuh akan berubah warna menjadi kecoklatan atau kehitaman yang menandakan keluarnya kotoran pada tubuh.



BAB III METODE PENELITIAN

A.      Alat dan Bahan

Alat – alat yang digunakan dalam penelitian yaitu timbangan digital, cawan porselin, batang pengaduk, mortar, stamper, sudip, beker gelas, gelas ukur, water bath, pot/ tempat kosmetik, alat daya lekat, objek gelas, pH meter, viskometer boorkfield.

Bahan – bahan yang digunakan yaitu serbuk bengkuang, tepung beras, aquadest, madu, cetyl alcohol, propilen glikol, tritanolamin, asam stearate, gliserin, nipagin.

B.       Prosedur Pembuatan

1.        Determinasi Tanaman

Determinasi bengkuang (Pachyrhizus erosus L) dilakukan dengan mencocokan dari morfologi yang ada pada bengkuang (Pachyrhizus erosus L) terhadap pustaka dan dibuktikan di Laboratorium Biologi Universitas Perjuangan.

2.        Pengambilan Sampel

Sampel bengkuang (Pachyrhizus erosus L) diperoleh di Desa Cigadog Kecamatan Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Pengambilan sampel dilakukan pada pagi hari dengan cara mengambil bengkuang (Pachyrhizus erosus L) yang muda atau menuju tua, lalu memilih bengkuang (Pachyrhizus erosus L) yang tidak rusak untuk dijadikan sampel.

3.        Pengolahan Sampel

Sampel bengkuang (Pachyrhizus erosus L) yang telah diambil dicuci bersih dengan air mengalir lalu ditiriskan. Daun bengkuang yang sudah bersih disortasi basah dan ditimbang. Selanjutnya dilakukan proses pengeringan dengan cara menjemur bengkuang yang telah ditutup kain hitam dibawah sinar matahari . Simplisia yang telah kering diblender menjadi serbuk kasar lalu disimpan di dalam wadah plastik tertutup.

4.        Pembuatan Lulur

Fase minyak (cetyl alcohol dan asam stearate) dan fase air (propilen glikol, gliserin, trietanolamin dan air) di leburkan di atas water bath pada suhu 70˚C. fase air dan fase minyak dimasukan ke dalam mortir panas aduk hingga membentuk basis body scrub, kemudian tambahkan serbuk bengkuang dan tepung beras lalu aduk sampai homogen. Dibiarkan dingin lalu pindahkan kedalam pot.

5.        Rancangan Konsentrasi Formula

Bahan

Formula 1

Formula 2

Formula 3

Bengkuang

10

5

10

Tepung beras

5

10

10

Cetyl alkohol

3

3

3

Asam stearat

5

5

5

Propilenglikol

5

5

5

Gliserin

15

15

15

TEA

4

4

4

Air

53

53

48



Rabu, 18 September 2019

ASAM URAT


A.    Tujuan
Mengetahui kadar asam urat dalam darah

B.     Dasar Teori
Asam urat adalah hasil metabolisme purin dalam tubuh. Zat asam urat ini biasanya akan dikeluarkan oleh ginjal melalui urine dalam kondisi normal. Namun dalam kondisi tertentu, ginjal tidak mampu mengeluarkan zat asam urat secara seimbang, sehingga terjadi kelebihan dalam darah. Kelebihan zat asam urat ini akhirnya menumpuk dan tertimbun pada persendian-persendian dan tempat lainnya termasuk di ginjal itu sendiri dalam bentuk kristal-kristal (Anonim, 2011).
Asam urat terutama disintesis dalam hati yang dikatalisis oleh enzim xantin oksidase. Asam urat diangkut ke ginjal oleh darah untuk filtrasi, direabsorbsi sebagian, dan diekskresi sebagian sebelum akhirnya diekskresikan melalui urin. Peningkatan kadar asam urat dalam urin dan serum bergantung pada fungsi ginjal, kecepatan metabolisme purin, dan asupandiet makanan yang mengandung purin (Hamdani, 2012).
Keadaan normal, setiap orang memiliki asam urat  di dalam tubuhnya, tapi jumlahnya sedikit. Dalam beberapa keadaan, misalnya konsumsi makanan yang mengandung purin tinggi, atau karena ginjal kurang mampu mengeluarkannya dalam tubuh, maka kadar asam urat dalam darah akan meningkat. Kadar asam urat dalam darah adalah : 
1.      Laki – laki 3,4-8,5 mg/dl
2.      Perempuan 2,8-7,3 mg/dl
3.      Anak-anak 2,0-5,5 mg/dl (Antika, 2011).

Peningkatan kadar asam urat dalam darah disebut juga hiperurisema. Keadaan ini dapat menyebabkan penumpukan kristal asam urat disendi dan menimbulkan peradangan di daerah tersebut. Jenis gangguan seperti ini disebut artritis gout. Bahan makanan yang sebaiknya dihinadrai oarang denagn kadar asam urat tinggi adalah :
1.      Makanan berkadar purin tinggi, adalah jerohan ( hati, ginjal, otak, jantung), udang, remis kerang, ekstrak daging ( abon, dendeng), alkohol serta makanan kaleng
2.      Makanan berkadar purin sedang seperti ikan, daging sapi, kerang-kerangan, kacang-kacangan kering, kembang kol, bayam, asparagus, buncis, jamur, daun pepaya, kangkung ( Cahyono, 2012).

Selain mengurangi konsumsi makanan yang banyak mengandung purin dan  rajin minum air putih (Anonim, 2010)

C.    Alat dan Bahan
·         Alat cek asam urat
·         Needle
·         Strip asam urat
·         Alkohol swab
·         Sampel darah


D.    Prosedur Kerja
a.       Bersihkan ujung jari dengan alkohol swab
b.      Ambil sampel darah
c.       Oleskan pada strip asam urat
d.      Tunggu hasil keluar pada alat

E.     Pembahasan
Dalam praktikum kali ini dilakukan pengujian kadar asam urat pada sukarelawan melalui pembuluh darah kapiler dengan alat cek asam urat portabel. Asam urat mengacu pada senyawa asam yang berbentuk kristal, yang merupakan hasil pemecahan senyawa purin. Senyawa purin sendiri berasal dari sel tubuh yang mati dn dari beberapa jenis makanan yang dikonsumsi manusia. Pemeriksaan kadar asam urat sangat penting dilakukan untuk penegakan diagnosa suatu penyakit sehingga terapi dapat dilakukan dengan tepat.
Metode yang digunakan untuk pemeriksaan kadar asam urat ada 3, yaitu metode kimia, enzimatik, dan kolorimetri. Masing-masing metode memiliki kekurangan dan kelebihan. Metode kimia dinilai memiliki presisi yang baik, lebih akurat dibandingkan dengan metode yang lain, lebih sensitive, tetapi harganya mahal. Metode enzimatik memiliki kelebihan lebih spesifik, tetapi dibutuhkan pengondisian yang tidak mudah. Sedangkan metode kolorimetri merupakan metode yang mudah dilakukan dan harganya pun jauh lebih murah sehingga lebih sering digunakan untuk percobaan.
Dari hasil pengukuran, diperoleh kadar asam urat yaitu 5,0 md/dL Berhubung pengambilan darah dilakukan terhadap seseorang berjenis kelamin perempuan, maka kadar batas norml asam urat yaitu 2,5-6,2 mg/dL. Didasarkan pada kadar batas normal tersebut, dapat diketahui bahwa sukarelawan memiliki kadar asam urat dalam tubuh yang normal. Kadar batas normal pada wanita lebih rendah dibandingkan dengan kadar batas normal pada pria, ini disebabkan perempuan memiliki hormon estrogen dan progesterone dalam jumlah lebih banyak dari pria yang dapat berfungsi sebagai penghambat produksi asam urat dalam tubuh.
Asam urat merupakan hasil metabolisme purin dalam tubuh. Penyebab penyakit gout adalah peningkatan kadar asam urat dalam darah yang berlebih. Secara normal, asam urat dikeluarkan oleh ginjal berupa urin, namun dalam kondisi tertentu ginjal tidak dapat berfungsi dengan baik, oleh karena itu zat asam urat tertimbun dalam tubuh terutama pada persendian jari-jari kaki karena dipengaruhi oleh gaya gravitasi sehingga asam urat lebih banyak tertimbun di persendian kaki.

F.     Kesimpulan
1.      Kadar asam urat yang diperoleh dari hasil percobaan yaitu sebesar 5,0 md/dL
2.      Didasarkan pada batas normal kadar asam urat pada wanita, kadar asam urat yang didapat adalah normal

G.    Daftar pustaka

Misnadiarly. 2009. Rematik, Asam Urat, dan Arthritis Gout. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Rohman, Abdul dan Gandjar, Ibnu Gholib. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Syamsu hidayat dan Wim de Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC

FUNGSI HATI (SGPT)


A.    Tujuan
Menentukan nilai kadar SGPT

B.     Dasar Teori
Hati adalah organ penting yang memiliki fungsi mengatur kekonstanan milie interior tubuh manusia. Hati juga merupakan kelenjar tubuh yang paling besar. Hati mempunyai fungsi yang sangat penting dan kompleks. Hati penting untuk mempertahankan tubuh dan berperan pada hampir setiap metabolisme tubuh. Kerusakan total pembuangan hati dapat mengakibatkan kematian dalam waktu 10 jam. Hati mempunyai regenerasi yang mengagumkan. Sebagian pembuangan hati, pada kebanyakan kasus sel hati yang mati/sakit dapat diganti dengan jaringan hati yang baru (Wijayakusuma, 2008).

Hati sebagai organ penting pada tubuh manusia memiliki beberapa fungsi utama seperti :
1.      Pembentukan dan ekskresi empedu yaitu metabolisme garam dan metabolisme pigmen empedu. Garam empedu penting untuk pencernaan dan absorbsi lemak di usus. Bilirubin, pigmen empedu utama, merupakan hasil akhir metabolisme dari penghancuran sel darah merah yang sudah tua. Bilirubin dikonjugasi dalam hati dan diekskresi dalam empedu.
2.      Metabolisme karbohidrat (glikogenesis, glikogenolisis, glukoneogenesis). Hati memegang peranan penting dalam mempertahankan kadar glukosa darah normal dan penyediaan energi untuk tubuh. Karbohidrat disimpan dalam hati sebagai glikogen.
3.      Metabolisme protein meliputi sintesis protein, pembentukan urea, dan penyimpanan protein berupa asam amino.
4.      Metabolisme lemak, hati memegang peranan utama pada sintesis kolesterol, sebagian diekskresikan dalam empedu sebagai kolesterol atau asam folat.
5.      Metabolisme steroid, hati menginfaktifkan dan mengekskresi aldosteron, glukokortikoid, estrogen, progesteron dan testosteron. 
6.      Detoksifikasi, hati bertanggung jawab atas biotransformasi zat-zat yang berbahaya menjadi zat-zat yang tidak berbahaya yang kemudian diekskresi oleh ginjal (misal obat-obatan).
7.      Ruang pengapung dan bekerja sebagai filter, sinosuid hati merupakan depot darah yang dapat mengaliri kembali darah dari vena kava (pada jantung kanan), fagositosis sel kupffer membuang bakteri dan debris dari darah (Budiwarsono, 2009).

SGPT adalah enzim transaminase yang dihasilkan terutama oleh sel-sel hati. Bila sel-sel hati rusak, misalnya pada hepatitis atau sirosis, kadar enzim ini meningkat. Karena itu, SGPT ini bisa memberi gambaran adanya gangguan hati. SGPT (alanin tranaminase) juga merupakan enzim sitosol yang juga ada dalam hati walaupun jumlah absolut kurang dari SGOT. Namun bagian lebih besar berada di dalam hati dibanding dengan otot rangka dan jantung, sehingga peningkatan serum ini lebih spesifik untuk kerusakan hati daripada SGOT (Winarno, 1974). 
Transaminase merupakan enzim yang bekerja sebagai katalisator dalam proses pemindahan gugus alpha amino alanin untuk menjadi asam glutamat dan asam piruvat. Enzim ini didapat pada sel hati dalam kadar yang jauh lebih tinggi daripada dalam sel-sel jantung dan otot, untuk keperluan dalam klinik test SGPT lebih peka bagi pemeriksaan dengan dugaan kerusakan hati akut. Pemeriksaan SGPT mempunyai nilai diagnostik yang baik dalam menentukan kemungkinan dari kerusakan sel hati. SGPT serum umunya diperiksa secara fotometri atau spektrofotometri semi otomatis atau otomatis.

C.    Alat dan Bahan
·         Pipet piston
·         Tabung reaksi
·         Sentrifudge
·         Spektrofotometer
·         Serum
·         Reagensia  

D.    Prosedur Kerja
a.       Ambil sampel darah
b.      Sentrifugasi 15 menit 
c.       Ambil plasma darah
d.      Masukan 2000 µl sampel dan 200 µl reagen 1
e.       Inkubasi 5 menit pada suhu 37oC
f.       Tambahkan 500 µl reagen 2
g.      Baca dengan spektrofotometer

E.     Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian fungsi hati (SGPT). Pengujian fungsi hati merupakan salah satu hal yang penting karena Hati merupakan organ pusat metabolism. Hal ini didukung oleh letak anatomisnya. Hati menerima pendarahan dari sirkulasi sistemik melalui arteri hepatica dan menampung aliran darah dari system porta yang mengandung zat makanan yang diabsorpsi di usus. Karena itu fungsi organ hati penting diketahui dala menilai kesehatan seseorang. SGPT adalah singkatan dari Serum Glutamic Piruvic Transaminase, enzim ini banyak terdapat di hati. Dalam uji SGOT dan SGPT, hati dapat dikatakan rusak bila jumlah enzim tersebut dalam plasma lebih besar dari kadar normalnya. SGPT lebih akurat untuk uji fungsi hati karena SGPT murni dibentuk dihati, sedangkan SGOT selain dihati ia juga dibentuk di jantung.
Pengambilan sampel darah diambil melalui pembuluh darah vena pada siku sukarelawan, pengambilan pada daerah tersebut dirasa lebih mudah karena pembuluh darah terletak dekat dengan permukaan kulit, ukurannya cukup besar dan tidak ada syaraf yang besar di sekitar area pengambilan darah.
Kemudian sampel yang didapat dimasukan ke dalam tabung reaksi dan dilakukan sentrifudge agar plasma darah untuk sampel terpisah dari serum darahnya. Plasma darah merupakan darah yang telah dipisahkan dari sel-sel darah merah dan zat-zat koagulan serta biasanya berwarna kuning pucat. Pemisahan ini dilakukan berdasarkan perbedaan berat jenis zat. Bagian yang digunakan untuk pengujian adalah plasma darah karena berwarna lebih bening sehingga mudah untuk ditiembus cahaya pada spektrofotometer, selain itu juga pada plasma darah akan terjadi interferen dari protein-protein darah.
Pada proses pengambilan reagen, dan sampel dilakukan dengan menggunakan mikropipet (pipet piston). Hal ini disebabkan jumlah larutan yang diambil sangat sedikit (10 μL). Thumb knob ditekan sampai hambatan pertama / first stop, jangan ditekan lebih ke dalam lagi karena cairan yang terambil akan lebih besar daripada jumlah yang sebenarnya. Setelah itu,  tip dimasukkan ke dalam cairan sedalam 3-4 mm karena jika kurang dari nilai tersebut dikhawatirkan cairan tidak terambil sempurna (ada gelembung udara yang terambil), sedangkan jika lebih dari nilai tersebut dikhawatirkan terdapat kontaminan dari tip pipet. Selanjutnya pipet ditahan dalam posisi vertikal kemudian tekanan dari thumb knob dilepaskan sehingga cairan masuk ke tip. Ujung tip dipindahkan ke dalam kuvet. Untuk mengeluarkan cairannya, thumb knob ditekan sampai hambatan kedua / second stop atau ditekan semaksimal mungkin sehingga semua cairan keluar dari ujung tip. Pipet piston digunakan dalam percobaan ini karena memiliki ketelitian, sensitivitas, dan spesifisitas yang tinggi bila dibandingkan dengan pipet gelas.
Dalam reagen sgpt terdapat l-alanin yang berfungsi sebagai asam amino yang akan diubah menjadi glutamat dengan dikatalis oleh enzim glutamate pyruvate transaminase (GPT). Selain itu terdapat LDH (laktat dihidrogenase) yang mengkatalisis perubahan produk l-alanin. Kemudian terdapat juga 2-oxoglutarat yang bereaksi dengan  l-alanin membentuk l-glutamat dan piruvat yang dikatalisis enzim gpt. Enzim gpt akan mengkatalisis pemindahan gugus amino pada l-alanin ke gugus keto dari alfa-ketoglutarat membentuk glutamate dan piruvat, kemudian piruvat direduksi menjadi laktat. Prinsip kerja kadar enzim SGPT dapat diketahui melalui analisis spektrofotometri yaitu interaksi antara sampel dengan energi cahaya pada panjang gelombang 340 nm.  Interaksi ini akan mengakibatkan serapan atau absorbansi sampel yang diketahui untuk melihat kadar enzim SGPT.  Laju oksidasi NADH menjadi NAD+  pada reaksi SGPT dapat dilihat pada analisisnya berdasarkan penurunan absorbansi, semakin banyak  NAD+ yang terbentuk, maka semakin menurun absorbansinya sehingga mengakibatkan makin tinggi SGPT. Dari reaksi enzim SGPT tersebut dapat diketahui bahwa proses reaksi yang berlangsung menggunakan reaksi oksidasi dengan mengubah NADH menjadi NAD+. Faktor yang menyebabkan banyaknya produk adalah kecepatan reaksi, dimana kecepatan reaksi dipengaruhi oleh enzim. 
GPT (Glutamat Piruvat Transaminase) mengkatalisir perubahan L-alanin menjadi laktat karena pengaruh LDH dan NADH2 dan bersamaan dengan itu pula terjadi NAD. Berdasarkan pengujian pada darah sukarelawan didapatkan kadar sgpt 33mikro/l. hal tersebut menunjukan bahwa kadara sgpt sukarelawan berada pada kondisi normal dan baik karena nilai pengujian berada pada rentag hasil 7-56.

F.     Kesimpulan
1.      Pengujian fungsi hati penting dilakukan karena hati merupakan organ pusat metabolisme. Salah satu indicator pengujian fungsi hati yaitu uji sgpt.
2.      Berdasarkan pengujian didapatkan hasil kadar sgpt sukarelawan yaitu 33 mikro/l yang dapat dikatakan fungsi hati sukarelawan berada dalam kondisi baik

G.    Daftar pustaka
Budiwarsono. 2009. Penyakit Hati hal 14. Surabaya : PIT Pro Prodia Panel. 
Kusumobroto O Hernomo. 2007.  Sirosis Hati, dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Hati Edisi I hal 335-45. Jakarta : Jayabadi. 
Sacher, R.A, McPherson, R.A. 2004. Tinjauan Klinis Atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium Cetakan 1. Jakarta : EGC