BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Diare
merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih menjadi penyebab utama
tingginya morbiditas dan mortalitas pada anak di negara berkembang termasuk di
Indonesia. Pengertian diare itu sendiri menurut WHO yaitu buang air besar
dengan konsistensi cair sebanyak 3 kali atau lebih dalam 24 jam. Berdasarkan
etiologinya diare dapat disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri salah
satunya adalah bakteri Escherichia coli. Bakteri ini biasanya hidup
didalam usus manusia dan hewan. Upaya penatalaksanaan diare sebagian besar
dengan rehidrasi untuk mengganti cairan tubuh yang hilang, walaupun diare yang
berkelanjutan harus diatasi dengan pengobatan kausatif yang menggunakan antibiotik.
Pemberian antibiotik yang banyak ditemukan di apotek membutuhkan biaya yang
relatif mahal dan dapat menyebabkan efek samping bagi penderita diare.
Alternatif pengobatan lain adalah dengan tanaman obat.
Ramuan tanaman obat yang kemudian dikenal dengan sebutan obat herbal itu
telah terbukti khasiatnya dalam mengobati berbagai penyakit. Meluasnya kecenderungan
atau trend hidup kembali kealam (back to nature) semakin menambah keingintahuan
masyarakat tentang khasiat tanaman obat. Beragam jenis tanaman obat telah lama
digunakan secara tradisional kini dipopulerkan kembali.
Salah
satu obat tradisional yang sering digunakan untuk mengobati diare adalah daun jambu biji yang memiliki
kandungan senyawa tanin, flavonoid dan alkaloid. Jika dilihat dari kandungan
senyawa yang ada pada daun namnam, berdasarkan jurnal penelitian Fenty Waty
dengan judul penelitian “AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN NAMNAM (Cynometra
cauliflora L) TERHADAP Staphylococcus epidermidis” pada tahapan
skrining fitokimianya menyebutkan bahwa ekstrak daun namnam mengandung
flavonoid, tanin, alkaloid dan saponin. Mengingat samanya kandungan antara daun
jambu biji dengan daun namnam dapat diprediksi bahwa kemungkinan adanya
akivitas antidiare dari daun namnam.
B.
Rumusan Penelitian
Berdasarkan latar belakang diatas penyusun merumuskan masalah
sebagai berikut
1.
Bagaimana
aktivitas ekstrak daun namnam terhadap bakteri E.coli?
2.
Senyawa apa yang
terkandung dalam daun namnam yang memiliki aktivitas terhadap bakteri E.coli?
3.
Berapa
konsentrasi yang paling efektif dalam menghambat bakteri E.coli?
C.
Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah diatas, proposal penelitian ini disusun dengan
tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan :
1.
Untuk mengetahui
aktivitas ekstrak daun namnam terhadap bakteri E.coli;
2.
Untuk mengetahui
senyawa yang terkandung dalam daun namnam yang memiliki aktivitas terhadap
bakteri E.coli;
3.
Untuk mengetahui
konsentrasi ekstrak daun
namnam yang
paling efektif dalam menghambat bakteri E.coli.
D.
Manfaat Penelitian
Proposal penelitian ini disusun dengan harapan memberikan
manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis.
Secara teoritis proposal penelitian ini diharapkan dapat
bermanfaat sebagai pengembangan konsep pengobatan diare
menggunakan obat tradisional dan mengetahui aktivitas ekstrak daun namnam
terhadap bakteri E.coli.
Secara praktis proposal penelitian ini diharapkan dapat
bermanfaat dalam membantu perkembangan pengobatan tradisional terutama untuk penyakit
diare yang disebabkan
oleh Eschercia
coli dan proses penyembuhannya.
BAB
II TINJAUAN PUSTAKA
A.
Namnam (Cynometra cauliflora L)
Gambar 1.1 Pohon Namnam
Namnam
(Cynometra cauliflora L) merupakan tanaman dari keluarga Fabaceae yang
tersebar di Asia Tenggara dan India. Tanaman ini kurang dimanfaatkan tetapi
memiliki nilai medis sebagai obat-obatan tradisional dan dibudidayakan sebagai
tanaman hias oleh masyarakat di pedesaan karena daunnya rimbun serta daun
mudanya yang berwarna merah muda yang terlihat menarik (Ikram et al., 2009; Sastrapradja et al.,
1977).
1.
Klasifikasi
Divisi :
Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas :
Dicotyledonae
Bangsa : Fabales
Suku :
Fabaceae
Sub suku : Caesalpinioideae
Genus :
Cynometra
Spesies : Cynometra cauliflora, L.
2.
Morfologi
Namnam
tersebar dari India, Malaysia hingga ke Indonesia. Tanaman ini tumbuh baik pada
dataran rendah dan tanah yang subur, serta tempat-tempat tebuka dan datar.
Tanaman namnam memiliki batang yang berbenjol-benjol dan tumbuh tinggi hingga
mencapai 12m. Daunnya berbentuk bulat panjang, pada waktu mudanya berwarna
merah muda atau merah keputih-putihan. Bunganya tumbuh dari batang, berbentuk
kecil dan berwarna putih kemerah-merahan atau merah muda pucat. Buahnya
berwarna hijau kekuning-kuningan atau hijau kecoklatan dan berbentuk seperti
ginjal pipih. Daging buahnya harum dan berwarna putih kekuning-kuningan dengan
rasa asam-asam manis. Tanaman namnam ini berbunga pada bulan Juni hingga
September dan berbuah masak pada bulan Agustus hingga November (Sastrapradja et
al., 1977).
3.
Kandungan Senyawa Kimia
Bagian
daun, batang dan kulit kayu dari tumbuhan namnam mengandung senyawa tanin,
saponin, flavonoid, terpenoid dan cardiac glycosides (Aziz dan Iqbal, 2013).
Sementara kandungan gizi buah namnam per 100 g bagian yang dapat dikonsumsi
adalah air 85 g; protein 1,5 g; lemak 0,06-1,28 g; karbohidrat 10 g; serat 1,4
g; vitamin A 150-500 I.U.; dan vitamin C 25 mg (Sastrapadja et al., 1977).
Menurut Sukandar dan Amelia (2013), ekstrak etanol buah namnam mengandung
senyawa golongan triterpenoid, flavonoid dan saponin. Selain itu, ekstrak
etanol buah namnam memiliki aktivitas antioksidan sebesar 328,29 ppm. Sementara
menurut Rabeta dan Nur (2013), ekstrak air dan ekstrak metanol buah namnam
memiliki kandungan fenol total sebesar 98,79 mg EAG/100 g sampel dan 847,31 mg
EAG/100 g sampel, sedangkan aktivitas antioksidannya diukur dengan metode FRAP
masing-masing sebesar 7197,22 µM/g sampel dan 19397,22 µM/g sampel. Penelitian
lain juga menyebutkan bahwa kandungan fenolik total ekstrak etanol buah namnam
sebesar 1868,94 mg EAG/100g sampel dan aktivitas antioksidan yamg diukur dengan
metode β-carotene bleaching assay sebesar 45,95% (Ikram, et al.,2009).
4.
Kegunaan
Pohon
namnam banyak ditanam sebagai penghias halaman orang Eropa, karena daunnya yang
rimbun dan daun mudanya yang berwarna merah muda atau merah keputih-putihan
yang terlihat menarik. Selain itu, beberapa bagian tanaman namnam mempunyai
manfaat yang menguntungkan. Kayu namnam yang padat dan mata kayunya yang keras
sering dibuat gasing. Rebusan daun muda namnam berkhasiat meringankan gejala
diare. Buah namnam yang telah matang dimasak dengan anggur dan gula merupakan
makanan yang enak dan sehat. Selain itu, buahnya dapat dimakan langsung atau
dijadikan rujak, asinan dan dimakan bersama sambal (Sastrapradja et al., 1977;
Heyne, 1987).
B.
Escherchia
coli
Escherichia
coli merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang pendek yang memiliki panjang
sekitar 2 µm, diameter 0,7 µm, lebar 0,4-0,7µm dan bersifat anaerob fakultatif.
E. coli membentuk koloni yang bundar, cembung, dan halus dengan tepi
yang nyata (Smith-Keary, 1988 ; Jawetz et al., 1995).
1.
Manfaat dan Patogenesitas
E.
coli adalah anggota flora normal usus. E. coli
berperan penting dalam sintesis vitamin K, konversi pigmen-pigmen empedu,
asam-asam empedu dan penyerapan zat-zat makanan. E. coli termasuk ke
dalam bakteri heterotrof yang memperoleh makanan berupa zat oganik dari
lingkungannya karena tidak dapat menyusun sendiri zat organik yang
dibutuhkannya. Zat organik diperoleh dari sisa organisme lain. Bakteri ini
menguraikan zat organik dalam makanan menjadi zat anorganik, yaitu CO2,
H2O, energi, dan mineral. Di dalam lingkungan, bakteri pembusuk ini
berfungsi sebagai pengurai dan penyedia nutrisi bagi tumbuhan (Ganiswarna,
1995).
E.
coli menjadi patogen jika jumlah bakteri ini dalam saluran pencernaan
meningkat atau berada di luar usus. E. coli menghasilkan enterotoksin
yang menyebabkan beberapa kasus diare. E. coli berasosiasi dengan
enteropatogenik menghasilkan enterotoksin pada sel epitel (jawetz et al.,
1995).
Manifestasi
klinik infeksi oleh E. coli
bergantung pada tempat infeksi dan tidak dapat dibedakan dengan gejala
infeksi yang disebabkan oleh bakteri lain (jawetz et al., 1995). Penyakit yang
disebabkan oleh E. coli yaitu :
1.1
Infeksi saluran kemih
E.
coli merupakan penyebab infeksi saluran kemih pada kira-kira
90 % wanita muda. Gejala dan tanda -tandanya antara lain sering kencing,
disuria, hematuria, dan piuria. Nyeri pinggang berhubungan dengan infeksi
saluran kemih bagian atas.
1.2
Diare
E.
coli yang menyebabkan diare banyak ditemukan di seluruh dunia.
E. coli diklasifikasikan oleh ciri khas sifat-sifat virulensinya, dan
setiap kelompok menimbulkan penyakit melalui mekanisme yang berbeda. Ada lima
kelompok galur E. coli yang patogen, yaitu :
a.
E. coli Enteropatogenik
(EPEC)
EPEC
penyebab penting diare pada bayi, khususnya di negara berkembang. EPEC
sebelumnya dikaitkan dengan wabah diare pada anak-anak di negara maju. EPEC
melekat pada sel mukosa usus kecil.
b.
E. coli Enterotoksigenik
(ETEC)
ETEC
penyebab yang sering dari “diare wisatawan” dan penyebab diare pada bayi di
negara berkembang. Faktor kolonisasi ETEC yang spesifik untuk manusia
menimbulkan pelekatan ETEC pada sel epitel usus kecil.
c.
E. coli Enteroinvasif
(EIEC)
EIEC
menimbulkan penyakit yang sangat mirip dengan shigelosis. Penyakit yang paling
sering pada anak-anak di negara berkembang dan para wisatawan yang menuju
negara tersebut. Galur EIEC bersifat non-laktosa atau melakukan fermentasi
laktosa dengan lambat serta bersifat tidak dapat bergerak. EIEC menimbulkan
penyakit melalui invasinya ke sel epitel mukosa usus.
d.
E. coli Enterohemoragik
(EHEK)
EHEK
menghasilkan verotoksin, dinamai sesuai efek sitotoksisnya pada sel Vero, suatu
ginjal dari monyet hijau Afrika.
e.
E. coli Enteroagregatif
(EAEC)
EAEC
menyebabkan diare akut dan kronik pada masyarakat di negara berkembang.
1.3
Sepsis
Bila
pertahanan inang normal tidak mencukupi, E. coli dapat memasuki aliran darah dan
menyebabkan sepsis.
1.4
Meningitis
E.
coli dan Streptokokus adalah penyebab utama meningitis
pada bayi. E. coli merupakan penyebab pada sekitar 40% kasus meningitis
neonatal (Jawetz et al., 1996).
BAB III METODE PENELITIAN
A.
Alat dan Bahan
|
1. Alat
|
2. Bahan
|
|
·
Alat
ekstraksi
·
Tabung
reaksi
·
Rotary
epavorator
·
Cawan
petri
·
Penggaris
·
Bunsen
·
Ose
·
Korek
api
·
Spatula
besi
·
Mikro
pipet
·
Vortex
·
Autoklaf
·
Tisu
·
Laminar
air flow
·
Timbangan
|
·
Daun
namnm
·
Etanol
96%
·
H2SO4
·
Media
agar darah
·
Larutan
Mc Farland 0,5%
·
Biakan
Escherchia coli
·
Cakram
amoxicillin
|
B.
Prosedur Penelitian
1. Tahap Persiapan
1.1 Pembuatan ekstrak daun namnam
Tumbuhan
daun namnam (Cynometra
cauliflora L) dikumpulkan dalam keadaan segar, dicuci, kemudian diangin-anginkan,
lalu digerus dan di ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut
ethanol 96% selama kurang lebih 5 hari dengan pengadukan. Selanjutnya maserat
yang diperoleh diuapkan dengan rotary evaporator dengan suhu 45oC
untuk memperoleh ekstrak kental.
Kerangka
prosedur pengerjaan
1.2 Pembuatan stok variabel konsentrasi
Setelah
ekstrak diperoleh, selanjutnya dibuat stok variabel dengan berbagai konsentrasi
dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas optimum yang dapat dihasilkan oleh
ekstrak daun namnam.
Dimana variabel yang dibuat ada 7 variasi, yang pertama untuk kontrol positif
digunakan cakram loperamide,
kontrol negatif digunakan etanol, kemudian konsentrasi ekstrak divariasikan
mulai dari 20%, 30%, 50%, 75% dan 100%.
Kerangka
prosedur pengerjaan
1.3 Kultur bakteri Escherchia
coli
Dibuat
terlebih dahulu kultur dari bakteri Escherchia coli dengan
cara ambil 1 mata ose biakan murni Escherchia coli
lalu pindahkan ke media agar darah
lakukan secara aseptis, selanjutnya diinkubasi pada suhu 37oC selama
24 jam didalam inkubator.
Kerangka prosedur
pengerjaan
2. Tahap Pengujian
2.1 Skrining fitokimia
Setelah
ekstrak diperoleh selanjutnya dilakukan skrining fitokimia terlebih dahulu
dengan tujuan untuk mengidentifikasi senyawa yang terkandung didalam ekstrak,
dengan cara ekstrak dimasukan ke dalam tabung reaksi lalu ditambahkan reagen tertentu dan selanjutnya
diamati perubahan warnanya. Skrining
fitokimia yang dilakukan diantaranya uji alkaloid, flavonoid, tanin, steroid,
terpenoid, saponin dan fenolik.
Kerangka prosedur pengerjaan
2.2 Uji aktivitas
ekstrak daun namnam
terhadap Escherchia coli
Uji aktivitas
ekstrak terhadap Escherchia coli
dilakukan dengan
cara bakteri diencerkan dengan mencampurkan 1 mata ose suspensi biakan yang
telah berisi Thioglikolat lalu homogenkan dengan vortex dan standarisasi dengan
0,5 Mc Farlang agar jumlahnya memenuhi untuk uji kepekaan, lalu cakram uji yang
direndam pada masing-masing konsentrasi diletakan diatas permukaan agar secara
higienis didalam laminar air flow, lalu oleskan larutan bakteri pada media
pertumbuhan agar darah Inkubasi media didalam incubator pada suhu 37oC
selama 24jam dan keesokan harinya diameter zona terang (clear zone) diukur dengan
menggunakan penggaris
Kerangka prosedur pengerjaan
DAFTAR
PUSTAKA
Aziz, A.F.A. dan Iqbal, Mohammad, 2013, Antioxidant
activity and phytochemical composition of Cynometra cauliflora, Journal of
Experimental Integrative Medicine.
Ganiswarna S. G, 1995 , Farmakologi
dan Terapi, ed. 4, UI -Fakultas Kedokteran, Jakarta.
Heyne, K., 1987, Tumbuhan Berguna Indonesia I,
Jilid I, diterjemahkan oleh Badan Litbang Departemen Kehutanan, Yayasan
Sarana Warna Jaya, Jakarta.
Ikram, E.H.K., et al., 2009, Antioxidant Capacity
And Total Phenolic Content Of Malaysian Underutilized Fruits, Journal of
Food Composition and Analysis.
Jawetz E., J. L. Melnick, E. A. Adelberg, G. F.
Brooks, J. S. Butel, L. N. Ornston, 1995, Mikrobiologi Kedokteran, ed. 20,
University of California, San Francisco
Rabeta, M.S. dan Nur Faraniza, R., 2013, Total
Phenolic Content And Ferric Reducing Antioxidant Power Of The Leaves And Fruits
Of Garcinia Atrovirdis And Cynometra Cauliflora, International Food
Research Journal.
Sastrapradja, et al., 1977, Buah-buahan, Proyek
Sumber Daya Ekonomi,
Lembaga Biologi Nasional-LIPI, Bogor.
Smith-Keary P. F., 1988, Genetic Elements in
Escherichia coli, Macmillan Molecular biology series, London, p.
Sukandar, Dede dan Amelia, Eka Rizki, 2013, Karakterisasi
Senyawa Aktif Antioksidan dan Antibakteri dalam Ekstrak Etanol Buah Namnam (Cynometra
cauliflora L.), Valensi, 3(1).