Welcome to my blog, semoga informasinya bisa bermanfaat ...
Thank's for visit guys...

Rabu, 18 September 2019

ASAM URAT


A.    Tujuan
Mengetahui kadar asam urat dalam darah

B.     Dasar Teori
Asam urat adalah hasil metabolisme purin dalam tubuh. Zat asam urat ini biasanya akan dikeluarkan oleh ginjal melalui urine dalam kondisi normal. Namun dalam kondisi tertentu, ginjal tidak mampu mengeluarkan zat asam urat secara seimbang, sehingga terjadi kelebihan dalam darah. Kelebihan zat asam urat ini akhirnya menumpuk dan tertimbun pada persendian-persendian dan tempat lainnya termasuk di ginjal itu sendiri dalam bentuk kristal-kristal (Anonim, 2011).
Asam urat terutama disintesis dalam hati yang dikatalisis oleh enzim xantin oksidase. Asam urat diangkut ke ginjal oleh darah untuk filtrasi, direabsorbsi sebagian, dan diekskresi sebagian sebelum akhirnya diekskresikan melalui urin. Peningkatan kadar asam urat dalam urin dan serum bergantung pada fungsi ginjal, kecepatan metabolisme purin, dan asupandiet makanan yang mengandung purin (Hamdani, 2012).
Keadaan normal, setiap orang memiliki asam urat  di dalam tubuhnya, tapi jumlahnya sedikit. Dalam beberapa keadaan, misalnya konsumsi makanan yang mengandung purin tinggi, atau karena ginjal kurang mampu mengeluarkannya dalam tubuh, maka kadar asam urat dalam darah akan meningkat. Kadar asam urat dalam darah adalah : 
1.      Laki – laki 3,4-8,5 mg/dl
2.      Perempuan 2,8-7,3 mg/dl
3.      Anak-anak 2,0-5,5 mg/dl (Antika, 2011).

Peningkatan kadar asam urat dalam darah disebut juga hiperurisema. Keadaan ini dapat menyebabkan penumpukan kristal asam urat disendi dan menimbulkan peradangan di daerah tersebut. Jenis gangguan seperti ini disebut artritis gout. Bahan makanan yang sebaiknya dihinadrai oarang denagn kadar asam urat tinggi adalah :
1.      Makanan berkadar purin tinggi, adalah jerohan ( hati, ginjal, otak, jantung), udang, remis kerang, ekstrak daging ( abon, dendeng), alkohol serta makanan kaleng
2.      Makanan berkadar purin sedang seperti ikan, daging sapi, kerang-kerangan, kacang-kacangan kering, kembang kol, bayam, asparagus, buncis, jamur, daun pepaya, kangkung ( Cahyono, 2012).

Selain mengurangi konsumsi makanan yang banyak mengandung purin dan  rajin minum air putih (Anonim, 2010)

C.    Alat dan Bahan
·         Alat cek asam urat
·         Needle
·         Strip asam urat
·         Alkohol swab
·         Sampel darah


D.    Prosedur Kerja
a.       Bersihkan ujung jari dengan alkohol swab
b.      Ambil sampel darah
c.       Oleskan pada strip asam urat
d.      Tunggu hasil keluar pada alat

E.     Pembahasan
Dalam praktikum kali ini dilakukan pengujian kadar asam urat pada sukarelawan melalui pembuluh darah kapiler dengan alat cek asam urat portabel. Asam urat mengacu pada senyawa asam yang berbentuk kristal, yang merupakan hasil pemecahan senyawa purin. Senyawa purin sendiri berasal dari sel tubuh yang mati dn dari beberapa jenis makanan yang dikonsumsi manusia. Pemeriksaan kadar asam urat sangat penting dilakukan untuk penegakan diagnosa suatu penyakit sehingga terapi dapat dilakukan dengan tepat.
Metode yang digunakan untuk pemeriksaan kadar asam urat ada 3, yaitu metode kimia, enzimatik, dan kolorimetri. Masing-masing metode memiliki kekurangan dan kelebihan. Metode kimia dinilai memiliki presisi yang baik, lebih akurat dibandingkan dengan metode yang lain, lebih sensitive, tetapi harganya mahal. Metode enzimatik memiliki kelebihan lebih spesifik, tetapi dibutuhkan pengondisian yang tidak mudah. Sedangkan metode kolorimetri merupakan metode yang mudah dilakukan dan harganya pun jauh lebih murah sehingga lebih sering digunakan untuk percobaan.
Dari hasil pengukuran, diperoleh kadar asam urat yaitu 5,0 md/dL Berhubung pengambilan darah dilakukan terhadap seseorang berjenis kelamin perempuan, maka kadar batas norml asam urat yaitu 2,5-6,2 mg/dL. Didasarkan pada kadar batas normal tersebut, dapat diketahui bahwa sukarelawan memiliki kadar asam urat dalam tubuh yang normal. Kadar batas normal pada wanita lebih rendah dibandingkan dengan kadar batas normal pada pria, ini disebabkan perempuan memiliki hormon estrogen dan progesterone dalam jumlah lebih banyak dari pria yang dapat berfungsi sebagai penghambat produksi asam urat dalam tubuh.
Asam urat merupakan hasil metabolisme purin dalam tubuh. Penyebab penyakit gout adalah peningkatan kadar asam urat dalam darah yang berlebih. Secara normal, asam urat dikeluarkan oleh ginjal berupa urin, namun dalam kondisi tertentu ginjal tidak dapat berfungsi dengan baik, oleh karena itu zat asam urat tertimbun dalam tubuh terutama pada persendian jari-jari kaki karena dipengaruhi oleh gaya gravitasi sehingga asam urat lebih banyak tertimbun di persendian kaki.

F.     Kesimpulan
1.      Kadar asam urat yang diperoleh dari hasil percobaan yaitu sebesar 5,0 md/dL
2.      Didasarkan pada batas normal kadar asam urat pada wanita, kadar asam urat yang didapat adalah normal

G.    Daftar pustaka

Misnadiarly. 2009. Rematik, Asam Urat, dan Arthritis Gout. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Rohman, Abdul dan Gandjar, Ibnu Gholib. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Syamsu hidayat dan Wim de Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC

FUNGSI HATI (SGPT)


A.    Tujuan
Menentukan nilai kadar SGPT

B.     Dasar Teori
Hati adalah organ penting yang memiliki fungsi mengatur kekonstanan milie interior tubuh manusia. Hati juga merupakan kelenjar tubuh yang paling besar. Hati mempunyai fungsi yang sangat penting dan kompleks. Hati penting untuk mempertahankan tubuh dan berperan pada hampir setiap metabolisme tubuh. Kerusakan total pembuangan hati dapat mengakibatkan kematian dalam waktu 10 jam. Hati mempunyai regenerasi yang mengagumkan. Sebagian pembuangan hati, pada kebanyakan kasus sel hati yang mati/sakit dapat diganti dengan jaringan hati yang baru (Wijayakusuma, 2008).

Hati sebagai organ penting pada tubuh manusia memiliki beberapa fungsi utama seperti :
1.      Pembentukan dan ekskresi empedu yaitu metabolisme garam dan metabolisme pigmen empedu. Garam empedu penting untuk pencernaan dan absorbsi lemak di usus. Bilirubin, pigmen empedu utama, merupakan hasil akhir metabolisme dari penghancuran sel darah merah yang sudah tua. Bilirubin dikonjugasi dalam hati dan diekskresi dalam empedu.
2.      Metabolisme karbohidrat (glikogenesis, glikogenolisis, glukoneogenesis). Hati memegang peranan penting dalam mempertahankan kadar glukosa darah normal dan penyediaan energi untuk tubuh. Karbohidrat disimpan dalam hati sebagai glikogen.
3.      Metabolisme protein meliputi sintesis protein, pembentukan urea, dan penyimpanan protein berupa asam amino.
4.      Metabolisme lemak, hati memegang peranan utama pada sintesis kolesterol, sebagian diekskresikan dalam empedu sebagai kolesterol atau asam folat.
5.      Metabolisme steroid, hati menginfaktifkan dan mengekskresi aldosteron, glukokortikoid, estrogen, progesteron dan testosteron. 
6.      Detoksifikasi, hati bertanggung jawab atas biotransformasi zat-zat yang berbahaya menjadi zat-zat yang tidak berbahaya yang kemudian diekskresi oleh ginjal (misal obat-obatan).
7.      Ruang pengapung dan bekerja sebagai filter, sinosuid hati merupakan depot darah yang dapat mengaliri kembali darah dari vena kava (pada jantung kanan), fagositosis sel kupffer membuang bakteri dan debris dari darah (Budiwarsono, 2009).

SGPT adalah enzim transaminase yang dihasilkan terutama oleh sel-sel hati. Bila sel-sel hati rusak, misalnya pada hepatitis atau sirosis, kadar enzim ini meningkat. Karena itu, SGPT ini bisa memberi gambaran adanya gangguan hati. SGPT (alanin tranaminase) juga merupakan enzim sitosol yang juga ada dalam hati walaupun jumlah absolut kurang dari SGOT. Namun bagian lebih besar berada di dalam hati dibanding dengan otot rangka dan jantung, sehingga peningkatan serum ini lebih spesifik untuk kerusakan hati daripada SGOT (Winarno, 1974). 
Transaminase merupakan enzim yang bekerja sebagai katalisator dalam proses pemindahan gugus alpha amino alanin untuk menjadi asam glutamat dan asam piruvat. Enzim ini didapat pada sel hati dalam kadar yang jauh lebih tinggi daripada dalam sel-sel jantung dan otot, untuk keperluan dalam klinik test SGPT lebih peka bagi pemeriksaan dengan dugaan kerusakan hati akut. Pemeriksaan SGPT mempunyai nilai diagnostik yang baik dalam menentukan kemungkinan dari kerusakan sel hati. SGPT serum umunya diperiksa secara fotometri atau spektrofotometri semi otomatis atau otomatis.

C.    Alat dan Bahan
·         Pipet piston
·         Tabung reaksi
·         Sentrifudge
·         Spektrofotometer
·         Serum
·         Reagensia  

D.    Prosedur Kerja
a.       Ambil sampel darah
b.      Sentrifugasi 15 menit 
c.       Ambil plasma darah
d.      Masukan 2000 µl sampel dan 200 µl reagen 1
e.       Inkubasi 5 menit pada suhu 37oC
f.       Tambahkan 500 µl reagen 2
g.      Baca dengan spektrofotometer

E.     Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian fungsi hati (SGPT). Pengujian fungsi hati merupakan salah satu hal yang penting karena Hati merupakan organ pusat metabolism. Hal ini didukung oleh letak anatomisnya. Hati menerima pendarahan dari sirkulasi sistemik melalui arteri hepatica dan menampung aliran darah dari system porta yang mengandung zat makanan yang diabsorpsi di usus. Karena itu fungsi organ hati penting diketahui dala menilai kesehatan seseorang. SGPT adalah singkatan dari Serum Glutamic Piruvic Transaminase, enzim ini banyak terdapat di hati. Dalam uji SGOT dan SGPT, hati dapat dikatakan rusak bila jumlah enzim tersebut dalam plasma lebih besar dari kadar normalnya. SGPT lebih akurat untuk uji fungsi hati karena SGPT murni dibentuk dihati, sedangkan SGOT selain dihati ia juga dibentuk di jantung.
Pengambilan sampel darah diambil melalui pembuluh darah vena pada siku sukarelawan, pengambilan pada daerah tersebut dirasa lebih mudah karena pembuluh darah terletak dekat dengan permukaan kulit, ukurannya cukup besar dan tidak ada syaraf yang besar di sekitar area pengambilan darah.
Kemudian sampel yang didapat dimasukan ke dalam tabung reaksi dan dilakukan sentrifudge agar plasma darah untuk sampel terpisah dari serum darahnya. Plasma darah merupakan darah yang telah dipisahkan dari sel-sel darah merah dan zat-zat koagulan serta biasanya berwarna kuning pucat. Pemisahan ini dilakukan berdasarkan perbedaan berat jenis zat. Bagian yang digunakan untuk pengujian adalah plasma darah karena berwarna lebih bening sehingga mudah untuk ditiembus cahaya pada spektrofotometer, selain itu juga pada plasma darah akan terjadi interferen dari protein-protein darah.
Pada proses pengambilan reagen, dan sampel dilakukan dengan menggunakan mikropipet (pipet piston). Hal ini disebabkan jumlah larutan yang diambil sangat sedikit (10 μL). Thumb knob ditekan sampai hambatan pertama / first stop, jangan ditekan lebih ke dalam lagi karena cairan yang terambil akan lebih besar daripada jumlah yang sebenarnya. Setelah itu,  tip dimasukkan ke dalam cairan sedalam 3-4 mm karena jika kurang dari nilai tersebut dikhawatirkan cairan tidak terambil sempurna (ada gelembung udara yang terambil), sedangkan jika lebih dari nilai tersebut dikhawatirkan terdapat kontaminan dari tip pipet. Selanjutnya pipet ditahan dalam posisi vertikal kemudian tekanan dari thumb knob dilepaskan sehingga cairan masuk ke tip. Ujung tip dipindahkan ke dalam kuvet. Untuk mengeluarkan cairannya, thumb knob ditekan sampai hambatan kedua / second stop atau ditekan semaksimal mungkin sehingga semua cairan keluar dari ujung tip. Pipet piston digunakan dalam percobaan ini karena memiliki ketelitian, sensitivitas, dan spesifisitas yang tinggi bila dibandingkan dengan pipet gelas.
Dalam reagen sgpt terdapat l-alanin yang berfungsi sebagai asam amino yang akan diubah menjadi glutamat dengan dikatalis oleh enzim glutamate pyruvate transaminase (GPT). Selain itu terdapat LDH (laktat dihidrogenase) yang mengkatalisis perubahan produk l-alanin. Kemudian terdapat juga 2-oxoglutarat yang bereaksi dengan  l-alanin membentuk l-glutamat dan piruvat yang dikatalisis enzim gpt. Enzim gpt akan mengkatalisis pemindahan gugus amino pada l-alanin ke gugus keto dari alfa-ketoglutarat membentuk glutamate dan piruvat, kemudian piruvat direduksi menjadi laktat. Prinsip kerja kadar enzim SGPT dapat diketahui melalui analisis spektrofotometri yaitu interaksi antara sampel dengan energi cahaya pada panjang gelombang 340 nm.  Interaksi ini akan mengakibatkan serapan atau absorbansi sampel yang diketahui untuk melihat kadar enzim SGPT.  Laju oksidasi NADH menjadi NAD+  pada reaksi SGPT dapat dilihat pada analisisnya berdasarkan penurunan absorbansi, semakin banyak  NAD+ yang terbentuk, maka semakin menurun absorbansinya sehingga mengakibatkan makin tinggi SGPT. Dari reaksi enzim SGPT tersebut dapat diketahui bahwa proses reaksi yang berlangsung menggunakan reaksi oksidasi dengan mengubah NADH menjadi NAD+. Faktor yang menyebabkan banyaknya produk adalah kecepatan reaksi, dimana kecepatan reaksi dipengaruhi oleh enzim. 
GPT (Glutamat Piruvat Transaminase) mengkatalisir perubahan L-alanin menjadi laktat karena pengaruh LDH dan NADH2 dan bersamaan dengan itu pula terjadi NAD. Berdasarkan pengujian pada darah sukarelawan didapatkan kadar sgpt 33mikro/l. hal tersebut menunjukan bahwa kadara sgpt sukarelawan berada pada kondisi normal dan baik karena nilai pengujian berada pada rentag hasil 7-56.

F.     Kesimpulan
1.      Pengujian fungsi hati penting dilakukan karena hati merupakan organ pusat metabolisme. Salah satu indicator pengujian fungsi hati yaitu uji sgpt.
2.      Berdasarkan pengujian didapatkan hasil kadar sgpt sukarelawan yaitu 33 mikro/l yang dapat dikatakan fungsi hati sukarelawan berada dalam kondisi baik

G.    Daftar pustaka
Budiwarsono. 2009. Penyakit Hati hal 14. Surabaya : PIT Pro Prodia Panel. 
Kusumobroto O Hernomo. 2007.  Sirosis Hati, dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Hati Edisi I hal 335-45. Jakarta : Jayabadi. 
Sacher, R.A, McPherson, R.A. 2004. Tinjauan Klinis Atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium Cetakan 1. Jakarta : EGC

LIPID


A.    Tujuan
Mengetahui cara mengecek kolesterol



B.     Dasar Teori
Kolesterol merupakan sterol utama dalam tubuh manusia. Kolesterol merupakan komponen struktural membran sel dan lipoprotein plasma, dan juga merupakan bahan awal pembentukan asam empedu serta hormon steroid. Sterol dan derivatnya sukar larut dalam larutan berair tetapi larut dalam pelarut organik, terutama alkohol. Sehingga senyawa ini dimasukkan kedalam golongan lipid. Ketidaknormalan dalam metabolisme atau pengankutan kolesterol lewat plasma rupa-rupanya ada kaitannya dengan dengan perkembangan arterosklerosis. Selain itu batu empedu yang yang terjadi tersusun terutama dari kolesterol (Montgomery, 1993).
Kolesterol merupakan steroida penting, bukan saja karena merupakan komponen membran tetapi juga karena merupakan pelopor biosintetik umum untuk steroida lain termasuk hormon steroida dan garam empedu (Page, 1985).
Kolesterol dihubungkan dengan metabolisme lipid, dan merupakan sumber untuk sintesa hormon steroid. Kolesterol dieksresikan ke dalam empedu sebagai kolesterol yang tak berubah atau asam empedu, kolesterol dipertahankan dalam bentuk larutan didalam empedu oleh garam-garam empedu dan fospolipid. Kolesterol yang dilepaskan dari jaringan tepi diesterifikasi di dalam plasma dengan asam lemak yang berasal dari lesitin oleh lesistin kolesterol asiltransferase (LCAT) dan diangkut sebagai HDL ke hepar. Ester kolesterol ini bias diangkut ke lipoprotewin lain oleh penukaran dengan trigliserida.
Penurunan ester kolesterol plasma timbul bila terdapat kerusakan sel parenkim hepar, karena defesiensi LCAT yang berasal dari hepar. Terdapat defisiensi LCAT yang jarang, pada mana terjadi akumulasi kolesterol bebas di dalam plasma dan jaringan (Baron, D.N 1990).


Jenis-Jenis Kolestrol
Lipoprotein terbagi menjadi 5 fraksi sesuai dengan berat jenisnyayang dibedakan dengan cara ultrasentrifugasi. Kelima fraksi tersebut adalah kilomikron, very low density lioprotein (VLDL), intermediatedensity lipoprotein (IDL), low density lipoprotein (LDL), dan high density lipoproteinhigh (HDL).
a.       Kilomikron
Merupakan lipoprotein dengan berat molekul terbesar danmengandung Apo-B48. Kandungannya sebagian besar trigliserida (80-95%) untuk dibawa ke jaringan lemak dan otot rangka. Kilomikron juga mengandung kolesterol (2-7%) untuk dibawa ke hati. Setelah 8-10 jamsejak makan terakhir, kilomikron tidak ditemukan lagi di dalam plasma.Adanya kilomokron sewaktu puasa dianggap abnormal (Dalimartha,2008). 
b.      Low Density Lipoprotein (LDL)
Ini sering disebut dengan istilah kolesterol jahat adalah kolesterol yang mengangkut paling banyak kolesterol dan lemak di dalam darah. Kadar LDL yang tinggi dan pekat ini akan menyebabkan kolesterol lebih banyak melekat pada dinding-dinding pembulu darah pada saat transportasi dilakukan. Kolesterol yang melekat itu perlahan-lahan akan mudah membentuk tumpukan-tumpukan yang mengendap, seperti plak pada dinding-dinding pembulu darah. Akibatnya saluran darah terganggu dan ini bisa meningkatkan resiko penyakit pada tubuh seseorang seperti stroke, jantung koroner, dan lain sebagainya (Graha, 2010).
c.       High Density Lippoprotein (HDL)
Ini sering disebut dengan istilah kolesterol baik. Kolesterol HDL ini mengangkut kolesterol lebih sedikit dan mengandung banyak protein. HDL berfungsi membuang kelebihan kolesterol yang dibawa oleh LDL dengan membawanya kembali kehati dan kemudian diurai kembali. Dengan membawa kelebihan koletserol yang dibawa oleh LDL tadi, maka HDL membantu mencegah terjadinya pengendapan dan mengurangi terjadinya plak dipembulu darah yang dapat mengganggu peredaran darah dan membahayakan tubuh. Karena itu kolesterol HDL ini disebut kolesterol baik (Graha, 2010)
d.      Very Low Density Lioprotein (VLDL)
Dibentuk dari asam lemak bebas di hati dengan kandungan Apo-B100. VLDL mengandung 55-80% trigliserida dan 5-15% kolesterol(Dalimartha, 2008).
e.       Intermediate Density Lipoprotein (IDL)
Juga mengandung trigliserida (20-50%) dan kolesterol (20-40%).IDL merupakan zat antara yang terjadi sewaktu VLDL dikatabolisme menjadi LDL. IDL disebut juga VLDL sisa (Dalimartha, 2008).



C.    Alat dan Bahan
·         Pipet piston
·         Tabung reaksi
·         Sentrifudge
·         Spektrofotometer
·         Serum
·         Reagensia  



D.    Prosedur Kerja
a.       Ambil sampel darah
b.      Sentrifugasi
c.       Ambil plasma darah
d.      Masukan 10 µl sampel dan 1000 µl reagensia
e.       Baca dengan spektrofotometer



E.     Pembahasan
Dalam praktikum kali ini dilakukan pengujian lemak berupa pengukuran kada kolesterol pada sampel darah sukarelawan. Kolesterol merupakan steroid alkohol tidak jenuh yang termasuk golongan lipid, yaitu senyawa organik yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik. Pengambilan sampel darah diambil melalui pembuluh darah vena pada siku sukarelawan, pengambilan pada daerah tersebut dirasa lebih mudah karena pembuluh darah terletak dekat dengan permukaan kulit, ukurannya cukup besar dan tidak ada syaraf yang besar di sekitar area pengambilan darah.
Kemudian sampel yang didapat dimasukan ke dalam tabung reaksi dan dilakukan sentrifudge agar plasma darah untuk sampel terpisah dari serum darahnya. Plasma darah merupakan darah yang telah dipisahkan dari sel-sel darah merah dan zat-zat koagulan serta biasanya berwarna kuning pucat. Pemisahan ini dilakukan berdasarkan perbedaan berat jenis zat. Bagian yang digunakan untuk pengujian adalah plasma darah karena berwarna lebih bening sehingga mudah untuk ditiembus cahaya pada spektrofotometer, selain itu juga pada plasma darah akan terjadi interferen dari protein-protein darah. Sedangkan larutan reagen merupakan campuran dari beberapa enzim yang dapat mengubah kolesterol menjadi suatu senyawa berwarna sehingga dapat dideteksi oleh spektrofotometri UV-Vis.
Pada proses pengambilan reagen, dan sampel dilakukan dengan menggunakan mikropipet (pipet piston). Hal ini disebabkan jumlah larutan yang diambil sangat sedikit (10 μL). Thumb knob ditekan sampai hambatan pertama / first stop, jangan ditekan lebih ke dalam lagi karena cairan yang terambil akan lebih besar daripada jumlah yang sebenarnya. Setelah itu,  tip dimasukkan ke dalam cairan sedalam 3-4 mm karena jika kurang dari nilai tersebut dikhawatirkan cairan tidak terambil sempurna (ada gelembung udara yang terambil), sedangkan jika lebih dari nilai tersebut dikhawatirkan terdapat kontaminan dari tip pipet. Selanjutnya pipet ditahan dalam posisi vertikal kemudian tekanan dari thumb knob dilepaskan sehingga cairan masuk ke tip. Ujung tip dipindahkan ke dalam kuvet. Untuk mengeluarkan cairannya, thumb knob ditekan sampai hambatan kedua / second stop atau ditekan semaksimal mungkin sehingga semua cairan keluar dari ujung tip. Pipet piston digunakan dalam percobaan ini karena memiliki ketelitian, sensitivitas, dan spesifisitas yang tinggi bila dibandingkan dengan pipet gelas.
Setelah itu kuvet  diinkubasikan pada suhu ruang yaitu 27 oC selama 10 menit. Proses inkubasi ini bertujuan memberikan waktu untuk terjadinya reaksi antara kedua larutan dalam campuran tersebut. Saat proses inkubasi, terjadi reaksi antara reagen dengan kolesterol yang terdapat pada larutan sampel. Setelah diinkubasi, kedua larutan yang tadinya berwarna bening berubah menjadi warna merah rosa.  Warna merah tersebut menandakan telah terjadinya reaksi antara enzim dengan kolesterol. Warna merah tersebut berasal dari senyawa quinoneimine, yang merupakan hasil reaksi antara reagen dan kolesterol. Reaksi yang terjadi yaitu  sebagai berikut
Perubahan warna (menjadi berwarna merah) diperlukan agar campuran larutan dapat diukur absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis, khususnya dengan sinar visibel. Quinoeimine akan terukur absorbansinya pada panjang gelombang 546 nm dan nilai absorbansi tersebut sebanding dengan kadar kolesterol dalam darah.
Hasil yang didapatkan dari spektrofotometer yaitu kadar kolesterol sukarelawan sebesar 357mg/dl. Kadar tersebut berada jauh diatas kadar normal kolesterol yaitu 140 – 250 mg/dl. Keadaan seseorang yang kadar kolesterolnya tinggi disebut dengan hiperlipidemia. Pada hyperlipidemia kadar lemak (kolesterol, trigliserida, atau keduanya) dalam darah meningkat sebagai manivestasi kelainan metabolisme atau transportasi lemak/lipid. Lipid atau lemak adalah zat yang kaya akan energi, yang berfungsi sebagai sumber utama dalam proses metabolisme.
Hasil pengukuran yang tinggi tersebut belum tentu akurat karena pengujian hanya dilakukan satu kalli dan tanpa adanya pembanding yang digunakan untuk blanko dalam pengujian. Hasil tersebut dapat menjadi lebih tinggi bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti pengukuran sampel yang kurang teliti, keterbatasan pada alat, proses kalibrasi yang kurang tepat ataupun faktor lain yang dapat berasal dari sukarelawan. Sehingga diperlukan pengujian lebih lanjut untuk mengetahui keakuratan hasil yang lebih baik.

F.     Kesimpulan
a.       Kolesterol merupakan steroid alkohol tidak jenuh yang termasuk golongan lipid, yaitu senyawa organik yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik. Pengambilan sampel darah diambil melalui pembuluh darah vena pada siku sukarelawan dan diuji dengan spektrofotometer
b.      Hasil pengujian didapatkan kadar kolesterol 357mg/dl dimana dapat dikatakan bahwa sukarelawan mengalami hyperlipidemia.

G.    Daftar pustaka

Kee, J. L. 1997. Pemeriksaan Laboratorium and Doagnostik. Penerbit EGC. Jakarta.
Kimball, John W. 1983. Biologi, Jilid 2. Jakarta: Penerbit Erlangga
Lehninger, Albert L. 1994. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 3. Jakarta: Erlangga
Nogrady, Thomas. 1992. Kimia Medisinal Terbitan Kedua. Bandung: Penerbit ITB
Staf Pengajar Departemen Farmakologi FK UNSRI. E. 2008. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Penerbit EGC. Jakarta.
Villee, Claude A. 1999. Zoologi Umum Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga