Welcome to my blog, semoga informasinya bisa bermanfaat ...
Thank's for visit guys...

Rabu, 18 September 2019

LIPID


A.    Tujuan
Mengetahui cara mengecek kolesterol



B.     Dasar Teori
Kolesterol merupakan sterol utama dalam tubuh manusia. Kolesterol merupakan komponen struktural membran sel dan lipoprotein plasma, dan juga merupakan bahan awal pembentukan asam empedu serta hormon steroid. Sterol dan derivatnya sukar larut dalam larutan berair tetapi larut dalam pelarut organik, terutama alkohol. Sehingga senyawa ini dimasukkan kedalam golongan lipid. Ketidaknormalan dalam metabolisme atau pengankutan kolesterol lewat plasma rupa-rupanya ada kaitannya dengan dengan perkembangan arterosklerosis. Selain itu batu empedu yang yang terjadi tersusun terutama dari kolesterol (Montgomery, 1993).
Kolesterol merupakan steroida penting, bukan saja karena merupakan komponen membran tetapi juga karena merupakan pelopor biosintetik umum untuk steroida lain termasuk hormon steroida dan garam empedu (Page, 1985).
Kolesterol dihubungkan dengan metabolisme lipid, dan merupakan sumber untuk sintesa hormon steroid. Kolesterol dieksresikan ke dalam empedu sebagai kolesterol yang tak berubah atau asam empedu, kolesterol dipertahankan dalam bentuk larutan didalam empedu oleh garam-garam empedu dan fospolipid. Kolesterol yang dilepaskan dari jaringan tepi diesterifikasi di dalam plasma dengan asam lemak yang berasal dari lesitin oleh lesistin kolesterol asiltransferase (LCAT) dan diangkut sebagai HDL ke hepar. Ester kolesterol ini bias diangkut ke lipoprotewin lain oleh penukaran dengan trigliserida.
Penurunan ester kolesterol plasma timbul bila terdapat kerusakan sel parenkim hepar, karena defesiensi LCAT yang berasal dari hepar. Terdapat defisiensi LCAT yang jarang, pada mana terjadi akumulasi kolesterol bebas di dalam plasma dan jaringan (Baron, D.N 1990).


Jenis-Jenis Kolestrol
Lipoprotein terbagi menjadi 5 fraksi sesuai dengan berat jenisnyayang dibedakan dengan cara ultrasentrifugasi. Kelima fraksi tersebut adalah kilomikron, very low density lioprotein (VLDL), intermediatedensity lipoprotein (IDL), low density lipoprotein (LDL), dan high density lipoproteinhigh (HDL).
a.       Kilomikron
Merupakan lipoprotein dengan berat molekul terbesar danmengandung Apo-B48. Kandungannya sebagian besar trigliserida (80-95%) untuk dibawa ke jaringan lemak dan otot rangka. Kilomikron juga mengandung kolesterol (2-7%) untuk dibawa ke hati. Setelah 8-10 jamsejak makan terakhir, kilomikron tidak ditemukan lagi di dalam plasma.Adanya kilomokron sewaktu puasa dianggap abnormal (Dalimartha,2008). 
b.      Low Density Lipoprotein (LDL)
Ini sering disebut dengan istilah kolesterol jahat adalah kolesterol yang mengangkut paling banyak kolesterol dan lemak di dalam darah. Kadar LDL yang tinggi dan pekat ini akan menyebabkan kolesterol lebih banyak melekat pada dinding-dinding pembulu darah pada saat transportasi dilakukan. Kolesterol yang melekat itu perlahan-lahan akan mudah membentuk tumpukan-tumpukan yang mengendap, seperti plak pada dinding-dinding pembulu darah. Akibatnya saluran darah terganggu dan ini bisa meningkatkan resiko penyakit pada tubuh seseorang seperti stroke, jantung koroner, dan lain sebagainya (Graha, 2010).
c.       High Density Lippoprotein (HDL)
Ini sering disebut dengan istilah kolesterol baik. Kolesterol HDL ini mengangkut kolesterol lebih sedikit dan mengandung banyak protein. HDL berfungsi membuang kelebihan kolesterol yang dibawa oleh LDL dengan membawanya kembali kehati dan kemudian diurai kembali. Dengan membawa kelebihan koletserol yang dibawa oleh LDL tadi, maka HDL membantu mencegah terjadinya pengendapan dan mengurangi terjadinya plak dipembulu darah yang dapat mengganggu peredaran darah dan membahayakan tubuh. Karena itu kolesterol HDL ini disebut kolesterol baik (Graha, 2010)
d.      Very Low Density Lioprotein (VLDL)
Dibentuk dari asam lemak bebas di hati dengan kandungan Apo-B100. VLDL mengandung 55-80% trigliserida dan 5-15% kolesterol(Dalimartha, 2008).
e.       Intermediate Density Lipoprotein (IDL)
Juga mengandung trigliserida (20-50%) dan kolesterol (20-40%).IDL merupakan zat antara yang terjadi sewaktu VLDL dikatabolisme menjadi LDL. IDL disebut juga VLDL sisa (Dalimartha, 2008).



C.    Alat dan Bahan
·         Pipet piston
·         Tabung reaksi
·         Sentrifudge
·         Spektrofotometer
·         Serum
·         Reagensia  



D.    Prosedur Kerja
a.       Ambil sampel darah
b.      Sentrifugasi
c.       Ambil plasma darah
d.      Masukan 10 µl sampel dan 1000 µl reagensia
e.       Baca dengan spektrofotometer



E.     Pembahasan
Dalam praktikum kali ini dilakukan pengujian lemak berupa pengukuran kada kolesterol pada sampel darah sukarelawan. Kolesterol merupakan steroid alkohol tidak jenuh yang termasuk golongan lipid, yaitu senyawa organik yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik. Pengambilan sampel darah diambil melalui pembuluh darah vena pada siku sukarelawan, pengambilan pada daerah tersebut dirasa lebih mudah karena pembuluh darah terletak dekat dengan permukaan kulit, ukurannya cukup besar dan tidak ada syaraf yang besar di sekitar area pengambilan darah.
Kemudian sampel yang didapat dimasukan ke dalam tabung reaksi dan dilakukan sentrifudge agar plasma darah untuk sampel terpisah dari serum darahnya. Plasma darah merupakan darah yang telah dipisahkan dari sel-sel darah merah dan zat-zat koagulan serta biasanya berwarna kuning pucat. Pemisahan ini dilakukan berdasarkan perbedaan berat jenis zat. Bagian yang digunakan untuk pengujian adalah plasma darah karena berwarna lebih bening sehingga mudah untuk ditiembus cahaya pada spektrofotometer, selain itu juga pada plasma darah akan terjadi interferen dari protein-protein darah. Sedangkan larutan reagen merupakan campuran dari beberapa enzim yang dapat mengubah kolesterol menjadi suatu senyawa berwarna sehingga dapat dideteksi oleh spektrofotometri UV-Vis.
Pada proses pengambilan reagen, dan sampel dilakukan dengan menggunakan mikropipet (pipet piston). Hal ini disebabkan jumlah larutan yang diambil sangat sedikit (10 μL). Thumb knob ditekan sampai hambatan pertama / first stop, jangan ditekan lebih ke dalam lagi karena cairan yang terambil akan lebih besar daripada jumlah yang sebenarnya. Setelah itu,  tip dimasukkan ke dalam cairan sedalam 3-4 mm karena jika kurang dari nilai tersebut dikhawatirkan cairan tidak terambil sempurna (ada gelembung udara yang terambil), sedangkan jika lebih dari nilai tersebut dikhawatirkan terdapat kontaminan dari tip pipet. Selanjutnya pipet ditahan dalam posisi vertikal kemudian tekanan dari thumb knob dilepaskan sehingga cairan masuk ke tip. Ujung tip dipindahkan ke dalam kuvet. Untuk mengeluarkan cairannya, thumb knob ditekan sampai hambatan kedua / second stop atau ditekan semaksimal mungkin sehingga semua cairan keluar dari ujung tip. Pipet piston digunakan dalam percobaan ini karena memiliki ketelitian, sensitivitas, dan spesifisitas yang tinggi bila dibandingkan dengan pipet gelas.
Setelah itu kuvet  diinkubasikan pada suhu ruang yaitu 27 oC selama 10 menit. Proses inkubasi ini bertujuan memberikan waktu untuk terjadinya reaksi antara kedua larutan dalam campuran tersebut. Saat proses inkubasi, terjadi reaksi antara reagen dengan kolesterol yang terdapat pada larutan sampel. Setelah diinkubasi, kedua larutan yang tadinya berwarna bening berubah menjadi warna merah rosa.  Warna merah tersebut menandakan telah terjadinya reaksi antara enzim dengan kolesterol. Warna merah tersebut berasal dari senyawa quinoneimine, yang merupakan hasil reaksi antara reagen dan kolesterol. Reaksi yang terjadi yaitu  sebagai berikut
Perubahan warna (menjadi berwarna merah) diperlukan agar campuran larutan dapat diukur absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis, khususnya dengan sinar visibel. Quinoeimine akan terukur absorbansinya pada panjang gelombang 546 nm dan nilai absorbansi tersebut sebanding dengan kadar kolesterol dalam darah.
Hasil yang didapatkan dari spektrofotometer yaitu kadar kolesterol sukarelawan sebesar 357mg/dl. Kadar tersebut berada jauh diatas kadar normal kolesterol yaitu 140 – 250 mg/dl. Keadaan seseorang yang kadar kolesterolnya tinggi disebut dengan hiperlipidemia. Pada hyperlipidemia kadar lemak (kolesterol, trigliserida, atau keduanya) dalam darah meningkat sebagai manivestasi kelainan metabolisme atau transportasi lemak/lipid. Lipid atau lemak adalah zat yang kaya akan energi, yang berfungsi sebagai sumber utama dalam proses metabolisme.
Hasil pengukuran yang tinggi tersebut belum tentu akurat karena pengujian hanya dilakukan satu kalli dan tanpa adanya pembanding yang digunakan untuk blanko dalam pengujian. Hasil tersebut dapat menjadi lebih tinggi bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti pengukuran sampel yang kurang teliti, keterbatasan pada alat, proses kalibrasi yang kurang tepat ataupun faktor lain yang dapat berasal dari sukarelawan. Sehingga diperlukan pengujian lebih lanjut untuk mengetahui keakuratan hasil yang lebih baik.

F.     Kesimpulan
a.       Kolesterol merupakan steroid alkohol tidak jenuh yang termasuk golongan lipid, yaitu senyawa organik yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik. Pengambilan sampel darah diambil melalui pembuluh darah vena pada siku sukarelawan dan diuji dengan spektrofotometer
b.      Hasil pengujian didapatkan kadar kolesterol 357mg/dl dimana dapat dikatakan bahwa sukarelawan mengalami hyperlipidemia.

G.    Daftar pustaka

Kee, J. L. 1997. Pemeriksaan Laboratorium and Doagnostik. Penerbit EGC. Jakarta.
Kimball, John W. 1983. Biologi, Jilid 2. Jakarta: Penerbit Erlangga
Lehninger, Albert L. 1994. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 3. Jakarta: Erlangga
Nogrady, Thomas. 1992. Kimia Medisinal Terbitan Kedua. Bandung: Penerbit ITB
Staf Pengajar Departemen Farmakologi FK UNSRI. E. 2008. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Penerbit EGC. Jakarta.
Villee, Claude A. 1999. Zoologi Umum Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga

PENENTUAN KADAR GLUKOSA METODE GOD-PAP



1.      Tujuan

Mengetahui kadar glukosa darah



2.      Dasar Teori

Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang juga dikenal sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh (Khomsah, 2008). Tanda awal yang dapat diketahui bahwa seseorang menderita DM atau kencing manis yaitu dilihat langsung dari efek peningkatan kadar gula darah, dimana peningkatan kadar gula dalam darah mencapai nilai 160 - 180 mg/dL dan air seni (urine) penderita kencing manis yang mengandung gula (glucose), sehingga urine sering dilebung atau dikerubuti semut (Khomsah, 2008).



Tipe Penyakit Diabetes Mellitus

Klasifikasi DM menurut American Diabetes Association (1997) sesuai anjuran Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) adalah:

a.       Diabetes Tipe 1 (Insulin Dependent Diabetes Mellitus [IDDM])

b.      Diabetes tipe II (Diabetes melitus tidak tergantung insulin (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus [NIDDM]),

c.       Diabetes Melitus tipe lain

d.      Diabetes Melitus Gestasional (Gestasional Diabetes Mellitus [GDM]) (Cyber Nurse, 2009).



Patofisiologi Diabetes Melitus

a.       Diabetes Tipe I

 Terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel b pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia postprandial (sesudah makan) (Brunner & Suddarth, 2002).

Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar akibatnya glukosa tersebut diekskresikan dalam urin (glukosuria). Ekskresi ini akan disertai oleh pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan, keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Pasien mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsi) (Brunner & Suddarth, 2002).

b.      Diabetes Tipe II

Terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin, yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel. Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel, dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan (Brunner & Suddarth, 2002).

Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam darah harus terdapat peningkatan insulin yang disekresikan. Pada penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun jika sel-sel b tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi diabetes tipe II (Brunner & Suddarth, 2002).

Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas diabetes tipe II, namun terdapat jumlah insulin yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi badan keton. Oleh karena itu, ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe II. Meskipun demikan, diabetes tipe II yang tidak terkontrol dapat menimbulkan masalah akut lainnya yang dinamakan sindrom hiperglikemik hiperosmoler nonketotik. Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat dan progresif, maka awitan diabetes tipe II dapat berjalan tanpa terdeteksi, gejalanya sering bersifat ringan dan dapat mencakup kelelahan, iritabilitas, poliuria, polidipsia, luka pada kulit yang tidak sembuh-sembuh, infeksi dan pandangan yang kabur (Brunner & Suddarth, 2002).

c.       Diabetes Gestasional

Terjadi pada wanita yang tidak menderita diabetes sebelum kehamilannya. Hiperglikemia terjadi selama kehamilan akibat sekresi hormone-hormon plasenta. Sesudah melahirkan bayi, kadar glukosa darah pada wanita yang menderita diabetes gestasional akan kembali normal (Brunner & Suddarth, 2002).



3.      Alat dan Bahan

·         Spuit
·         Tabung reaksi
·         Pipet piston
·         Spektrofotometer
·         Sentrifudge
·         Larutan sampel
·         Reagensia



4.      Prosedur kerja

a.       Ambil sampel melalui pembuluh vena

b.      Masukan ke tabung reaksi

c.       Sentrifudge 20 menit

d.      Ambil tabung baru

e.       Pipet reagensia sebanyak 1000 µl

f.       Tambahkan plasma darah

g.      Diamkan 10 menit, cek di spektrofotometer



5.      Pembahasan

Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian kadar glukosa dalam darah. Glukosa merupakan suatu jenis karbohidrat yang berada di dalam peredaran darah yang penggunaanya diatu oleh insulin. Pengecekan kadar glukosa kali ini dilakukan dengan metode GOD-PAP. Metode ini memiliki akukrasi dan presisi yang baik karena enzim GOD akan lebih spesifik untuk reaksi pertama. Sukarelawan yang akan diambil sampel darahnya tidak mendapatkan treatment khusus terlebih dahulu, sehingga dapat melakukan kebiasaan seperti biasanya yang dilakukan sehari-hari.

Pengambilan sampel darah diambil melalui pembuluh darah vena pada siku sukarelawan, pengambilan pada daerah tersebut dirasa lebih mudah karena pembuluh darah terletak dekat dengan permukaan kulit, ukurannya cukup besar dan tidak ada syaraf yang besar di sekitar area pengambilan darah. Kemudian sampel yang didapat dimasukan ke dalam tabung reaksi dan dilakukan sentrifudge agar plasma darah untuk sampel terpisah dari serum darahnya, pemisahan ini dilakukan berdasarkan perbedaan berat jenis zat. Bagian yang digunakan untuk pengujian adalah plasma darah karena berwarna lebih bening sehingga mudah untuk ditiembus cahaya pada spektrofotometer, selain itu juga pada plasma darah akan terjadi interferen dari protein-protein darah.

Plasma darah hasil sentrifudge ditambahkan dengan reagensia GOD yang mengandung 4-aminofenazon + peroksidase + glukosa oksidase. pada dasarnya  pengujian glukosa dengan metode ini yaitu dapat menentukan glukosa sesudah oksidasi enzimatik oleh glukosa oksidase. Glukosa oksidase (GOD) adalah suatu enzim yang mengkatalisis oksidasi beta-D-glukosa menjadi  glukonolakton yang kemudian karena adanya air akan terhidrolisis menjadi asam glukolonat dan peroksida

Reaksi yang terjadi pada saat pengujian berupa enzim glukosa oksidase (GOD) yang mengkatalisis oksidase glukosa sehingga terbentuk H2O2, yang dengan adanya peroksidase (POD) akan bereaksi dengan fenol dan amino-antipirin. Hasil oksidasi ini akan menimbulkan warna yang kepekatannya seimbang dengan kadar glukosa darah secara fotometrik.

Pengukuran dilakukan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 546nm karena pada panjang gelombang inilah absorbansinya dapat optimal. Sebelum spektrofotometer digunakan ada baiknya dibilas terlebih dahulu agar tidak terkontaminasi oleh zat yang sebelumnya diuji pada alat yang sama. Prinsip dari pengujian ini adalah dengan adanya penembakan panjang gelombang tertentu terhadap suatu senyawa. Cahaya yang ditembakan disini mengandung energi yang akan membuat electron menjadi tereksitasi ke orbital yang lebih tinggi . setelah itu electron akan turun kembali ke ground state sambil melepaskan emisi yang akan diukur oleh alat. Salah satu yang berperan dalam pengujian ini adalah adanya gugus kromofor (ikatan rangkap terkonjugasi) yang dapat menangkap panjanng gelombang tertentu.

Berdasarkan teori kadar glukosa darah yang normal berkisar antara 70-110mg/dl, namun pada praktikum ini kadar glukosanya sangat rendah yaitu 33mg/dl untuk pengukuran pertama dan 35mg/dl untuk pengukuran kedua. Berdasarkan hasil dapat diduga adanya kesalahan dalam pengukuran kadar baik itu berasal dari pemipetan sampel ataupun reagensia yang kurang teliti, adanya zat pengotor lain dalam tabung ataupun memang kadar glukosa sukarelawan yang sedang dalam keadaan rendah. Perlu dilakukan pengujian lanjutan yang lebih akurat dan serius agar didapatkan kadar glukosa darah sukarelawan yang sebenarnya.



6.      Kesimpulan

a.       Pengujian glukosa dengan metode GOD-PAP bekerja dengan cara enzim (GOD) yang mengkatalisis oksidase glukosa sehingga terbentuk H2O2, yang dengan adanya (POD) akan bereaksi dengan fenol dan amino-antipirin

b.      Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah yaitu 33 mg/dl dan 35mg/dl sehingga berdasarkan literature angka tersebut berada dibawah batas normal glukosa darah. Hasil tersebut dapat tejadi karena adanya beberapa faktor kesalahan saat pengujian ataupun kadar glukosa yang memang sedang dibawah normal.



7.      Daftar Pustaka

Mayes PAA. 1984. Biokimia. Jakarta: EGC

Poedjiadi A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: UI press

Wirahadikusumah M. 1995. Biokimia Metabolisme Energi, Karbohidrat Dan Lipid. Bandung: ITB press

UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L) TERHADAP PERTUMBUHAN Escherichia coli


BAB I

PENDAULUAN



A.    Latar Belakang Masalah

Indonesia termasuk sebagai negara tropis yang banyak ditumbuhi berbagai macam tumbuhan yang telah digunakan sebagai bahan obat-obatan. Ramuan tanaman obat yang kemudian dikenal dengan sebutan obat herbal itu telah terbukti khasiatnya dalam mengobati berbagai penyakit. Meluasnya kecenderungan atau trend hidup kembali kealam (back to nature) semakin menambah keingintahuan masyarakat tentang khasiat tanaman obat. Salah satu tanaman yang banyak digunakan yaitu tanaman jambu biji yang dalam hal ini digunakan bagian daunnya.

Jambu biji (Psidium Guajava Linn) telah lama dimanfaatkan sebagai tanaman obat untuk mengobati penyakit seperti diare, disentri, demam berdarah, peradangan stomatitis, jantung dan diabetes. Daunnya terkenal untuk mengatasi diare dan disentri (Pramono. 2002).

Tanaman jambu biji merupakan tanaman dari familia Myrtaceae. Hal yang dapat mempengaruhi kandungan senyawa dalam tanaman adalah tempat tumbuh tanaman yang dipengaruhi oleh jenis tanah, curah hujan, iklim, intensitas sinar matahari, ketinggian dan lingkungan disekitar tempat tumbuhnya serta umur tanaman (Indriani. 2006).

Escherichia coli merupakan salah satu bakteri yang dapat menyebabkan diare. Selain itu bakteri ini juga dapat menginfeksi saluran kemih dan kantung empedu. Infeksi bakteri E.coli terjadi akibat air atau makanan yang terkontaminasi. Untuk mengatasi hal tersebut salah satunya dapat digunakan tanaman daun jambu biji yang digunakan sebagai antibakteri ( Paramitha, et al. 2010).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh John, salah satu bahan aktif yang terkandung dalam daun jambu biji yang memiliki peranan paling efektif sebagai antidiare adalah flavonoid quercetin, alkaloid, tanin dan minyak atsiri, sehingga perlu dilakukan identifikasi untuk mengetahui profil standar senyawa tersebut (John. 2008).





B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas penyusun merumuskan masalah sebagai berikut:

1.      Apakah tanaman jambu biji mengandung senyawa flavonoid, minyak atsiri, tanin dan alkaloid ?

2.      Bagaimana efektvitas senyawa flavonoid sebagai antibakteri terhadap Escherichia coli ?



C.    Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah diatas, proposal penelitian ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan :

1.      Kandungan senyawa flavonoid, minyak atsiri, tanin dan alkaloid dalam tanaman jambu biji.

2.      Mengetahui efektivitas flavonoid, minyak atsiri, tanin dan alkaloid sebagai antibakteri pada Escherichia coli.



D.    Manfaat Penelitian

Proposal penelitian ini disusun dengan harapan memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis.

Secara teoritis proposal penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai pengembangan konsep pengujian kandungan flavonoid, minyak atsiri, tanin dan alkaloid dalam tanaman daun jambu biji dan efektivitasnya terhadap bakteri Escherichia coli.

Secara praktis proposal penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam membantu perkembangan pengobatan tradisional terutama untuk penyakit yang disebabkan oleh Escherichia coli dan proses penyembuhannya membutuhkan aktivitas dari senyawa flavonoid, minyak atsiri dan alkaloid dari tumbuhan jambu biji.



E.     Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di Laboratorium pada bulan April 2019.


F.     Hipotesis

Ekstrak daun jambu biji memiliki kandungan kimia berupa minyak atsiri, flavonoid, tanin dan alkaloid yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli.