Welcome to my blog, semoga informasinya bisa bermanfaat ...
Thank's for visit guys...

Rabu, 18 September 2019

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN NAMNAM (Cynometra cauliflora L) TERHADAP Staphylococcus epidermidis



BAB I PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Penelitian
Diare merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih menjadi penyebab utama tingginya morbiditas dan mortalitas pada anak di negara berkembang termasuk di Indonesia. Pengertian diare itu sendiri menurut WHO yaitu buang air besar dengan konsistensi cair sebanyak 3 kali atau lebih dalam 24 jam. Berdasarkan etiologinya diare dapat disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri salah satunya adalah bakteri Escherichia coli. Bakteri ini biasanya hidup didalam usus manusia dan hewan. Upaya penatalaksanaan diare sebagian besar dengan rehidrasi untuk mengganti cairan tubuh yang hilang, walaupun diare yang berkelanjutan harus diatasi dengan pengobatan kausatif yang menggunakan antibiotik. Pemberian antibiotik yang banyak ditemukan di apotek membutuhkan biaya yang relatif mahal dan dapat menyebabkan efek samping bagi penderita diare. Alternatif pengobatan lain adalah dengan tanaman obat. 
Ramuan tanaman obat yang kemudian dikenal dengan sebutan obat herbal itu telah terbukti khasiatnya dalam mengobati berbagai penyakit. Meluasnya kecenderungan atau trend hidup kembali kealam (back to nature) semakin menambah keingintahuan masyarakat tentang khasiat tanaman obat. Beragam jenis tanaman obat telah lama digunakan secara tradisional kini dipopulerkan kembali. 
Salah satu obat tradisional yang sering digunakan untuk mengobati diare adalah daun jambu biji yang memiliki kandungan senyawa tanin, flavonoid dan alkaloid. Jika dilihat dari kandungan senyawa yang ada pada daun namnam, berdasarkan jurnal penelitian Fenty Waty dengan judul penelitian “AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN NAMNAM (Cynometra cauliflora L) TERHADAP Staphylococcus epidermidis” pada tahapan skrining fitokimianya menyebutkan bahwa ekstrak daun namnam mengandung flavonoid, tanin, alkaloid dan saponin. Mengingat samanya kandungan antara daun jambu biji dengan daun namnam dapat diprediksi bahwa kemungkinan adanya akivitas antidiare dari daun namnam.

B.       Rumusan Penelitian
Berdasarkan latar belakang diatas penyusun merumuskan masalah sebagai berikut
1.        Bagaimana aktivitas ekstrak daun namnam terhadap bakteri E.coli?
2.        Senyawa apa yang terkandung dalam daun namnam yang memiliki aktivitas terhadap bakteri E.coli?
3.        Berapa konsentrasi yang paling efektif dalam menghambat bakteri E.coli?

C.      Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah diatas, proposal penelitian ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan :
1.        Untuk mengetahui aktivitas ekstrak daun namnam terhadap bakteri E.coli;
2.        Untuk mengetahui senyawa yang terkandung dalam daun namnam yang memiliki aktivitas terhadap bakteri E.coli;
3.        Untuk mengetahui konsentrasi ekstrak daun namnam yang paling efektif dalam menghambat bakteri E.coli.

D.      Manfaat Penelitian
Proposal penelitian ini disusun dengan harapan memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis.
Secara teoritis proposal penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai pengembangan konsep pengobatan diare menggunakan obat tradisional dan mengetahui aktivitas ekstrak daun namnam terhadap bakteri E.coli.
Secara praktis proposal penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam membantu perkembangan pengobatan tradisional terutama untuk penyakit diare yang disebabkan oleh Eschercia coli dan proses penyembuhannya.




BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.      Namnam (Cynometra cauliflora L)


 


Gambar 1.1 Pohon Namnam



Namnam (Cynometra cauliflora L) merupakan tanaman dari keluarga Fabaceae yang tersebar di Asia Tenggara dan India. Tanaman ini kurang dimanfaatkan tetapi memiliki nilai medis sebagai obat-obatan tradisional dan dibudidayakan sebagai tanaman hias oleh masyarakat di pedesaan karena daunnya rimbun serta daun mudanya yang berwarna merah muda yang terlihat menarik  (Ikram et al., 2009; Sastrapradja et al., 1977).



1.        Klasifikasi

Divisi               : Spermatophyta

Sub Divisi       : Angiospermae

Kelas               : Dicotyledonae

Bangsa            : Fabales

Suku                : Fabaceae

Sub suku         : Caesalpinioideae

Genus              : Cynometra

Spesies : Cynometra cauliflora, L.

 

2.        Morfologi

Namnam tersebar dari India, Malaysia hingga ke Indonesia. Tanaman ini tumbuh baik pada dataran rendah dan tanah yang subur, serta tempat-tempat tebuka dan datar. Tanaman namnam memiliki batang yang berbenjol-benjol dan tumbuh tinggi hingga mencapai 12m. Daunnya berbentuk bulat panjang, pada waktu mudanya berwarna merah muda atau merah keputih-putihan. Bunganya tumbuh dari batang, berbentuk kecil dan berwarna putih kemerah-merahan atau merah muda pucat. Buahnya berwarna hijau kekuning-kuningan atau hijau kecoklatan dan berbentuk seperti ginjal pipih. Daging buahnya harum dan berwarna putih kekuning-kuningan dengan rasa asam-asam manis. Tanaman namnam ini berbunga pada bulan Juni hingga September dan berbuah masak pada bulan Agustus hingga November (Sastrapradja et al., 1977).


3.        Kandungan Senyawa Kimia

Bagian daun, batang dan kulit kayu dari tumbuhan namnam mengandung senyawa tanin, saponin, flavonoid, terpenoid dan cardiac glycosides (Aziz dan Iqbal, 2013). Sementara kandungan gizi buah namnam per 100 g bagian yang dapat dikonsumsi adalah air 85 g; protein 1,5 g; lemak 0,06-1,28 g; karbohidrat 10 g; serat 1,4 g; vitamin A 150-500 I.U.; dan vitamin C 25 mg (Sastrapadja et al., 1977). Menurut Sukandar dan Amelia (2013), ekstrak etanol buah namnam mengandung senyawa golongan triterpenoid, flavonoid dan saponin. Selain itu, ekstrak etanol buah namnam memiliki aktivitas antioksidan sebesar 328,29 ppm. Sementara menurut Rabeta dan Nur (2013), ekstrak air dan ekstrak metanol buah namnam memiliki kandungan fenol total sebesar 98,79 mg EAG/100 g sampel dan 847,31 mg EAG/100 g sampel, sedangkan aktivitas antioksidannya diukur dengan metode FRAP masing-masing sebesar 7197,22 µM/g sampel dan 19397,22 µM/g sampel. Penelitian lain juga menyebutkan bahwa kandungan fenolik total ekstrak etanol buah namnam sebesar 1868,94 mg EAG/100g sampel dan aktivitas antioksidan yamg diukur dengan metode β-carotene bleaching assay sebesar 45,95% (Ikram, et al.,2009). 


4.        Kegunaan

Pohon namnam banyak ditanam sebagai penghias halaman orang Eropa, karena daunnya yang rimbun dan daun mudanya yang berwarna merah muda atau merah keputih-putihan yang terlihat menarik. Selain itu, beberapa bagian tanaman namnam mempunyai manfaat yang menguntungkan. Kayu namnam yang padat dan mata kayunya yang keras sering dibuat gasing. Rebusan daun muda namnam berkhasiat meringankan gejala diare. Buah namnam yang telah matang dimasak dengan anggur dan gula merupakan makanan yang enak dan sehat. Selain itu, buahnya dapat dimakan langsung atau dijadikan rujak, asinan dan dimakan bersama sambal (Sastrapradja et al., 1977; Heyne, 1987).




B.       Escherchia coli 


Escherichia coli merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang pendek yang memiliki panjang sekitar 2 µm, diameter 0,7 µm, lebar 0,4-0,7µm dan bersifat anaerob fakultatif. E. coli membentuk koloni yang bundar, cembung, dan halus dengan tepi yang nyata (Smith-Keary, 1988 ; Jawetz et al., 1995).


1.        Manfaat dan Patogenesitas

E. coli adalah anggota flora normal usus. E. coli berperan penting dalam sintesis vitamin K, konversi pigmen-pigmen empedu, asam-asam empedu dan penyerapan zat-zat makanan. E. coli termasuk ke dalam bakteri heterotrof yang memperoleh makanan berupa zat oganik dari lingkungannya karena tidak dapat menyusun sendiri zat organik yang dibutuhkannya. Zat organik diperoleh dari sisa organisme lain. Bakteri ini menguraikan zat organik dalam makanan menjadi zat anorganik, yaitu CO2, H2O, energi, dan mineral. Di dalam lingkungan, bakteri pembusuk ini berfungsi sebagai pengurai dan penyedia nutrisi bagi tumbuhan (Ganiswarna, 1995).

E. coli menjadi patogen jika jumlah bakteri ini dalam saluran pencernaan meningkat atau berada di luar usus. E. coli menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan beberapa kasus diare. E. coli berasosiasi dengan enteropatogenik menghasilkan enterotoksin pada sel epitel (jawetz et al., 1995).

Manifestasi klinik infeksi oleh E. coli  bergantung pada tempat infeksi dan tidak dapat dibedakan dengan gejala infeksi yang disebabkan oleh bakteri lain (jawetz et al., 1995). Penyakit yang disebabkan oleh E. coli yaitu :

1.1    Infeksi saluran kemih 

E. coli merupakan penyebab infeksi saluran kemih pada kira-kira 90 % wanita muda. Gejala dan tanda -tandanya antara lain sering kencing, disuria, hematuria, dan piuria. Nyeri pinggang berhubungan dengan infeksi saluran kemih bagian atas.

1.2    Diare 

E. coli yang menyebabkan diare banyak ditemukan di seluruh dunia. E. coli diklasifikasikan oleh ciri khas sifat-sifat virulensinya, dan setiap kelompok menimbulkan penyakit melalui mekanisme yang berbeda. Ada lima kelompok galur E. coli yang patogen, yaitu :

a.         E. coli Enteropatogenik (EPEC) 

EPEC penyebab penting diare pada bayi, khususnya di negara berkembang. EPEC sebelumnya dikaitkan dengan wabah diare pada anak-anak di negara maju. EPEC melekat pada sel mukosa usus kecil.

b.        E. coli Enterotoksigenik (ETEC) 

ETEC penyebab yang sering dari “diare wisatawan” dan penyebab diare pada bayi di negara berkembang. Faktor kolonisasi ETEC yang spesifik untuk manusia menimbulkan pelekatan ETEC pada sel epitel usus kecil. 

c.         E. coli Enteroinvasif (EIEC) 

EIEC menimbulkan penyakit yang sangat mirip dengan shigelosis. Penyakit yang paling sering pada anak-anak di negara berkembang dan para wisatawan yang menuju negara tersebut. Galur EIEC bersifat non-laktosa atau melakukan fermentasi laktosa dengan lambat serta bersifat tidak dapat bergerak. EIEC menimbulkan penyakit melalui invasinya ke sel epitel mukosa usus. 

d.        E. coli Enterohemoragik (EHEK)

EHEK menghasilkan verotoksin, dinamai sesuai efek sitotoksisnya pada sel Vero, suatu ginjal dari monyet hijau Afrika.

e.         E. coli Enteroagregatif (EAEC)

EAEC menyebabkan diare akut dan kronik pada masyarakat di negara berkembang.

1.3    Sepsis

Bila pertahanan inang normal tidak mencukupi,  E. coli dapat memasuki aliran darah dan menyebabkan sepsis. 

1.4    Meningitis

E. coli dan Streptokokus adalah penyebab utama meningitis pada bayi. E. coli merupakan penyebab pada sekitar 40% kasus meningitis neonatal (Jawetz et al., 1996).   



BAB III METODE PENELITIAN
A.  Alat dan Bahan
1.    Alat
2.    Bahan
·      Alat ekstraksi
·      Tabung reaksi
·      Rotary epavorator
·      Cawan petri
·      Penggaris
·      Bunsen
·      Ose
·      Korek api
·      Spatula besi
·      Mikro pipet
·      Vortex
·      Autoklaf
·      Tisu
·      Laminar air flow
·      Timbangan

·      Daun namnm
·      Etanol 96%
·      H2SO4
·      Media agar darah
·      Larutan Mc Farland 0,5%
·      Biakan Escherchia coli
·      Cakram amoxicillin
B.  Prosedur Penelitian
1.    Tahap Persiapan
1.1    Pembuatan ekstrak daun namnam
Tumbuhan daun namnam (Cynometra cauliflora L) dikumpulkan dalam keadaan segar, dicuci, kemudian diangin-anginkan, lalu digerus dan di ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut ethanol 96% selama kurang lebih 5 hari dengan pengadukan. Selanjutnya maserat yang diperoleh diuapkan dengan rotary evaporator dengan suhu 45oC untuk memperoleh ekstrak kental. 
Kerangka prosedur pengerjaan
 
1.2    Pembuatan stok variabel konsentrasi

Setelah ekstrak diperoleh, selanjutnya dibuat stok variabel dengan berbagai konsentrasi dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas optimum yang dapat dihasilkan oleh ekstrak daun namnam. Dimana variabel yang dibuat ada 7 variasi, yang pertama untuk kontrol positif digunakan cakram loperamide, kontrol negatif digunakan etanol, kemudian konsentrasi ekstrak divariasikan mulai dari 20%, 30%, 50%, 75% dan 100%.

Kerangka prosedur pengerjaan
1.3    Kultur bakteri Escherchia coli
Dibuat terlebih dahulu kultur dari bakteri Escherchia coli dengan cara ambil 1 mata ose biakan murni Escherchia coli lalu pindahkan ke media agar darah lakukan secara aseptis, selanjutnya diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam didalam inkubator.
Kerangka prosedur pengerjaan
2.    Tahap Pengujian
2.1    Skrining fitokimia
Setelah ekstrak diperoleh selanjutnya dilakukan skrining fitokimia terlebih dahulu dengan tujuan untuk mengidentifikasi senyawa yang terkandung didalam ekstrak, dengan cara ekstrak dimasukan ke dalam tabung reaksi lalu ditambahkan reagen tertentu dan selanjutnya diamati perubahan warnanya. Skrining fitokimia yang dilakukan diantaranya uji alkaloid, flavonoid, tanin, steroid, terpenoid, saponin dan fenolik.
Kerangka prosedur pengerjaan
2.2    Uji aktivitas ekstrak daun namnam terhadap Escherchia coli
Uji aktivitas ekstrak terhadap Escherchia coli dilakukan dengan cara bakteri diencerkan dengan mencampurkan 1 mata ose suspensi biakan yang telah berisi Thioglikolat lalu homogenkan dengan vortex dan standarisasi dengan 0,5 Mc Farlang agar jumlahnya memenuhi untuk uji kepekaan, lalu cakram uji yang direndam pada masing-masing konsentrasi diletakan diatas permukaan agar secara higienis didalam laminar air flow, lalu oleskan larutan bakteri pada media pertumbuhan agar darah Inkubasi media didalam incubator pada suhu 37oC selama 24jam dan keesokan harinya diameter zona terang (clear zone) diukur dengan menggunakan penggaris
Kerangka prosedur pengerjaan



DAFTAR PUSTAKA
Aziz, A.F.A. dan Iqbal, Mohammad, 2013, Antioxidant activity and phytochemical composition of Cynometra cauliflora, Journal of Experimental Integrative Medicine.
Ganiswarna S. G, 1995 , Farmakologi dan Terapi, ed. 4, UI -Fakultas Kedokteran, Jakarta.
Heyne, K., 1987, Tumbuhan Berguna Indonesia I, Jilid I, diterjemahkan oleh Badan Litbang Departemen Kehutanan, Yayasan Sarana Warna Jaya, Jakarta.
Ikram, E.H.K., et al., 2009, Antioxidant Capacity And Total Phenolic Content Of Malaysian Underutilized Fruits, Journal of Food Composition and Analysis.
Jawetz E., J. L. Melnick, E. A. Adelberg, G. F. Brooks, J. S. Butel, L. N. Ornston, 1995, Mikrobiologi Kedokteran, ed. 20, University of California, San Francisco
Rabeta, M.S. dan Nur Faraniza, R., 2013, Total Phenolic Content And Ferric Reducing Antioxidant Power Of The Leaves And Fruits Of Garcinia Atrovirdis And Cynometra Cauliflora, International Food Research Journal.
Sastrapradja, et al., 1977, Buah-buahan, Proyek Sumber Daya Ekonomi, Lembaga Biologi Nasional-LIPI, Bogor.
Smith-Keary P. F., 1988, Genetic Elements in Escherichia coli, Macmillan Molecular biology series, London, p.
Sukandar, Dede dan Amelia, Eka Rizki, 2013, Karakterisasi Senyawa Aktif Antioksidan dan Antibakteri dalam Ekstrak Etanol Buah Namnam (Cynometra cauliflora L.), Valensi, 3(1).

AMOEBIASIS



Amoebiasis merupakan suatu keadaan terdapatnya Entamoeba histolytica dengan atau tanpa manifestasi klinik, dan disebut juga sebagai penyakit bawaan makanan (Food Diseases) (Rasmaliah, 2003). Amoebiasis pada manusia dapat terjadi secara akut dan kronik. Amoebiasis memiliki gejala yang samar-samar, sehingga hampir tidak diketahui. Gejalanya bisa berupa diare yang hilang-timbul dan sembelit, banyak buang gas (flatulensi) dan kram perut. Bisa terjadi demam ringan. Diagnosis dilakukan  berdasarkan ditemukannya amuba pada sampel tinja penderita. Amuba penyebab amoebiasis tidak selalu ditemukan pada setiap sampel tinja, karena itu biasanya diperlukan pemeriksaan tinja sebanyak 3-6 kali.



1.      Epidemiologi

Prevalensi infeksi amuba di seluruh dunia bervariasi dari 5% sampai 81% dengan frekuensi tertinggi terutama ada di daerah tropis yang mempunyai kondisi lingkungan yang buruk, sanitasi perorangan yang jelek, dan hidup dalam kemiskinan. Manusia adalah penjamu alamiah (natural host) dan reservoir utama E. histolytica, meskipun pernah dilaporkan terdapat juga pada anjing, kucing, babi dan ikan. Diduga bahwa 12% dari populasi seluruh dunia terinfeksi E. histolytica (sekitar 480 juta orang). Amubiasis adalah penyebab ketiga kematian karena infeksi parasit secara global. Disentri amuba yang disebabkan oleh invasi mukosa usus terjadi jarang pada anak dibandingkan orang dewasa, demikian juga dengan penyebarannya. Disentri amuba terjadi kira-kira 1-17% dari subyek yang terinfeksi.

Walaupun sangat endemik di Afrika, Amerika latin, India dan Asia Tengara, amubiasis tidak semata-mata terbatas pada daerah tropik. Di Amerika Serikat, amubiasis telah diperkirakan terjadi dengan prevalensi 1-4 % pada kelompok risiko tinggi tertentu, termasuk orang-orang yang diasramakan dengan lama (penyakit invasif jarang pada AIDS), anak dengan retardasi mental, pekerja yang berpindah-pindah, imigran (terutama Meksiko), laki-laki homoseksual dan kelompok sosioekonomi rendah di Amerika serikat selatan serta yang telah berpergian dari daerah endemik.

Makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan kista E. histolytica dan kontak langsung fekal-oral adalah cara infeksi yang paling sering. Air yang tidak diolah dan tinja manusia yang digunakan sebagai pupuk merupakan sumber infeksi penting. Pedagang makanan yang mengidap kista amuba, dapat memainkan peran terhadap penyebaran infeksi. Kontak langsung dengan tinja yang terinfeksi juga dapat menyebabkan penularan dari orang ke orang.

Sumber infeksi terutama ‘carrier’ yakni penderita amebiasis tanpa gejala klinis yang dapat bertahan lama mengeluarkan kista dalam jumlah ratusan ribu per hari. Kista-kista tersebut mampu bertahan lama diluar tubuh, serta dapat menginfeksi manusia melalui saluran air yang buruk. Aliran air yang melalui tumbuhan seperti sayuran dan buah-buahan dapat menyebabkan penyakit terhadap orang-orang yang mengonsumsinya. Berikut beberapa masalah yang kerap mengakibatkan infeksi amebiasis:

a.       Penyediaan air bersih dan sumber air sering tercemar.

b.      Tidak tersedianya jamban mengakibatkan orang-orang buang air besar sembarangan yang akan di hinggapi oleh lalat atau kecoak.

c.       Tempat pembuangan sampah yang buruk dapat menjadi tempat perkembangbiakan lalat yang menjadi faktor mekanik infeksi amoeba.



2.      Etiologi

Entamoeba histolytica terdapat dalam dua bentuk, yaitu sebagai kista dan tropozoit. Infeksi amoeba pada amubiasis terjadi melalui kista parasit yang tertelan yang mengkontaminasi makanan atau minuman. Sedangkan tertelannya bentuk tropozoit tidak menimbulkan infeksi karena tidak tahan terhadap lingkungan asam dalam lambung.

Kista ini berukuran 10-18 µm, berisi empat inti, dan resisten terhadap keadaan lingkungan seperti suhu rendah dan kadar klorin yang biasa digunakan pada pemurniaan air, parasit dapat dibunuh dengan pemanasan 55 °C. Setelah penelanan, kista yang resisten terhadap asam lambung dan enzim pencernaan, masuk dan pecah dalam usus halus membentuk delapan tropozoit yang bergerak aktif, merupakan koloni dalam lumen usus besar dan dapat menimbulkan invasi pada mukosa, pada keadaan yang belum diketahui saat ini.

Trofozoit mempunyai diameter rata-rata 20 µm; sitoplasmanya terdiri atas zona luar yang jernih dan endoplasma dalam yang granuler padat, mengandung inti yang berbentuk sferis yang mempunyai kariosom sentral yang kecil dan bahan kromatin granuler yang halus. Endoplasma juga berisi vakuola, dimana eritrosit dapat ditemukan pada kasus amubiasis invasif. Lima spesies Amoeba nonpatogen lain yang dapat menginfeksi saluran pencernaan manusia; E. coli, E. hartmanni, E. gingivalis, E. moshkovskii, dan E. polecki.



3.      Patologi

Amubiasis dimulai dengan tertelannya bahan yang mengandung kista E. histolytica, kolonisasi oleh tropozoit terjadi di seluruh kolon, terutama di sekum dan kolon asendens, tetapi kurang pada rektosigmoid. Kolon transversum dan kolon desendens terkena bila semua kolon terkena infeksi. Sesudah periode waktu yang bervariasi dari beberapa hari sampai 30 tahun dapat terbentuk tropozoit yang berukuran 50 mm.

Lesi pertama biasanya merupakan ulkus kecil dengan diameter ± 1 mm, yang meluas hanya pada mukosa muskularis. Stadium berikutnya ialah pembentukan ulkus yang lebih dalam, dapat berdiameter sampai 1 cm dan meluas ke submukosa. Kadang-kadang terjadi perforasi melalui serosa dengan akibat terjadinya peritonitis. Nekrosis dapat meluas tetapi biasanya sedikit sekali peradangan. Edema lebih intensif, tetapi muksa di antara ulkus relatif normal, dan ini kontas terhadap enteritis karena bakteri dengan respons peradangan yang mencolok.

Jika ulserasi lebih ekstensif, maka edema di sekeliling ulkus menjadi bersatu (confluent) dan mukosa menyerupai gelatin. Jarang suatu respons peradangan berbentuk jaringan granulasi tanpa fibrosis. Ini yang disebut ameboma. Kadang-kadang ameboma akan mengisi lumen menimbulkan striktura atau obstruksi.



4.      Diagnosis Amebiasis

a.       Pemeriksaan laboratorium : Sampel tinja pasien akan diperiksa di laboratorium untuk menemukan adanya parasit histolytica. Pengambilan sampel untuk pemeriksaan ini idealnya dilakukan beberapa kali pada hari yang berbeda.

b.      Tes darah : Metode ini direkomendasikan dicurigai terdapat parasit histolytica di dinding usus atau organ tubuh lainnya. Tes ini juga dapat dilakukan untuk memeriksa kondisi terkait, seperti anaemia.

c.       Kolonoskopi : Dokter akan mengevaluasi kondisi kolon (usus besar) dan banyaknya parasit yang ada dengan menggunakan alat khusus seperti selang tipis yang dilengkapi kamera. Jika diperlukan, biopsi hati (pengambilan sampel jaringan hati untuk diperiksa di laboratorium) dapat sekaligus dilakukan dalam prosedur ini.

d.      Pemindaian, seperti CT scan atau USG, untuk memeriksa jika terdapat peradangan pada organ tertentu.

e.       Tes jarum : Tes ini biasanya dilakukan saat ada penumpukan nanah (abses) pada hati.



5.      Manifestasi Klinis

            Kebanyakan individu yang terinfeksi asimtomatik, dan kista ditemukan pada tinjanya. Gejala yang biasa terjadi adalah diare, muntah, dan demam. Tinja lembek atau cair disertai dengan lendir dan darah. Pada infeksi akut kadang-kadang ditemukan kolik abdomen, kembung, tenesmus dan bising usus yang hiperaktif. Invasi jaringan terjadi pada 2-8 % individu yang terinfeksi mungkin berhubungan dengan strain parasit atau status nutrisi dan flora usus.

            Manifestasi klinis dari amubiasis yang paling sering disebabkan oleh invasi lokal pada epitel usus dan penyebaran ke hati. Selain itu amubiasis juga mencakup dari infeksi amubiasis dari kista yang asimptomatik sampai kolitis amuba, disentri amuba, ameboma dan penyakit ekstraintestinal.

Infeksi E. histolytica tidak bergejala sama sekali pada 90% penderita, namun memiliki potensi untuk menjadi invasif sehingga hal tersebut memerlukan perawatan. Penyakit yang berat lebih banyak ditemukan pada anak yang lebih muda, wanita hamil, individu dengan malnutrisi dan penderita yang menggunakan kortikosteroid.



6.      Pengobatan Amebiasis

a.       Obat antibiotik, seperti metronidazole atau tinidazole, untuk membunuh bakteri yang ada di dalam hati atau organ lainnya. Obat ini biasa diberikan bersama dengan antiparasit, seperti diloxanide furoate.

b.      Obat antimual bagi penderita yang mengalami gejala mual dan muntah.

c.       Pasien amebiasis biasanya akan disarankan untuk mengonsumsi banyak air putih dan oralit untuk mengganti cairan yang hilang.

d.      Jika kondisi yang dialami cukup parah, dokter akan memberikan cairan infus di rumah sakit.

e.       Dalam kasus tertentu, tindakan operasi akan dilakukan jika terjadi pecahnya abses hati atau jika terdapat lubang di usus.

 

7.      Komplikasi Amebiasis

a.       Anemia atau perdarahan usus pada penderita yang mengalami radang usus besar.

b.      Hambatan pada usus dikarenakan gumpalan jaringan pada dinding usus.

c.       Pembentukan abses di dalam organ hati setelah bertahun-tahun terjangkit parasit histolytica.

d.      Infeksi pada organ yang terjangkit, termasuk otak dan sistem saraf pusat.

e.       Kematian.


8.      Pencegahan Amoebiasis

a.       Cuci tangan menggunakan sabun cair setelah buang air kecil atau buang air besar. Hal ini juga perlu dilakukan setelah mengganti popok bayi dan sebelum mengolah makanan.

b.      Cuci sayur atau buah sampai bersih sebelum dikonsumsi.

c.       Cuci peralatan masak sampai bersih sebelum digunakan.

d.      Rebus air hingga mendidih sebelum diminum.

e.       Jangan mengonsumsi susu atau produk olahannya, seperti keju, tanpa dimasak atau dipasteurisasi terlebih dahulu.

f.       Hindari mengonsumsi makanan atau minuman yang tidak terjamin kebersihannya, misalnya makanan yang dijual di pinggir jalan.

g.      Jangan berbagi pakai alat mandi, seperti handuk atau spons, dengan siapa pun.